“Bapak harap, kamu bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini,” nasihat kepala sekolah sebelum meninggalkan ruangan, menyisakan Andi dan Pak Beni dalam suasana hening yang cukup membuat gugup.
“Tadi pagi ada orang dari Dinas Pendidikan yang datang,” Pak Beni memulai pembicaraan dengan cukup hati-hati, “mereka menanyai teman-temanmu di klub badminton.”
“Teman yang mana, Pak?” tanya Andi.
“Teman-temanmu yang terlibat dengan kejadian di ruang loker klub waktu itu.”
“Oh …,” Andi mulai bisa menangkap ke mana arah pembicaraan ini, “kok? Kenapa tiba-tiba? Bukannya masalahnya udah selesai?”
“Aku juga nggak tahu, tapi katanya ada orang penting yang mengancam akan menarik anaknya keluar dari sekolah ini, kalau kamu nggak diberi hukuman yang serius.”
“Orang penting?” fisarat Andi mulai tidak enak, “orang penting siapa, Pak? Bapaknya Rihan?”
Pak Beni menggeleng pelan sambil kembali menghela napas panjang. “Aku juga baru tahu kalau ternyata orang itu menyekolahkan anaknya di sini. Kamu pernah mendengar nama Profesor Nirwan?”
Andi membalas pertanyaan Pak Beni dengan gelengan kepala polos. Lagi-lagi wakil kepala sekolah itu pun hanya bisa menghela napas sebelum melanjutkan kalimat penjelasannya.
“Profesor Nirwan itu adalah seorang ilmuan genius yang beberapa penemuannya dianggap banyak berperan untuk masa depan umat manusia. Kamu tahu, demi mencegahnya pindah kewarganegaraan, negara sepertinya rela melakukan apa saja agar dia betah di negara ini.”
“Wah …” Andi bereaksi tanpa minat, merasa semua itu tak ada hubungannya dengan dia.
“Dan kamu tahu siapa anaknya yang bersekolah di sini?” tanya Pak Beni lagi.
“Kan itu yang dari tadi bikin saya penasaran, Pak.”
“Anaknya itu adalah siswa undangan. Jujur, saya juga baru tahu sekarang – tapi kepala sekolah sepertinya sudah tahu sejak awal. Namanya Noah … Diaz Noah Arakha.”
Rahang Andi rasanya akan jatuh sampai menyentuh lantai, fakta yang disampaikan wakil kepala sekolah barusan nyaris seperti cerita yang dibuat-buat.
“Bapak pasti bercanda.” Andi tertawa canggung, berharap Pak Beni segera mengklarifikasi pernyataannya barusan.
“Awalnya aku juga sama kagetnya denganmu,” ujar Pak Beni. “Tapi setelah kupikir-pikir lagi, anak kelas S itu biasanya hanya sibuk dengan olahraga, jarang sekali yang nilai akademisnya bagus. Sekarang setelah tahu kalau ternyata dia anaknya Profesor Nirwan, oh … pantas saja, wajar nilai UTS-nya kemarin jadi yang terbaik seangkatan kelas 10 Cendana.”
Dalam hati, Andi mulai berpikir kalau sepertinya ia sudah mencari masalah dengan orang yang salah.
“Jadi bagaimana, Pak?” dan ia pun mulai cemas, “kenapa nggak dijelaskan saja kalau masalah itu udah selesai dengan saya dan Rihan menandatangani surat perjanjian? Jadi profesor itu nggak perlu khawatir hal yang sama akan terulang.”
“Kamu kira kami nggak berusaha menyelamatkanmu?” Intonasi suara Pak Beni mulai kesal. “Nama baik sekolah juga jadi terancam gara-gara tingkahmu.”
Andi sadar kalau sekarang bukan saatnya ia bersikap santai. Ia tertunduk menghadapi kemarahan sang wakil kepala sekolah.
“Kami sudah menjelaskan semuanya kepada utusan Dinas Pendidikan yang datang ke sini,” terang Pak Beni lagi. “Tapi mereka bersikeras ingin menyelidiki lebih lanjut dengan menanyai teman-temanmu. Semuanya jadi semakin sulit ketika teman-temanmu itu ingin menyelamatkan diri mereka sendiri dan terang-terangan bersaksi bahwa ini semua memang ulahmu.”
Tangan Andi mengepal di atas pangkuannya.
“Anjing! Berani-beraninya mereka menusukku dari belakang.” Isi kepada Andi hanya berisi sumpah serapah yang ditujukan kepada teman-temannya itu.
“Beberapa anggota klub badminton juga sepertinya memberikan kesaksian yang sama, bahwa kamu adalah kapten yang buruk dan suka menindas junior-juniormu,” Pak Beni menopang keningnya seolah ia menjadi sangat lelah mengingat kelakuan Andi, “aku memang pernah bilang kalau kamu bebas bermain di sekolah ini, prestasimu yang bagus juga merupakan kebanggaan bagiku, tapi tentu saja semua itu ada batasannya.”
“Masalah ini sekarang nggak bisa diselesaikan cuma dengan surat perjanjian. Dinas Pendidikan sudah mendapatkan bukti video, ditambah lagi dengan kesaksian beberapa orang. Profesor Nirwan bahkan mengancam akan mengeluarkan Noah dari Cendana dan mem-blow up kejadian ini, jika kamu nggak mendapatkan hukuman yang setimpal.”
“Tapi, Paman …”
“Panggil aku ‘Pak’ kalau sedang di sekolah!” hardik Pak Beni, “kamu benar-benar membuatku pusing. Kepala sekolah jelas-jelas mengatakan dia nggak mau kalau sampai Noah keluar dari Cendana. Jadi tentu saja aku sampai harus melakukan tawar-menawar untuk menentukan hukumanmu.”
“A-apa aku akan dikeluarkan dari sekolah?” Andi sudah kehilangan ketenangannya, ia berkeringat meskipun pendingin di ruangan itu berfungsi dengan baik.
“Untungnya nggak,” jawaban dari Pak Beni cukup membuat Andi bisa kembali bernapas lega, “tapi kamu harus pindah ke kelas reguler dan menyerahkan jabatanmu sebagai kapten klub kepada orang lain.”
“Itu nggak adil!”
“Kamu juga akan di-skors selama 3 hari,” sela Pak Beni cepat, “kamu harus bersyukur hukumanmu cuma sampai di situ. Ini adalah permasalahan yang serius, karena korbanmu kali ini sampai berakhir di rumah sakit. Bahkan pelatih kalian pun sampai diberhentikan – karena dianggap telah lalai – dan sekarang dia hanya akan mengajar pelajaran olahraga di kelas reguler.”
Andi kembali terdiam di tempat ia duduk. Ia hanya bisa tertunduk menatap lantai ruangan. Kepalan tangannya masih menggenggam kuat semua kemarahan yang sedang ia rasakan.
“Setelah ini, pergi temui Noah dan Rihan, lalu minta maaf." Pak Beni beranjak dan membukakan pintu untuk Andi, agar ia segera meninggalkan ruangan itu.
“Jangan buat masalah lagi,” tambahnya, “selesaikan masa SMA-mu dengan baik. Kamu anak yang berbakat. Kalau kamu bisa lulus tanpa catatan buruk, masa depanmu sebagai atlet badminton akan terjamin.”
“Terima kasih, Pak,” ujar Andi tanpa mengangkat wajahnya.
Ia berjalan melewati pintu tanpa mengatakan apa-apa lagi, tapi yang tak diketahui Pak Beni, ekspresi Andi saat ini sudah seperti orang yang kerasukan iblis. Wajahnya memerah, pembuluh darah menyembul di leher dan sekitaran keningnya, rahangnya merapat dan tatapan matanya terlihat seperti orang yang siap membunuh siapapun yang berdiri di depannya.
Andi lalu mengeluarkan hp dari saku celana untuk menelepon seseorang. Tak butuh waktu lama bagi orang yang ia hubungi itu untuk mengangkat panggilan teleponnya.
“Halo, Andi! What’s up, my bro?!” sahut seseorang di seberang sana, sebagai salam pembuka saat ia menjawab telepon Andi.
“Kumpulkan teman-temanmu, aku punya pekerjaan untuk kalian.” Andi menggeram seperti hewan buas yang sudah tak sabar ingin menerkam mangsanya.