Chapter II-25

1007 Kata
Entah kenapa Noah merasa kalau sebaiknya Rihan tak tahu soal Noah yang melibatkan ayahnya untuk membantu permasalahan mereka dengan Andi. Ia khawatir itu malah akan membebani Rihan. “Justru tadi aku menelepon orang yang mungkin ada hubungannya dengan kejadian ini,” jawab Noah kemudian. “Orang itu siapa?” tanya Rihan lagi. “Ada deh,” balas Noah sambil lalu duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Bayu. “Nanti kalau aku udah dapat informasi yang jelas, aku bakal kasih tahu kamu,” tutupnya. Noah sengaja langsung mengajak Bayu ngobrol, agar Rihan tak membahas persoalan itu lagi, setidaknya untuk sementara ini sebelum Noah memastikan kebenaran keterlibatan ayahnya. Walau bagaimanapun, tak ada gunanya menyembunyikan hal ini dari Rihan. Jika ia ingin tahu apa yang dilakukan Noah untuk menghentikan Andi, maka Noah sebaiknya tak merahasiakannya dari Rihan. “Kemarin aku apes banget.” Zikri memulai topik pembicaraan baru. Biasanya, ia memang suka menceritakan hal-hal yang lucu dan membuat teman-temannya tertawa, meskipun itu tentang ketidakberuntungannya. “Kenapa?” tanya Said sabelum memasukkan sesendok makanan ke mulutnya. “Aku mau buat smoothie sehat, sayur campur buah gitu – aku lihat di internet.” Zikri memulai ceritanya. “Tapi pas aku coba blender bahan-bahannya, blendernya malah ngereog.” Zikri meletakkan sendok makannya dan mulai mencari-cari sesuatu di galeri hp-nya. “Lihat nih,” ia memutar sebuah rekaman video dan meletakkan hp di atas meja agar semua yang duduk di sekeliling meja itu bisa melihat layar hp-nya, “padahal sayur dan buahnya udah aku potong kecil-kecil, loh. Masa’ blendernya mutar kayak gitu.” Video yang diperlihatkan Zikri itu adalah rekaman yang ia buat ketika ia menggunakan blender di ruang serbaguna asrama Raven, dan blender itu berputar di atas mesinnya. Ya, yang berputar adalah wadahnya, bukan mesin blendernya. Sontak Rihan, Said dan Bayu pun tertawa melihat rekaman itu. “Itu gimana ceritanya? Malah wadahnya yang mutar.” “Potongan buah segede gaban gitu kamu bilang kecil-kecil?” “Parah ni anak. Makanya nggak usah pinter-pinteran. Sok bikin smoothie segala.” “Tapi itu blendernya ajaib banget.” Bayu dan Said secara bergantian mengomentari video Zikri di sela tawa mereka. “Itu apa nggak rusak blendernya?” Meski ikut tertawa, tapi Rihan tampak cukup khawatir. “Kalau ketahuan Penjaga Asrama bisa disuruh ganti, kan?” “Loh? Bukannya blender memang normalnya gitu, ya?” celetuk Noah tiba-tiba. “Apanya yang salah?” Tentu saja komentar Noah membuat sekeliling meja itu jadi hening. “Ya nggak lah!” tukas Bayu dan Said nyaris bersamaan. “Noah, kamu nggak pernah gunain blender atau gimana?” tanya Bayu. “Kayaknya si tuan muda kita ini nggak pernah masuk dapur deh,” canda Said. Noah, dengan wajah bingung, kembali mengamati remakan video Zikri untuk mencari di mana letak salah dan lucunya. “Noah … itu yang berputar bukan pisau blendernya loh, itu yang berputar malah wadahnya. Mana ada yang bisa ke-blender kalau begitu caranya.” Zikri sampai harus menerangkan keanehan dalam videonya itu dengan narasi. Tapi Said bergerak lebih cepat dengan mencari video cara kerja blender yang benar di internet. “Nih … lihat nih, Tuan Muda Noah, blender itu kalau berfungsi dengan benar ya harusnya kayak gini,” terangnya sambil menunjukkan sebuah video yang ia temukan di internet. “Oh …,” gumam Noah sambil manggut-manggut. “Jadi blender di ruang serbaguna Raven rusak gara-gara Zikri dong, ya?” komentarnya kemudian. “Ya nggak usah diperjelas gitu juga kali,” gerutu Zikri berlagak jengkel, “lagian kayaknya sebelum aku pakai juga itu blender memang udah rusak.” “Nggak … Nggak. Nggak usah ngeles kamu. Kamu yang rusakin itu,” Said dan hobinya sebagai provokator, “kamu harus ganti.” “Iya, nanti juga aku ganti kok,” balas Zikri lagi. “Noah, kalau si Zikri pura-pura b.e.g.o pas ditanyain siapa yang ngerusak blender Raven, kamu harus kasih tahu ke Penjaga Asrama, kalau pelakunya itu Zikri.” Bayu ikut-ikutan membuat Zikri jadi semakin merasa bersalah. “Nggak usah diaduin juga aku bakal ngaku kok. Apaan sih ini anak-anak Falcon nggak usah ikut campur urusan Raven deh!” Zikri akhirnya ngamuk. Tapi Said dan Bayu malah semakin tertawa keras. Mereka tampak puas karena berhasil membuat Zikri panik, di sisi lain Rihan sibuk menenangkan Zikri dengan mengatakan bahwa teman-teman satu asramanya itu hanya bercanda. Di tengah ingar-bingar itu, sudut mata Noah menangkap sekelompok orang yang baru saja memasuki kantin. Itu adalah Andi dan teman-temannya. Mata Andi jelas menatap ke arah meja Noah, tapi Noah tak yakin apakah Andi sedang melotot kepadanya atau kepada Rihan yang kebetulan duduk di dekatnya. Andi duduk di meja kosong yang ada di pojok lain kampus, lalu dua orang rekannya tampak beranjak saat mereka baru saja duduk di meja yang sama. Anehnya, dua rekan Andi itu itu sekarang malah sedang berjalan menghampiri meja Noah dan teman-temannya. “Hei, Andi mau ngomong. Bisa ikut kami sebentar, nggak?” tanya salah seorang yang berkacamata – saat ia sudah berada di hadapan Noah. “Kamu juga ikut.” Rekannya yang satu lagi malah sudah memegang lengan Rihan dan memaksanya berdiri. “Hei! Apa-apaan ini?!” Zikri jelas tak terima. Kedua senior itu pun cukup kaget saat Zikri yang mulanya sedang duduk tiba-tiba berdiri, menunjukkan perbedaan tinggi yang sangat jelas antara dirinya dan para senior itu. “Kamu nggak usah ikut campur, kita cuma mau bicara aja.” Si senior berkacamata menerangkan. “Ya udah sih, ngomong di sini aja, Kak,” sahut Said jauh lebih kalem dari Zikri, “ujung-ujungnya juga nanti Noah dan Rihan bakal cerita ke kami. Jadi, nggak ada gunanya juga pembicaraan kalian disembunyikan dari kami, kan?” “Di sini terlalu ramai, susah kalau mau ngomong serius.” Senior yang memegangi lengan Rihan itu berkelit sambil kembali menarik Rihan untuk mengikutinya. Noah akhirnya ikut beranjak dari kursinya dan berdiri menjulang di hadapan kedua senior itu. “Hei, tangannya itu baru sembuh. Kalau tulangnya patah lagi kamu mau tanggung jawab?” Noah tak bisa lagi menahan rasa kesalnya, ia bahkan tak rela memanggil orang-orang yang ada di hadapannya ini dengan sebutan “Kak”.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN