Chapter II-33

1037 Kata
Lagi-lagi Noah merasa mood-nya jadi semakin buruk setelah berinteraksi dengan Igris. Ia sendiri tak tahu apa yang membuat Igris sangat sulit disukai di matanya. Barusan tadi Noah sebenarnya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada Heru yang sudah berhasil menyadarkan Noah tentang sifatnya selama ini. Noah tahu bagaimana sulitnya bicara dengan ayahnya, Nirwan. Ia tahu bagaimana lelaki itu sangat keras kepala dan nyaris tak mau mendengarkan perkataan orang lain. Tapi, yang tidak diketahui Noah adalah bahwa ternyata, di mata orang lain, Noah juga seperti itu. Smartphone di saku celana training Noah berdering saat Noah baru saja sampai di ambang pintu keluar aula. Nama yang tertera di layar hp-nya itu adalah Lisa. Benar, Noah lupa menjawab pesannya waktu itu. Lisa pasti menelepon untuk bertanya mengenai jawaban Noah. “Halo.” Noah mengangkat panggilan telepon setelah mempersiapkan hatinya untuk mendengar omelan dari teman masa kecilnya itu. “Lagi sibuk, ya? Aku ganggu, nggak?” Di luar dugaan, Lisa ternyata sangat pengertian. Alih-alih menyemprot Noah karena tak membalas pesannya – dulu biasanya Lisa selalu seperti itu – kali ini ia terdengar berusaha menahan diri dan bersikap lebih dewasa. “Baru kelar latihan. Sorry, aku lupa balas pesanmu,” ujar Noah sambil melanjutkan langkahnya meninggalkan aula basket. “Nggak pa-pa, aku maklum kok. Jadi gimana?” balas Lisa, “kamu bisa nemanin aku, kan?” “Ah … iya soal itu, sebenarnya ….” Noah menunda kalimatnya karena ia melihat Luna sedang berlari kecil menghampirinya. “Sebentar. Nanti aku telepon lagi, ya.” Ia memutuskan untuk menyudahi dulu obrolannya dengan Lisa. “Kamu lagi nelepon?” tanya Luna saat ia sudah berhasil menyamakan langkah dengan Noah meninggalkan gedung aula basket. “Nggak, udah selesai kok,” jawab Noah sambil menyimpan kembali hp-nya ke saku celana. “Oh … btw, hari Minggu nanti jadi temanin aku, kan?” “Ha? Ke mana?” “Loh? Kan kemaren aku udah bilang aku mau minta temanin nyari kado buat Kak Ahsan. Masa’ lupa sih?” “Iya, tapi aku nggak ingat pernah bilang mau nemanin tuh.” “Hei! Jangan macam-macam kamu, ya!” omel Luna mulai jengkel, “kemarin kan kita udah ngomongin ini panjang lebar. Aku juga udah bilang sama Juan kalau minggu ini aku bakal belanja keperluan klub bareng kamu. Karena memang kupikir kita bisa belanja sekalian nyari kado. Gimana sih kamu?!” “Emang kita udah sepakat?” Luna memukul lengan Noah lumayan keras saking kesalnya. “Kan kemarin kamu sendiri yang bilang iya!” Noah mencoba mengingat-ingat. Apa mungkin waktu dia ngobrol dengan Luna hari itu, Noah begitu menikmati obrolan mereka, saling bercanda tawa sampai tanpa sadar ia meng-iya-kan ajakan Luna? “Jadi, mau nggak nih?!” desak Luna lagi. “Bentar.” Noah mengeluarkan hp dari saku celananya lagi dan mengetik sesuatu. Ia terlihat tak mengetik banyak, karena hanya sebentar saja ia sudah mengantongi hp itu kembali, lalu menjawab Luna, “Ok. Minggu nanti kita jalan.” “Ini buat belanja keperluan klub ya. Jangan salah paham kamu,” ancam Luna sambil mengacungkan telunjuknya ke dekat hidung Noah. “Iya, tahu. Cerewet amat nenek lampir.” “Awas kalau kamu sampai ngasih tahu ke siapa-siapa soal rencanaku mau beli kado.” “Iya, iya. Bawel,” Noah berlagak kesal, “upahnya apa dong? Masa’ aku udah capek-capek nemanin belanja, sampai bantuin nyari kado, terus nutupin rahasia lagi, malah nggak dapat apa-apa?” “Ya udah nanti aku traktir.” “Traktir apa?” “Kamu sejak kapan sih jadi banyak omong kayak gini?!” Luna protes sambil melompat ke punggung Noah dan berpura-pura seperti akan mencekiknya dari belakang. Di sisi lain, Lisa baru saja mendapatkan pesan balasan dari Noah yang mengatakan; “Sorry, Minggu ini aku nggak bisa. Next time aja, ya.” Lisa menghela napas kecewa sambil menunjukkan pesan balasan dari Noah kepada seseorang di sebelahnya, Raka. Tadi ia sengaja berkunjung ke rumah Noah untuk meminta saran Dian – bundanya Noah dan Raka, yang memang merupakan pendukung nomor satu hubungan Noah dan Lisa. Sayangnya, waktu ia datang, Dian sedang tidak ada di rumah. Tapi Lisa menemukan Raka yang sedang asyik menonton tv di ruang keluarga rumah itu. Lisa pun langsung duduk menghempas di sebelah Raka, siap untuk menerima pertanyaan dari cowok itu. “Kenapa lagi sih?” Sesuai perkiraan, Raka mengeluarkan pertanyaan untuk Lisa yang sedang memasang tampang cemberut. “Noah itu loh! Nyebelin banget,” sambar Lisa langsung. Ia sangat siap memuntahkan keluh kesahnya. “Noah lagi … Noah lagi.” Raka terlihat bosan menghadapi situasi itu, dan menanggapi Lisa dengan acuh tak acuh sambil mengganti channel tv. “Aku ngajakin dia nonton, chatku malah nggak dibalas-balas!” “Lagi sibuk kali,” sahut Raka tanpa mengalihkan perhatian dari layar tv di hadapannya. “Sesibuk apa sih sampai nggak sempat balas pesanku? Tinggal bilang iya atau nggak aja apa susahnya? Dia kira enak apa digantung tanpa kepastian kayak gini?” “Cieee … yang lagi galau,” Raka malah menanggapi dengan candaan sambil mengucek-ucek rambut Lisa, “coba telepon lagi aja. Jam segini biasanya dia udah kelar latihan tuh.” Akibat dari saran Raka itulah, Lisa menelepon Noah sore ini dan malah mendapatkan penolakan dari Noah. “Tumben banget tuh anak, biasanya dia nggak bakal ngelewatin kesempatan dapat traktiran dari kamu,” komentar Raka sambil membenarkan posisi duduknya yang awalnya leyeh-leyeh; kali ini ia duduk lebih tegak karena suasananya sudah mulai serius. “Kan? Aneh, kan? Mana dia kayak nunda-nunda gitu lagi ngasih jawabannya,” balas Lisa. “Apa jangan-jangan dia udah punya pacar di Cendana?” Raka menggumamkan kecurigaannya, dan itu membuat Lisa jadi panik. “Masa’ sih, Kak?” rengekannya terdengar memelas. “Ya, kamu sih. Disuruh nembak dari dulu-dulu nggak mau. Sekarang Noah itu makin beken loh, tampangnya juga lumayan cakep. Jelas banyak cewek-cewek yang ngantri.” “Malu dong, Kak. Masa’ cewek yang nembak duluan?” “Dih … hari gini? Mana ada yang peduli siapa yang nembak duluan,” balas Raka sambil tertawa renyah. “Terus aku harus gimana dong?” “Nanti aku coba tanya Noah pelan-pelan. Tapi … kalau memang Noah udah punya pacar di Cendana, kamu janji harus ikhlas, ya?” Meski wajah Lisa masih manyun dan jelas nggak rela, tapi ia tetap mengangguk dan menyanggupi persyaratan Raka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN