Chapter II-28

1060 Kata
Noah menoleh dan menemukan Luna, sang manager klub basket putra, sedang berlari kecil menghampiri Noah sambil menggerutu, “Tungguin kenapa sih? Kita kan sama-sama mau ke hall basket.” Noah pun menyimpan kembali hp-nya ke dalam saku celana dan mengurungkan niat untuk membalas pesan Lisa, ia merasa itu tak terlalu penting sekarang, dan ia bisa membalasnya nanti setelah kegiatan klub selesai. “Pelan-pelan aja Kak jalannya. Nanti jatuh.” Diperingatkan oleh Noah, bukannya senang, Luna malah terlihat semakin kesal. “Hei, aku ini lebih tua dari kamu, ya. Nggak usah sok dewasa ngomongnya,” omelnya. “Lagian kamu dari tadi dipanggilin kayak orang budeg. Mana kakinya panjang lagi. Satu langkah kamu itu sama dengan dua langkahku, tahu?!” “Ya maap,” sahut Noah sambil tertawa kecil. “Emang lagi ngelihatin apa sih di hp? Serius amat?” Luna mengaktifkan mode sotoy, “pacarmu ya? Hayo … ngaku.” Gadis berkacamata itu menyikut lengan Noah untuk menjahilinya, berharap ia bisa sedikit melihat wajah Noah memerah dan malu-malu. Tapi Noah malah menjawab cuek tanpa beban, “Aku nggak punya pacar kok.” “Serius? Masa’ sih? Seorang Noah loh … seorang Diaz Noah Arakha, si anak genius yang nyaris tanpa kekurangan.” Luna berkomentar dengan nada melebih-lebihkan. “Mana ada yang mau pacaran sama si Noah yang sombong, selalu bikin masalah, nggak punya teman, tengil dan nggak pernah menghargai orang lain ini,” balas Noah lagi. “Ha?! Siapa yang berani bilang gitu? Majalah mana? Media mana? Sini biar aku bakar kantornya.” Noah tertawa melihat reaksi Luna yang sok galak. Jujur saja, kesan Noah terhadap Luna sudah berubah total sejak pertama kali mereka bertemu. Dulu ia mengira Luna adalah manager judes yang doyan marah-marah. Tapi, sejak mereka ngobrol dan berbagi mengenai musik favorit di hari itu, Luna tampak lebih rileks bersama Noah. Noah bahkan merasa kalau Luna tak pernah bersikap seperti ini kepada adik-adik kelasnya yang lain. Hanya dengan Noah, ia menunjukkan sisi humorisnya. “Ngomong-ngomong, minggu depan kamu ada acara nggak?” tanya Luna saat tawa mereka reda dengan helaan napas yang nyaris bersamaan. “Kenapa? Mau ngajak kencan?” “Ih … ge-er banget kamu,” Luna meninju pelan lengan Noah, “bentar lagi kan Kak Ahsan ulang tahun, aku mau beliin dia kado.” “Terus?” “Ya aku butuh saran kamu buat nyariin kado yang pas.” “Yaelah … malas banget,” Noah tak mau bersusah payah menyembunyikan keengganannya, “emangnya Kakak nggak punya teman lain apa? Anak-anak basket putri nggak ada yang bisa dimintain tolong?” “Malah nyuruh aku minta tolong sama saingan, yang benar aja kamu?!” “Saingan? Tim basket putri?” “Nggak percaya? Kamu boleh lihat nanti di hari ulang tahun Kak Ahsan, hampir semua anggota tim putri bakal ngasih kado ke Kak Ahsan.” “Wah … ternyata kaptenku sepopuler itu,” batin Noah takjub. “Bahkan anak-anak dari klub lain pun kadang ikutan ngasih kado loh,” imbuh Luna lagi. “Terus Kak Ahsan terima semuanya tuh?” “Mana mungkin dia nolak. Palingan juga dia bakal minta izin ke para fans-nya itu, apakah dia boleh membagi hadiah mereka ke rekan setim. Biasanya kalau hadiah makanan, memang dia bakal selalu minta izin dulu sebelum bagi-bagiin ke kita. Ya kan mendingan gitu, daripada basi terus dibuang?” Noah hanya manggut-manggut mengiyakan. “Emangnya Kak Ahsan belum punya pacar?” tanyanya kemudian. Luna mengangkat bahunya sekilas sebelum menjawab, “Setahuku sih belum.” “Kakak nggak ada niatan mau nembak gitu?” Sontak pipi Luna langsung merona seolah darah dipompa mendadak ke wajahnya. “Ngomong apa sih kamu?” Ia kembali memukul punggung Noah untuk menutupi rasa malunya. “Udah … nggak usah pura-pura. Kayaknya nyaris semua orang di klub basket tuh tahu kalau Kakak naksir Kak Ahsan.” “Eh ...? Serius?” Noah hanya mengela napas sambil memutar bola matanya sebagai balasan, mengisyaratkan bahwa Luna baru saja menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya. Luna pun tersipu sambil lalu menangkupkan kedua tangan di pipinya. Wajahnya sudah terlihat seperti terbakar, saking merahnya. “Mau nembak nggak nih?” desak Noah lagi, “nanti keburu dia lulus, nyesal loh.” “Menurutmu gimana?” “Menurutku sih ya … nggak ada salahnya dicoba. Siapa tahu Kak Ahsan juga suka sama Kakak.” “Memangnya kamu nggak cemburu kalau aku jadian sama Kak Ahsan?” Luna mencoba membalikkan situasi dengan kembali menggoda Noah, mencoba membuatnya juga tersipu-sipu. Tapi Noah malah tertawa menanggapinya, tawa Noah malah lebih keras dari sebelumnya. “Ngomong apa sih, Kak? Ingat umur!” candanya kemudian. “Heh! Kita cuma beda setahun, ya!” Luna menghujani Noah dengan pukulan kecil bertubi-tubi. Tapi Noah hanya tertawa tanpa mencoba menghindar. Sebenarnya, kalau boleh jujur, Noah sempat merasa tertarik dengan Luna. Dia adalah sosok cewek ideal di mata Noah. Namun, setelah ia melihat bagaimana cara Luna menatap Ahsan dan bagaimana wajahnya selalu berubah menjadi berseri-seri setiap kali ia mengobrol dengan Ahsan, Noah langsung paham kalau Luna menyukai kapten timnya itu. Jadi Noah dengan cepat meredam perasaannya dan merasa tidak perlu menambah drama dalam hidupnya. Ia tak mau menaruh harapan yang ia tahu akan berakhir sia-sia. Hanya beberapa saat setelah Luna dan Noah melewati ruangan klub badminton, Andi kebetulan keluar dari ruangan itu dan hanya menemukan punggung Noah dan Luna yang sudah menjauh. Seolah ada bara di dalam dirinya yang kembali terpanggang, giginya bergemeretak ketika melihat Noah bisa tertawa-tawa bahagia dengan Luna. Masih jelas dalam ingatan Andi, bagaimana ia dipanggil ke ruangan kepala sekolah kemarin. … … … … … “Andi …” Pak Beni, wakil kepala sekolah, menggeleng pelan sambil menghela napas ketika Andi duduk di hadapannya dengan wajah tak tahu apa-apa. Andi jelas tak pernah menyangka, pemanggilan dirinya ke ruangan kepala sekolah hari itu adalah titik balik kehidupannya di Cendana. Kepala sekolah beranjak dari balik mejanya dan melangkah menuju ke pintu keluar. Ketika ia melintas di sebelah Andi, ia menepuk pelan pundak siswa kelas 12 itu. “Bapak harap, kamu bisa mengambil pelajaran dari kejadian ini,” ia hanya mengatakan itu kepada Andi sebelum melanjutkan kalimatnya untuk Pak Beni, “tolong Bapak saja yang mengurus, ya. Guru-guru sudah menunggu di ruang rapat.” Pak Beni berdiri dari duduknya sebelum memberikan jawaban. “Baik, Pak. Silakan.” Kemudian kepala sekolah pun meninggalkan ruangan, hingga yang tersisa di ruangan itu hanya Andi, Pak Beni, dan keheningan yang cukup membuat gugup.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN