“Kumpulin teman-temanmu, aku punya pekerjaan buat kalian.”
Andi langsung ke pokok pembicaraan sebaik panggilan teleponnya diangkat oleh seseorang di seberang sana.
“Wah … anak mana lagi nih yang masih nekat ngelawan kamu?” Orang yang sedang bicara dengan Andi, terdengar seperti sedang mengembuskan asap rokok di ujung kalimatnya.
“Anak Cendana.”
“Dari klub badminton lagi?” tebak orang itu. “Heran deh, masih belum kapok juga. Padahal udah berapa orang yang berhasil kamu usir dari klub badminton, masih aja ada yang berani.”
“Bukan. Kali ini dari klub basket.”
“Loh? Anak basket?” lelaki di seberang telepon itu pun tertawa keras di tengah kalimatnya, “kok bisa? Gimana ceritanya? Anak orang kaya juga, nggak?”
“Dia siswa undangan juga, anak kelas 10-S.”
“Waduh, waduh … menarik nih. Anak basket, siswa undangan, masih kelas 10 pula, udah berani nantangin kamu.”
“Anaknya memang songong banget. Tapi biarpun dia siswa undangan, keluarganya cukup punya nama. Jadi kita harus lebih hati-hati kali ini.”
“Gampang lah itu,” lelaki itu mengisap rokoknya lagi sebelum melanjutkan, “mau diapain?”
“Nanti aku kasih tahu rencana lengkapnya. Lebih enak kalau kita ngomong langsung. Pokoknya, aku mau dia dibikin nggak bisa main basket lagi.”
“Hahaha … kamu memang nggak pernah berubah, ya.”
“Aku transfer duitnya setelah kita ketemu.”
“Iya … santai, bro. Kayak baru kenal aja. Aman lah itu.”
“Ok. Hari Minggu jam 3 di tempat biasa.”
Andi mengakhiri pembicaraan setelah mendengar lelaki yang sudah sering ia bayar itu menyetujui waktu dan tempat pertemuan mereka.
Ada seringai yang sangat lebar di wajah Andi saat ia berjalan meninggalkan ruangan klub. Ia sudah tak sabar ingin melihat Noah meringkuk dengan wajah kesakitan, sambil memegangi kakinya yang sudah tak bisa lagi berlari.
“Kita lihat, apa kamu masih bisa tertawa-tawa seperti tadi.” Andi membatin dengan penuh antusias.
* * *
Kejurnas sudah di depan mata.
Semua SMA – dan yang sederajat – yang lolos ke ajang pertandingan berskala nasional ini sudah tak punya banyak waktu lagi untuk mempersiapkan tim mereka.
Meski tahun ini pelaksanaan Kejurnas harus sedikit tertunda karena satu dan lain hal, tapi itu tak membuat semua pesertanya mengendurkan latihan, contohnya Cendana.
Saat ini Coach Adam sedang membagi anggotanya menjadi dua tim dan melakukan uji coba pertandingan, setelah sebelumnya ia berhasil membakar semangat anak didiknya dengan menunjukkan video wawancara tim Bima Sakti.
Di video itu terlihat wawancara eksklusif, oleh seorang host yang cukup terkenal, terhadap pelatih dan kapten tim Bima Sakti.
Gian, sang kapten, sedang duduk di samping pelatihnya, berhadapan dengan host yang merupakan mantan pemain tim basket putri nasional, Santi.
“Menurut Anda, Coach Zaenal, siapa nih lawan yang dirasa akan sangat memberatkan dan memiliki potensi besar untuk menggagalkan rencana Anda mendapatkan hatrick juara Kejurnas?"
Coach Zaenal menoleh ke sampingnya untuk bertukar pandangan dengan Gian, lalu mereka tersenyum seolah ada kode tertentu yang hanya dipahami mereka berdua.
“Seluruh sekolah yang sudah sampai di Kejurnas, adalah mereka yang berbakat dan akan selalu memiliki kesempatan untuk menjadi juara,” Coach Zaenal memulai jawaban diplomatisnya, “tapi tentu saja saya sudah mempersiapkan anak-anak didik saya untuk menghadapi kemungkinan itu. Anak-anak Bima Sakti yang saya latih itu sangat keras kepala, saya yakin mereka tidak akan mau kalah.”
“Wah … senang sekali mendengarnya,” balas Santi bersemangat, “melihat bagaimana Bima Sakti selalu mendominasi selama dua tahun berturut-turut, saya yakin sekolah-sekolah lain juga pasti sudah sangat tak sabar ingin mengalahkan kalian.”
Gian tertawa pelan mendengar pernyataan host wanita tersebut, dan itu menyita perhatiannya untuk memindahkan pertanyaan kepada Gian.
“Bagaimana Kapten Gian? Apa pendapat kamu?” tanya Santi lagi.
“Kami yakin tahun ini pun belum ada tim yang akan mampu merebut trofi dari Bima Sakti,” pungkas Gian tegas dan tanpa basa-basi.
Santi sampai bergidik mendengar bagaimana anak muda di hadapannya itu bisa bicara dengan sangat percaya diri dan tanpa keraguan di matanya.
“Luar biasa,” puji Santi takjub, “… aah, tapi saya baru ingat. Ada tim SMA Cendana yang selalu menguntit dari belakang. Bagaimana menurut kalian tentang tim itu?”
Gian lagi-lagi tertawa sebelum menanggapi pertanyaan Santi – sementara Coach Zaenal hanya tersenyum saja sambil memberi gestur yang mempersilakan Gian untuk menjawab.
“Saya sempat datang melihat langsung pertandingan mereka di Liga Rookie,” Gian langsung memberi jawabannya tanpa segan-segan, “menurut saya mereka bermain bagus … tapi ya … bagus saja masih nggak cukup untuk mengalahkan kami.”
“Saya suka ini,” Santi semakin bersemangat mendengar jawaban dari Gian, “mental yang sangat kuat dan rasa percaya diri yang luar biasa.”
“Begini Miss Santi …,” Gian membenarkan posisi duduknya seolah ia sedang mengambil ancang-ancang untuk mengatakan suatu hal yang penting, “mereka kan sudah berkali-kali berhasil mencapai final, ya? Tapi selalu kandas sebelum mengangkat trofi. Jadi … menurut saya kalau sudah beberapa kali mencoba tapi masih gagal juga, mungkin itu tandanya mereka harus mulai berpikir untuk menyerah. Karena bisa jadi … memang kemampuan mereka cuma sampai di situ, atau jangan-jangan jadi runner up itu memang style-nya mereka.”
“Gian …” Coach Zaenal memanggilnya dengan nada memperingatkan agar ia tak terlalu berlebihan.
“Maaf, Coach.” Gian pun segera menutup mulut sambil kembali menyandarkan punggungnya ke sofa nyaman di studio itu, mengisyaratkan bahwa ia sudah selesai bicara dan hanya akan mendengarkan saja setelah ini.
Setelahnya, mereka lebih banyak membahas tentang masa lalu Coach Zaenal dan juga tentang masa depan para pemain Bima Sakti yang berprestasi.
Tapi Coach Adam memotong video itu, tepat setelah pernyataan berbau provokasi yang diberikan Gian. Pelatih Cendana itu sengaja hanya mempertontonkan bagian yang tadi saja, untuk memecut semangat dan memotivasi anak-anak Cendana.
Sedikit banyak ia juga sudah mempertimbangkan reaksi Dewa. Siswa kelas 12 itu memang berdarah panas, ia mengamuk hingga wajahnya merah padam. Coach Adam bahkan sampai harus menenangkannya beberapa kali, agar ia bisa berlatih dengan kepala dingin.
Namun tetap saja, latihan kali ini jadi terasa lebih berat karena para pemain inti yang terdiri dari Ahsan, Juan, Dewa, Yuda dan Wahyu, bermain sangat ngotot dan tanpa ampun melawan tim lapis kedua Cendana yang terdiri dari Noah, Igris, Dirga, Zikri dan Ello.