Tim inti Cendana yang dipimpin Ahsan, bermain sangat ngotot dan tanpa ampun melawan tim lapis kedua yang dipimpin Dirga.
Hasilnya, skor tim lapis kedua di-double oleh tim inti. Para senior benar-benar bermain serius dan wajah-wajah mereka juga terlihat sangat tegang.
Padahal biasanya di sesi latihan seperti ini, mereka sering mengatakan sesuatu yang mengundang tawa. Saling ejek dan bercanda. Tapi kali ini, tak ada seorang pun dari tim inti yang terlihat berwajah santai.
Bola yang baru saja direbut Noah, ia oper kepada Zikri, tapi baru satu kali Zikri melakukan dribble, bolanya langsung direbut oleh Yuda yang dengan cepat mengoper kepada Wahyu.
Saat menyerang, passing yang dilakukan tim inti Cendana hampir tak terlihat, mereka terus bergerak hingga Noah dan yang lainnya jadi kesulitan memperkirakan, apakah para senior itu akan mencetak angka dari low post atau melakukan tembakan jarak jauh.
Setelah bola dioper ke sana kemari dan membingungkan pertahanan, passing pun berakhir di tangan Dewa yang memang sudah mendapatkan posisi di luar garis 3 poin. Tanpa jeda, Dewa langsung melompat dan shoot.
Lagi-lagi angka bertambah untuk tim inti, dan Coach Adam pun merasa sudah cukup melihat apa yang ingin ia lihat. Jadi ia menyudahi pertandingan itu.
Tim para senior Cendana memang bukan lawan yang mudah. Meski Noah dan yang lainnya juga bermain sangat baik, tapi kemampuan mereka masih belum cukup untuk mengalahkan tim inti kebanggaan SMA Cendana itu.
Mood Noah jadi ikut memburuk setelah latihan selesai. Ia adalah orang yang selalu kesal jika sesuatu tidak berjalan sesuai yang diinginkannya. Meski ia tahu wajar timnya yang dipimpin Dirga itu masih kalah dari tim Ahsan, tapi tetap saja Noah merasa jengkel.
Noah sedang mengambil barang-barangnya dari loker saat Zikri – yang lokernya kebetulan bersebelahan dengannya – muncul di samping Noah sambil mengelap keringat.
“Kamu kira gampang apa ngerebut bola dari tim lawan?” Noah menggerutu tanpa bisa menyembunyikan ketidakpuasannya, “jangan seenaknya saja buang-buang kesempatan,” omelnya lagi pada Zikri, orang yang tadi kehilangan bola saat baru saja mendapatkan passing dari Noah.
Zikri tampak kaget karena tiba-tiba mendapatkan teguran seperti itu.
“So-sorry, aku bakal nambah jam latihan khusus untuk melatih ball handling[1].” Zikri adalah orang yang berbadan tinggi besar dan mendapat kepercayaan untuk menjadi centre No. 2 tim Cendana. Tapi, di hadapan Noah ia mengerutkan tubuhnya seperti ingin tampak kecil, ia bahkan tak berani mengangkat wajahnya.
Noah jadi agak merasa bersalah, tapi ia juga masih kesal. Jadi ia hanya mendecakkan lidah dongkol sambil melempar handuknya ke dalam loker.
Setelah Juan, Ahsan dan Dewa lulus nanti, Noah merasa kalau kekuatan Cendana akan merosot jauh jika tak ada yang bisa – minimal – sedikit mengimbangi kemampuan ketiga senior itu.
Noah mengakui keunggulan Igris, jadi untuk pengganti Dewa seharusnya tak akan ada masalah. Sementara itu, Dirga hampir tak bisa diharapkan untuk menyamai kemampuan Ahsan. Jadi mungkin Coach Adam akan menunjuk PG baru, jika Dirga sama sekali tak menunjukkan perkembangan.
Untungnya tim Cendana masih memiliki Yuda dan Wahyu sebagai penyeimbang. Tapi untuk posisi center, Noah menaruh harapan yang besar kepada Zikri.
Ia ingin Zikri yang menggantikan Juan sebagai center utama tim Cendana.
Sayangnya, Noah harus mengakui kemampuan Heru saat ini masih lebih unggul dari Zikri.
Tapi mengingat bagaimana ia dan Heru – yang sama-sama berwatak keras – sering bertengkar bahkan karena hal-hal sepele, Noah jadi tak sudi berada satu tim dengan orang itu.
Ditambah lagi, Noah merasa sangat dekat dengan Zikri. Ia jauh lebih ingin bermain basket bersama Zikri sekaligus memberikannya kesempatan untuk masuk ke dalam squad utama. Noah yakin Zikri juga tak kalah berbakat dari Heru. Kalau Zikri berlatih lebih keras lagi, bukan tidak mungkin kemampuannya bisa mengungguli Heru.
Namun, tentu saja Noah sadar kalau urusan tim jauh lebih penting dibandingkan dengan perasaan pribadi. Itu sebabnya ia jadi berpikir untuk memberikan saran kepada Coach Adam, agar mempertimbangkan Heru sebagai center lapis kedua tim Cendana.
“Noah, jangan begitu. Zikri juga udah berusaha keras,” nasihat Dirga.
Siswa kelas 11 yang menanggung beban berat akibat disebut-sebut sebagai pengganti Ahsan itu, menyadari kalau kondisi di klub basket ini berubah menjadi panas setelah menonton video wawancara Bima Sakti tadi.
Tak hanya para senior yang jadi beringas di lapangan, anggota yang lain pun ikut merasakan ketegangan yang sama.
“Aku juga mau minta maaf,” sambung Dirga lagi, “tadi waktu kamu ngirim bola ke dekat ring, harusnya itu bisa jadi alley oop[2], padahal timingnya udah pas banget. Kalau aja aku bisa lompat lebih tinggi dan membuat alley oop yang bagus.”
“Kakak ngomong apa sih?” sanggah Noah, “bolanya kan tetap berhasil masuk. Walaupun Kakak cuma pakai lay up biasa, siapa peduli? Apapun gaya tembakannya, angka yang bertambah juga sama aja. Jadi nggak perlu maksa untuk membuat penonton terkesan dengan gaya-gaya tembakan mewah, yang penting itu jumlah poinnya.”
“Sendirinya suka nge-dunk, alley oop dan segala macamnya. Nasihat itu lebih cocok kamu kasih untuk dirimu sendiri,” celetuk Heru tiba-tiba.
“Selama tembakan gaya-gayaanku itu berhasil menambah angka, apa salahnya? Memangnya kamu pernah lihat aku gagal nge-dunk?” Noah melipat tangan di depan dadanya sambil berdiri angkuh menghadap ke arah Heru.
Posisi loker mereka berseberangan dan ada bench panjang di tengah barisan loker, yang melintang sebagai penghalang Noah dan Heru saat ini. Meski begitu, suasana ini cukup mengkhawatirkan.
Bagaimana kalau salah satu dari mereka melompati bench yang hanya setinggi lutut itu untuk memulai perkelahian? Tentu saja tim basket Cendana tak memerlukan drama seperti itu sebelum Kejurnas berlangsung.
“Coba sekali-sekali kamu itu dengarin masukan dari orang lain,” balas Heru lagi.
Dirga semakin panik berada di tengah dua orang itu. Tapi ia terbata-bata, tak tahu siapa yang lebih dulu harus ia tenangkan.
“Ah … begini, tolong kalian te–”
“Aku juga salah sih sebenarnya,” tiba-tiba Noah memotong kalimat Dirga, “harusnya aku pass ke Kak Dirga, bukannya malah ngirim bola ke dekat ring. Untungnya Kak Dirga bisa cepat bereaksi menangkap bola dan kita nggak kehilangan poin.”
Bukan hanya Dirga dan Heru, semua yang berada di ruangan itu pun ikut terperangah mendengar apa yang baru saja dikatakan Noah. Steven – tanpa ia sadari – bahkan sampai menjatuhkan tumbler dari tangannya.
Noah baru saja mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada rekan setimnya. Hal yang mungkin selama ini tak akan pernah muncul di imajinasi siapapun yang mengenal Noah.
.
___ ___ ___ ___ ___
[1] ball handling adalah kemampuan seorang pemain untuk menguasai bola.
[2] "Alley-oop" adalah suatu teknik di mana seorang pemain melempar bola ke atas di dekat keranjang dan rekan setimnya menangkap bola tersebut di udara dan melakukan tembakan atau dunk sebelum mendarat. Teknik ini sering kali digunakan untuk mencetak poin spektakuler dan menghibur penonton.