Chapter II-26

1076 Kata
“Hei, tangannya itu baru sembuh. Kalau tulangnya patah lagi kamu mau tanggung jawab?” sergah Noah kesal. Ia bahkan sudah tak mau bersusah payah memanggil mereka dengan sebutan “Kak”. Melihat keadaan itu, Andi beranjak dan ikut datang menghampiri meja Noah. Sepertinya ia merasa kalau kedua temannya sudah gagal membawa Noah dan Rihan, jadi ia memutuskan untuk turun tangan sendiri. “Kenapa sih muka kalian pada tegang banget?” Andi dengan senyum ramahnya yang biasa, berlagak menenangkan kedua temannya dan menyuruh mereka mundur dulu, selagi ia berhadapan dengan Noah. “Aku cuma mau bicara loh, tuan muda Noah,” sambungnya lagi. “Ya, silakan.” Noah menegaskan kalau sebenarnya tak ada masalah jika memang ia hanya ingin bicara. Andi menghela napas dan mengambil kesimpulan kalau sepertinya ia memang tak punya pilihan lain. Itu sebabnya ia memberi isyarat kepada kedua rekannya untuk kembali ke meja di sudut kantin dan meninggalkan Andi di situ. “Ayo, duduk dulu,” katanya sambil berinisiatif mengambil tempat duduk di antara Noah dan Rihan. Matanya lalu menangkap sosok Zikri yang masih tampak tegang bercampur cemas. “Duduk dulu,” ulang Andi lagi kepada Zikri, masih dengan wajah dan senyuman ramahnya yang sama. Zikri pun duduk di kursinya dan berusaha mendengarkan dengan tenang, apapun yang ingin disampaikan Andi. “Sebenarnya aku cuma mau ngomong sama Noah dan Rihan,” Andi memulai dengan intonasi yang tenang, “tapi karena kalian maksa buat ikut mendengarkan, aku anggap kalian udah paham tentang apa yang mau aku bicarakan.” Noah melihat jam tangannya seolah ingin mengisyaratkan bahwa sebaiknya Andi tak membuang waktu dengan berbasa-basi, karena mereka tidak punya banyak waktu di jam istirahat siang ini. “Langsung aja, mau ngomong apa?” sela Noah akhirnya. “Aku nggak tahu apa alasannya, tapi tiba-tiba aja aku dikeluarkan dari kelas S dan diberhentikan sebagai kapten klub,” ujar Andi sebagai pembukaan. “Wah … turut berduka cita,” balas Noah dengan suara dan ekspresi datar. “Aku dapat info dari orang yang cukup bisa dipercaya, katanya ini semua karena ada aduan yang masuk ke Dinas Pendidikan, tentang kejadian di ruang klub badminton beberapa waktu yang lalu.” “Oh … kejadian yang sampai bikin tangan Rihan patah itu?” balas Noah lagi. Andi mulai menunjukkan sorot mata yang tidak senang sebelum menjawab Noah, “Iya, kejadian yang itu.” “Makanya kalau bercanda sama junior jangan keterlaluan. Eh … sebentar, tapi itu bukan bercanda sih. Itu kan jatuhnya jadi bullying ya namanya.” Senyum sudah benar-benar hilang dari wajah Andi. Suara yang ia keluarkan selanjutnya pun lebih terdengar seperti hewan buas yang menggeram. “Aku kira kita udah selesai dengan masalah itu. Aku dan Rihan juga udah berdamai di hadapan kepala sekolah. Kenapa tiba-tiba kamu mengungkit ini lagi?” “Maksudnya?” Noah berpura-pura tak tahu apa-apa. “Kamu kan yang mengadukan kejadian itu ke Dinas Pendidikan? Kan cuma kamu yang pegang rekaman videonya.” Noah mengerucutkan bibirnya sebelum menjawab, “Aku nggak pernah ngaduin apa-apa ke Dinas Pendidikan kok … Ah! Tapi aku memang ada menunjukkan video itu ke ayahku sih.” “Berarti ayahmu yang udah ngelaporin aku ke Dinas Pendidikan.” “Entahlah. Bisa jadi,” jawab Noah cuek. “Kenapa kamu kok tega banget berbuat kayak gini ke aku?” keluh Andi lagi, “padahal kan aku udah bikin perjanjian damai sama Rihan.” “Itu kan perjanjian kamu sama Rihan. Nggak ada hubungannya sama aku,” balas Noah, “lagian kalau mau protes, ya protes aja ke ayahku.” “Kamu udah ngancurin masa depan orang lain, bisa-bisanya bicara sesantai ini?” Wah … Noah sampai kehabisan kata-kata melihat bagaimana Andi bisa mengatakan hal itu, seolah ia tidak melakukan hal yang sama kepada Rihan. “Aku juga sebenarnya pengen banget menanyakan hal yang sama ke kamu,” kata Noah akhirnya, “udah berapa orang yang kamu hancurin masa depannya dan gimana mungkin kamu bisa hidup santai setelahnya?” “Ngomong apa sih kamu?” Noah menggeleng pelan tak habis pikir, si Andi ini benar-benar sudah melupakan semua orang yang berhasil ia singkirkan dari klub badminton hanya gara-gara mereka lebih berbakat dari dirinya. Akhirnya Noah pun memutuskan untuk langsung menodong Andi. “Jujur aja deh,” lanjut Noah lagi, “kamu berusaha mengeluarkan Rihan dari kelas S, kan?” “Kapan aku melakukan itu?” sanggah Andi dengan ekspresi seperti orang yang benar-benar tak bersalah. Noah menatapnya sambil menghela napas malas. “Kenapa Rihan tiba-tiba nggak boleh ikut bertanding?” imbuhnya kemudian. “Itu karena tangannya belum sembuh benar.” “Dokter bilang dia udah bisa mulai beraktivitas seperti biasa kok. Kamu lebih pintar dari dokternya atau gimana?” “Iya, tapi kan kita tetap harus memilih yang terbaik untuk ikut pertandingan. Demi membawa nama baik Cendana, mana mungkin kita mengirim orang yang baru sembuh sebagai perwakilan untuk pertandingan penting?” “Terus kenapa Rihan nggak boleh bertanding sampai setahun penuh?” desak Noah lagi. “Kenapa dia nggak dibolehkan ikut seleksi internal di klub kalian? Seleksi yang katanya untuk menentukan peringkat dan kelayakan sebagai perwakilan untuk pertandingan, kenapa dia nggak boleh ikut?” “Ya karena tangannya baru sembuh.” “Pembicaraan ini nggak akan ada habisnya,” keluh Said sambil duduk melipat tangan dan menyandar di kursinya. “Gini aja deh, Kak,” lanjutnya, “Kak Andi tahu sendiri kan kalau dalam setahun anak kelas S nggak punya prestasi, maka dia akan dikeluarkan dari kelas S.” “Iya, tentu aku tahu itu.” “Itu tujuan Kakak sebenarnya, kan?” sambar Said langsung. “Kamu jangan sembarangan menuduh, ya!” Emosi Andi mulai tersulut. Noah sangat bersyukur karena ia dipertemukan dengan Said. Temannya yang satu itu memiliki sense of justice yang tinggi, tidak kenal takut, juga pintar menghadapi lawan dengan menggunakan pernyataan-pernyataan yang gamblang dan tanpa basa-basi. “Apapun alasan Kakak, tangan Rihan sampai jadi seperti itu juga kan karena kesalahan Kakak. Kenapa malah sekarang Kakak yang jadi playing victim?” Zikri ikut menambahkan. “Udah jelas Kakak yang melukai dia, wajar dong kalau Kakak dilaporkan ke Dinas Pendidikan,” cecar Said lagi. “Ok. Kalian memang udah berdamai di depan kepala sekolah, ya udah, harusnya Kak Andi berhenti sampai di situ dong.” "Maksudmu apa? Aku kan memang udah berhenti. Memangnya aku bikin kesalahan apa lagi ke Rihan?" dan Andi pun masih membantah. Jika ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan ini tanpa memahami konteks, mereka akan percaya bahwa Andi adalah korban dari tindakan semena-mena Noah dan teman-temannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN