Chapter II-27

1052 Kata
"Memangnya aku bikin kesalahan apa lagi? Aku nggak pernah bercandaan atau ngusilin Rihan lagi kok.” Andi masih berkeras ingin menekankan kalau apa yang dia lakukan ke Rihan itu hanyalah bercanda. “Aku nggak pernah nyuruh dia beli makanan atau apapun lagi,” imbuhnya, “aku bahkan nggak pernah dekat-dekat dia lagi. Aku kira semuanya udah selesai waktu aku dan Rihan menandatangani surat perjanjian di ruang kepala sekolah hari itu. Tapi kenapa sekarang jadi begini? Apa kalian nggak merasa udah berlaku nggak adil ke aku?” Jika dilihat dari sudut pandang Andi, ini memang terkesan seperti dirinya yang sedang dizalimi. Logikanya, Andi sudah membuat masalah, tapi ia juga sudah meminta maaf dan berjanji untuk tak mengulangi lagi. Kemudian sebagai kapten yang baik, tidak mengikutsertakan orang yang baru cedera dalam skuad pertandingan adalah hal yang wajar. Jadi, tentu saja ia merasa sudah diperlakukan tak adil oleh Noah yang malah tiba-tiba melaporkannya, hingga membuatnya kehilangan kursi di kelas S sekaligus kehilangan posisi sebagai kapten klub badminton. Zikri, Bayu dan Rihan saling bertukar pandang. Apa yang dikatakan Andi terdengar masuk akal dan cukup beralasan. Mereka pun jadi berpikir ulang, apa boleh Noah dan Said terus mencecar Andi seperti ini? “Iya, memang harusnya setelah tanda tangan surat perjanjian itu, kamu berhenti,” tegas Noah akhirnya. “Tapi nggak. Kamu nggak berhenti. Kamu cuma mengubah caramu.” “Aku benar-benar nggak ngerti maksud kamu apa,” Andi masih berkelit dengan cukup meyakinkan, “aku udah ngelakuin apa yang seharusnya.” “Kamu menghalang-halangi Rihan kembali bermain badminton di klub, bahkan berkomplot dengan pelatih kalian untuk melarangnya ikut pertandingan selama setahun penuh. Kamu sengaja melakukan itu karena tahu Rihan akan dikeluarkan dari kelas S, dan karena keluarganya nggak mampu, maka otomatis Rihan akan keluar dari Cendana.” “Jangan ngomong tanpa bukti. Itu kan cuma asumsi kamu aja.” “Oh … aku punya buktinya.” Sebaris kalimat pamungkas dari Noah membuat waktu di sekitar Andi seolah membeku. Ia mematung, dan matanya menatap Noah seolah sedang melakukan scanning, menimbang-nimbang apakah Noah sedang mengatakan hal yang benar atau hanya bohong belaka. “Masih mau sok acting jadi korban?” imbuh Noah dengan senyum kemenangan di wajahnya. “Kenapa nggak dari awal aja aku gertak dia kayak gini?” pikir Noah dalam hati. Soalnya memang menjelaskan panjang lebar kepada Andi juga percuma karena dia akan selalu menganggap bahwa dirinya adalah korban dari ketidakadilan Noah. Padahal sebenarnya Noah sama sekali tak memegang bukti apapun. Apa yang menyebabkan Andi dikeluarkan dari kelas S dan diberhentikan sebagai kapten adalah murni karena video p**********n yang ia lakukan bersama teman-temannya kepada Rihan di ruang loker klub. Teman-teman Andi yang terlibat juga mendapatkan sanksi skorsing. Tapi kenapa Andi yang mendapat hukuman paling parah? Karena waktu teman-temannya itu ditanyai oleh utusan dari Dinas Pendidikan yang dikirimkan ke Cendana, mereka kompak mengarahkan jari telunjuk kepada Andi; tentu saja hal itu tidak diketahui Andi. Mereka bahkan bersaksi bahwa sebenarnya Andi adalah dalang dari semua tindakan bullying yang terjadi di klub, sementara mereka hanya ikut-ikutan saja karena intimidasi Andi dan posisinya sebagai kapten. “Bukti apa?” tanya Andi akhirnya. Suaranya tak lagi terdengar memelas, intonasinya berubah dingin dan ekspresi wajahnya pun sudah berubah suram. “Kamu mau aku menunjukkannya?” Noah agak berbisik, seolah ia ingin membantu Andi agar yang lainnya tak tahu bahwa Noah memegang bukti kejahatan Andi. “Kamu cuma omong kosong,” kilah Andi. “Aku bisa menunjukkan bukti yang kupunya, tapi nggak langsung ke kamu. Aku akan mem-postingnya di sosial media dan aku bakal tag kamu, supaya kamu juga bisa melihatnya.” Itu adalah cara Noah mengancam Andi, dan Andi tahu itu. Sorot matanya yang menatap Noah seketika menjadi buas, rahangnya merapat dan urat di keningnya mulai menyembul. “Aku sarankan kau mulai sekarang berhati-hati,” geram Andi sambil lalu beranjak dan menatap ke sekeliling meja itu, “kuharap teman-temanmu ini akan selalu ada untuk melindungimu dari bahaya … sewaktu-waktu.” Ujung kalimat Andi mengarah langsung ke Noah, seolah ia ingin menekankan bahwa nanti … ada saatnya ketika Andi akan membalas perlakuan Noah. Andi berlalu pergi dari hadapan Noah dan yang lainnya. Hanya setelah Andi bergabung dengan dua temannya yang berada cukup jauh di meja ujung sana, Bayu dan Rihan langsung menghembuskan napas panjang; seolah mereka sudah menahan napas sejak Andi berada di situ tadi. “Noah …, sebenarnya apa yang udah kamu lakukan?” tanya Rihan cemas. “Udah kamu tenang aja, nggak usah dipikirin.” Noah mengibaskan tangannya sebagai gestur yang menyuruh Rihan untuk melupakan semua kejadian tadi dan menganggapnya angin lalu. “Tapi … Kak Andi itu berbahaya loh.” Rihan masih berusaha memperingatkan Noah. “Tenang aja,” potong Zikri sambil menepuk dadanya, “ada aku.” “Kayak kamu itu bisa diandalin aja,” celetuk Bayu sambil lalu. “Ganti dulu itu blendernya asrama Raven,” timpal Said. “Hei! Udah nggak usah dibahas lagi!” Zikri berteriak protes, tapi teman-temannya hanya menertawainya tanpa rasa bersalah. Ya, yang namanya bercanda antar sesama teman itu harusnya seperti ini. Zikri tahu teman-temannya hanya menggodanya saja, dan teman-teman Zikri pun tak mengganggunya lebih dari itu. Namun sayangnya, orang-orang seperti Andi suka menjadikan kata “bercanda” sebagai landasan segala tindak penindasan yang mereka lakukan kepada orang lain. *** “Noah, minggu depan temani aku nonton, ya? Ada film bagus. Aku yang traktir deh.” Begitu bunyi pesan yang dikirimkan Lisa kepada Noah melalui aplikasi chatting di hp-nya. Sebenarnya itu bukan hal yang luar biasa. Lisa memang sudah sering secara random mengajak Noah nonton di bioskop. Alasannya bisa bermacam-macam. Kadang ia bilang ada film bagus yang ingin ditontonnya, tapi temannya tidak menyukai film yang sama, jadi dia butuh teman untuk nonton. Kadang ia menjadikan hari ulang tahun sebagai alasan, baik itu ulang tahunnya sendiri, ulang tahun Noah, bahkan ulang tahun Raka. Bahkan, ia juga pernah memaksa Noah untuk menemaninya nonton dengan alasan bahwa film itu untuk kebutuhan riset. Padahal riset apa? Noah tahu itu cuma omong kosong, tapi ia juga tak pernah mempermasalahkannya. Itu sebabnya kali ini juga Noah bermaksud mengabulkan keinginan Lisa. Namun disaat Noah sedang mengetik untuk membalas pesan Lisa, suara seorang wanita yang tidak asing memanggilnya dari belakang. Di jalan setapak – dekat lapangan tenis itu – Luna tampak sedang berlari kecil menghampirinya. “Tungguin kenapa sih? Kita kan sama-sama mau ke hall basket,” gerutu Luna berlagak kesal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN