Chapter II-32

1156 Kata
“Aku juga salah sih. Harusnya aku pass ke Kak Dirga, bukannya malah ngirim bola setinggi itu ke dekat ring.” Noah setengah bergumam, membuat semua yang berada di ruang ganti itu nyaris tak bisa mempercayai apa yang baru saja mereka dengar. Noah mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada rekan setimnya. Hal yang mungkin selama ini tak akan pernah muncul di imajinasi siapapun yang mengenal Noah. Padahal, tentu saja, tak banyak yang tahu kalau aslinya Noah itu berhati lembut. Ia sebenarnya menyadari kesalahannya. Karena ia terlalu terbiasa bermain bersama Red Phantom, sebuah tim yang berisikan para pemain-pemain hebat yang akan selalu bisa mengimbangi permainannya, tanpa sadar Noah jadi merasa kalau rekan-rekan di tim Cendana juga bisa dengan mudah menyambut bola di atas ring. Padahal, bagi anak SMA, alley oop itu bukanlah hal yang lazim, karena itu termasuk teknik yang sulit. Standarnya Noah saja yang sudah terlanjur ketinggian gara-gara Red Phantom. “Sorry, udah bikin mood kalian jadi makin buruk hari ini,” ujar Noah lagi sambil berbalik dan kembali menghadap ke lokernya sendiri. “Dan kamu juga …” Noah menoleh ke sebelahnya – dimana Zikri masih melongo menatapnya. “Sorry udah marah-marah nggak jelas,” sambung Noah lagi. Zikri langsung gelagapan menggeleng-gelengkan kedua telapak tangannya. “Nggak pa-pa kok, aku senang kalau kamu merhatiin permainanku. Aku juga terbuka banget sama berbagai masukan, apalagi kalau masukannya dari kamu. Soalnya aku sadar kalau kemampuanku masih amat sangat kurang.” “Kalau kamu sadar kemampuanmu kurang, harusnya kamu ngapain?” tanya Noah kemudian, seperti sedang mengetes Zikri. “Aku harusnya berlatih lebih keras,” jawab Zikri yakin sambil mengepalkan tangannya. “Ya, intinya kerja keras. Jangan malas, pasti ada hasilnya,” ujar Noah sambil mulai kembali membereskan barang-barang lokernya, “kebanyakan orang yang berbakat merasa gak perlu latihan keras, dia kira bakatnya aja udah bisa mengungguli orang yang cuma modal latihan keras.” “Siapa? Siapa?” Igris tiba-tiba menyahut kepo. “Kamu,” jawab Noah singkat, padat, dan tanpa perasaan. “Eh …? Kok gitu? Aku juga latihan keras loh. Apa ini karena tinggi badanku yang nggak naik naik? Tapi memang DNA keluargaku gak ada yang berbadan tinggi sih. Jadi … ya apa boleh buat.” “Orang yang dari awal udah punya fisik bagus, punya keluarga kaya raya, berbakat dan genius pula’. Mana mungkin ngerti sama perjuangan kita yang udah mati-matian berlatih.” Heru dan segala celetukannya yang provokatif. “Kalau kamu segitu gak senangnya ngelihat aku, kenapa kamu gak dilahirkan jadi anak orang kaya juga?” sambar Noah. “Entah udah berapa kali aku ketemu dengan orang kayak kamu, dan aku harus selalu mengatakan hal yang sama. Bukan tanggung jawabku untuk menyembuhkan sifatmu yang merasa inferior dan minderan cuma gara-gara melihat orang lain lebih hebat dari kamu.” “Hei! Kamu itu kenapa gampang banget tersinggung sih?” Heru naik pitam lagi, “padahal aku ngomong gitu maksudnya buat memuji kamu, tahu?!” “Kalau kamu memuji orang dengan cara begitu, pantas aja kamu jadi orang yang ngeselin,” balas Noah. “Lagian kita kan bahas soal berlatih keras, komentarmu tentang aku tadi sama sekali nggak ada hubungannya. Semua orang juga pasti memulai dari nol. Tapi naik atau nggaknya kemampuan kalian itu tergantung dari mau atau nggaknya kalian bekerja keras. Kalo setengah-setengah doang mana mungkin bisa.” “Kamu kira semua yang ada di sini nggak kerja keras?” Heru menutup pintu lokernya dengan kasar dan siap menghadapi Noah. “Kami semua juga berusaha, jangan sembarangan kamu meremehkan usaha keras kami. Tapi tetap aja, gak selamanya kerja keras itu membuahkan hasil yang diharapkan.” “Aduh … ini anak berdua kenapa nggak pernah akur sih?” keluh Ello yang sudah siap beres-beres dan bermaksud ingin segera meninggalkan ruangan. Tapi panggilan Heru yang tiba-tiba membuat Ello mengurungkan niatnya. “Kak Ello, gimana menurut Kakak?!” Heru sedang mencari pendukung argumennya. “A-apa? Gimana?” Ello yang mendadak dihadapkan pada pertanyaan begitu pun jadi gelagapan. “Aku tahu Kakak selalu datang lebih pagi untuk melatih tembakan jarak jauh Kakak. Kak Dirga juga,” kali ini Heru menatap Dirga yang juga sama kagetnya dengan Ello, “Kak Dirga itu adalah bagian dari mereka yang elalu datang paling pagi dan pulang paling lama. Dia juga paling rajin mengamati pertandingan lawan, dia dan Kak Ello bersama anak-anak kelas 11 lainnya itu bahkan punya program latihan mereka sendiri.” Noah masih belum menangkap ke mana arah pembicaraan Heru ini, sebelum kemudian Heru melanjutkan. “Tapi kenapa yang masuk tim inti itu Kak Wahyu dan Kak Yuda? Padahal Kak Dirga dan lainnya berlatih sama kerasnya. Mereka juga bekerja keras, tapi tetap aja level dan kemampuan orang itu berbeda-beda. Ngerti kamu?” Oh … Noah seolah baru saja tersadarkan. Heru benar. Selama ini, Noah tanpa sadar menerapkan standarnya kepada semua orang. Kepada Raka, kepada Igris, kepada Zikri, dan yang lainnya juga. Padahal harusnya Noah tahu, tidak ada yang namanya “semua orang mulai dari titik nol.” Tidak. Itu adalah omong kosong yang selama ini orang-orang coba untuk percayai. Tidak semua orang memulai kehidupannya dari titik nol. Lingkungan yang nyaman dan kehidupan yang mewah sudah pasti akan menguntungkan beberapa orang. Kondisi ekonomi keluarga yang baik, koneksi dan informasi yang mudah didapatkan juga sudah pasti menjadi salah satu faktor yang menguntungkan beberapa orang. Itu adalah beberapa bukti untuk menggambarkan bahwa jika kehidupan diibaratkan sebagai sebuah perlombaan lari, maka tidak semua orang memulai perlombaan lari ini dari garis start yang sama. Ada hal-hal tertentu yang dinamakan privilage[1], dan itu adalah sebuah fakta yang tak bisa dihindari. “Ok, sorry,” cetus Noah tiba-tiba, setelah beberapa detik suasana hening tadi. Noah menyambar duffel bag-nya dan melangkah menuju pintu keluar. Saat ia berpapasan dengan Dirga dan Ello yang kebetulan juga berada di dekat pintu, Noah kembali meminta maaf. “Aku nggak bermaksud meremehkan usaha dan kerja keras kalian. Maaf ya Kak.” “Eh … nggak kok. Kamu nggak perlu minta maaf.” Dirga buru-buru memperbaiki suasana hati Noah. “Iya, ini cuma salah paham deh kayaknya.” Ello juga ikut menenangkan Noah. “Makasih, Kak. Aku juga janji akan berlatih lebih keras lagi,” ujar Noah penuh tekad. “Hei, nggak usah latihan lebih keras lagi juga,” Igris menimpali sambil berusaha menceriakan suasana kembali, “kalau kamu berlatih lebih keras lagi, kapan dong kami bisa nyusul kamu?” Tapi Noah tak merasa ucapan Igris itu alaha bentuk sebuah hiburan untuknya, jadi ia sama sekali tak terkesan. Noah pun akhirnya hanya berpamitan kepada dua senior yang ada di hadapnnya sebelum akhirnya meninggalkan ruangan. . ___ ___ ___ ___ ___ [1] Privilage adalah hak istimewa, keuntungan, atau perlakuan khusus yang dimiliki seseorang atau kelompok tertentu, biasanya karena posisi sosial, status, atau kekuasaan yang mereka miliki. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan ketidaksetaraan yang terjadi dalam masyarakat, di mana beberapa orang atau kelompok memiliki akses atau kesempatan lebih besar daripada yang lain karena berbagai faktor seperti ras, gender, kelas sosial, atau latar belakang ekonomi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN