Chapter II-24

1013 Kata
“Karena Ayah nggak sayang sama aku …” Meski Raka sudah berusaha menstabilkan suaranya, percuma saja, suaranya sudah sangat parau dan tenggorokannya seolah menyempit hingga membuatnya tercekat di ujung kalimat. “Aku ini ayahmu, mana mungkin aku nggak sayang sama kamu?” protes Nirwan. “Dari mana kamu bisa dapat pemikiran kayak gitu? Kenapa kamu sampai berpikir begitu?” “Ya tentu saja karena aku anak yang bodoh, kan?” Kali ini Raka merasa sudah tak bisa lagi membendung luapan perasaannya. Jadi ia mengisi penuh udara di paru-parunya dan bertekad untuk membuat lelaki di hadapannya itu paham, tentang apa yang selama ini ia desak jauh ke dasar hatinya, tentang semua emosi yang selama ini ia pendam dengan paksa. “Karena aku nggak bisa jadi anak yang membanggakan dan nggak bisa dipamerkan ke mana-mana, kan?” Raka nyaris tersedak. Tapi ia sudah tak peduli. Rasanya luar biasa menyesakkan, dan kalau ia tak meluapkan semuanya, ia merasa akan meledak. “Aku minta maaf karena aku nggak berbakat,” Raka mendengus menahan tawa dan membuatnya terdengar sinis, “aku minta maaf karena aku nggak bisa jadi seperti Noah. Dan semua yang kulakukan selalu salah … mungkin aku adalah kegagalan terbesar dalam hidup Ayah. Mungkin memiliki aku sebagai anak adalah sebuah penyesalan bagi ayah … Tapi aku sangat bangga menjadi anak ayah … aku bangga memiliki ayah sepertimu–" Kalimat Raka terhenti saat tiba-tiba Nirwan menarik lengan bajunya dengan kasar. Seketika Raka mengira lelaki itu akan marah. Namun ternyata Raka ditarik masuk ke dalam sebuah dekapan yang sangat erat. Semuanya terjadi sangat cepat. Sesaat Raka mengira ia akan menerima pukulan, tapi detik berikutnya ia sudah berada dalam pelukan lelaki itu, pelukan yang sangat erat, seolah itu adalah cara Nirwan untuk menyuruh Raka menghentikan ratapannya. Mendengar Raka mengatakan semua itu dengan suara yang bergetar hebat, membuat hati Nirwan terenyuh. Seolah Raka sedang menunjukkan semua luka terbuka di sekujur tubuhnya yang selama ini ia sembunyikan, Nirwan bisa merasakan rasa sakitnya sampai ia pun tak mampu menahan perihnya. Jika hanya dengan mendengarkan saja sudah membuatnya sakit seperti itu. Bagaimana dengan Raka? Apa yang dirasakannya saat ia harus mengatakan semua itu? “Maaf …,” gumam Nirwan, “maaf karena sudah membuatmu sampai bicara seperti ini…” Suara Nirwan terdengar serak. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya, dan semakin ia berusaha menahan emosinya, semakin sakit yang ia rasakan. Hingga akhirnya Nirwan memutuskan untuk tak mengatakan apapun lagi. Padahal sebenarnya ada banyak yang ingin ia sampaikan kepada Raka. Nirwan masih ingin mengatakan kalau ia sadar ini semua adalah kesalahannya, bukan salah Raka. Ia juga ingin menegaskan kepada Raka, bahwa ia tak pernah menganggap Raka sebagai kegagalan dalam hidupnya. Tapi apa yang keluar dari mulut Nirwan, hanya kata “Maaf” dengan suara yang nyaris seperti rintihan. Menghadapi ayahnya yang seperti itu, alis dan kening Raka berkerut sebagai bentuk pertahanan terakhirnya untuk membentengi diri, mencoba kembali menekan perasaannya sendiri. Namun akhirnya tangisan Raka pun lepas. Runtuh sudah bendungan yang selama ini menahan seluruh emosi di dalam dirinya. Raka hanya ingin menangis dan membiarkan semuanya tumpah. Semua hal menyesakkan yang telah ia simpan selama bertahun-tahun lamanya. “Maafkan Ayah …” Air mata Nirwan membasahi bagian bahu kemeja yang dikenakan Raka. Tapi, alih-alih melepaskan pelukan, Nirwan malah semakin mengeratkan tangannya di tubuh anak sulungnya itu. “Maaf …” Tak ada kata lagi yang mampu dikeluarkan Nirwan untuk menyambung permintaan maafnya. Ia hanya mengulangi kata yang sama tanpa merenggangkan pelukannya sedikitpun. Bagaikan seorang Ayah yang telah kehilangan anaknya di taman bermain dan kemudian dipertemukan kembali, rasanya jika ia melepaskan pelukannya sekarang, ia akan kehilangan Raka lagi. Namun yang tidak diketahui dua lelaki itu, adalah bahwa ternyata sejak tadi Dian tidak benar-benar tertidur. Wanita itu mendengar semua isi percakapan mereka, dan memutuskan untuk tak ikut campur. Sebagai gantinya, Dian harus berusaha keras untuk menahan suara isak tangisnya malam itu. Suasana seperti itu berlangsung cukup lama. Nirwan membiarkan Raka menyelesaikan tangisan di dalam pelukannya, tanpa merasa perlu bertukar kalimat lagi. Selain karena Nirwan memang bukan orang yang piawai berkata-kata, ia juga merasa kalau ia tak berhak memberikan penjelasan untuk membela diri. Ini bukan tentang Raka yang salah paham. Ini tentang Nirwan yang merasa sudah gagal menjadi seorang Ayah yang baik untuk Raka, bahkan membuat anak sulungnya itu sampai memiliki anggapan bahwa ia tak disayang. Padahal Nirwan juga menyayangi Raka, tentu saja. Tapi memang apa yang dilakukannya selama ini sama sekali tak menggambarkan itu. Jadi, tak ada alasan yang mampu ia berikan untuk membenarkan perlakuannya selama ini kepada Raka. Itu sebabnya Nirwan hanya meminta maaf tanpa mengatakan apapun lagi. … … … … “Noah, mau makan apa? Biar kami bantu pesan dulu buat kamu.” Rihan muncul dari samping Noah dan bertanya dengan cara mengetik catatan di hp lalu menunjukkannya kepada Noah; karena ia tak mau mengganggu pembicaraan Noah di telepon. Karena terlalu asyik ngobrol dengan Raka, Noah hampir saja lupa kalau seharusnya saat ini ia makan siang bersama teman-temannya. Rihan sampai berbaik hati ingin memesankan makanan untuknya. Noah jadi merasa tak enak, jadi ia memutuskan untuk menyudahi dulu obrolannya dengan Raka. “Nanti aku telepon lagi,” pamitnya pada Raka. “Tadi kamu mau ngomong sama Ayah, kan? Ini Ayah udah di sini.” “Nggak, nanti aja. Aku mau makan siang dulu,” balas Noah, “salam sama Ayah.” Tanpa menunggu jawaban dari Raka, Noah pun memutus telepon dan menyimpan kembali hp di kantongnya. “Kalian udah pada makan?” tanyanya kemudian kepada Rihan, sambil melangkah bersama menuju meja di mana teman-teman yang lain sudah menunggu. “Yang lain udah pesan, tinggal nunggu makanannya datang aja,” jawab Rihan. “Ngomong-ngomong, kamu udah dapat kabar belum?” “Tentang Andi?” “Iya. Kok udah tahu?” “Udah. Tadi Said yang ngabarin.” “Kok bisa gitu, ya? Aneh banget. Tiba-tiba aja dia dikeluarin dari kelas S, dan pelatih klub badminton juga mendadak diganti,” Rihan menoleh dan menatap Noah lekat-lekat, “kamu tahu sesuatu?” “Justru tadi aku menelepon seseorang untuk memastikan. Apakah semua ini memang ada hubungannya dengan orang itu.” “Orang itu siapa?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN