Chapter II-23

1019 Kata
Noah tak pernah tahu kalau ternyata – setelah konser selesai dan mereka menikmati makan malam bersama di salah satu warung pinggir jalan – Raka mendapatkan kesempatan untuk bicara lebih mendalam dengan Nirwan. Malam itu, Nirwan mengendarai mobilnya untuk mengantarkan Noah kembali ke asrama SMA Cendana. Ia harus menyalakan wiper karena hujan gerimis yang menumpuk di kaca mobil sudah mulai menghalangi pandangannya. Dian yang duduk di jok belakang bersama Noah, terlihat sudah sangat mengantuk. Noah pun menawarkan agar sang Bunda menggunakan pangkuannya sebagai bantal. Selama beberapa saat, mereka tak saling bicara. Nirwan hanya fokus menyetir dan Raka yang duduk di sebelahnya juga tak berusaha membuat interaksi. Ia seperti sedang mencurahkan perhatian pada layar hp, namun Noah bisa melihat kalau sebenarnya Raka hanya melakukan scrolling media sosial tanpa tujuan. Hingga akhirnya mereka tiba di depan gerbang asrama Cendana. Tampak seorang security baru saja akan menggeser pagar besi untuk menutup akses keluar masuk asrama – karena sudah hampir pukul 9 malam. Karena Dian masih tertidur dan menggunakan pangkuan Noah sebagai bantal, Noah bergerak sangat perlahan agar tak membangunkannya. Dari jok depan, Raka memberikan tas ranselnya untuk menggantikan paha Noah sebagai bantal untuk ibunda mereka. “Noah, pakai payung,” Nirwan memberikan jaketnya kepada Noah, “ada payung di belakang jok itu … ini sekalian selimutin Bunda.” Noah melakukan sesuai dengan instruksi ayahnya. Ia meraba payung besar berwarna biru tua di belakang jok sebelum kemudian menyelimuti bundanya dengan jaket. “Aku masuk dulu,” pamit Noah. Ia harus membungkukkan badan untuk menatap wajah Nirwan dan Raka melalui jendela mobil. “Ya …. Udah sana cepat masuk,” sahut Raka sambil mulai menaikkan kaca jendela mobil. “Hati-hati di jalan.” Noah menyempatkan diri mengatakan itu sebelum akhirnya ia berbalik dan berjalan melewati pagar sambil menyapa security asrama – meminta maaf karena sudah membuatnya jadi sedikit menunggu. Itu adalah hal terakhir yang diingat Noah tentang interaksinya dengan tiga anggota keluarganya itu. Namun ternyata setelah itu – meski selama beberapa menit setelah Noah tak lagi berada di situ – suasana di dalam mobil menjadi semakin hening. Hingga akhirnya Raka memutuskan untuk membuat laporan. “Tadi siang …,” ia membuka suara pelan, “Noah tiba-tiba mengalami hiperventilasi.” “Apa?” Nirwan nyaris menginjak rem mendadak, tapi untung ia bisa segera mengendalikan diri; meski mobil sempat oleng sedikit. “Hiperventilasi? Kok bisa? Waktu dia lagi latihan basket atau gimana?” tanyanya cemas. Dan karena memang jalanan agak sepi, Nirwan hanya melaju pelan tanpa menepikan mobilnya. “Bukan … waktu kami lagi ngobrol pas makan siang.” “Tiba-tiba aja gitu?” “Aku juga lumayan kaget,” Raka mengambil jeda sejenak, “tiba-tiba aja dia nangis dan napasnya sesak.” “Loh? Memangnya kalian ngobrolin apa?” tanya Nirwan, terdengar semakin tak sabar ingin mengetahui bagaimana anak seperti Noah bisa sampai mengalami hiperventilasi. “Salahku juga kayaknya,” pandangan Raka tertunduk, seolah ia menjadi sangat tertarik dengan ruas-ruas jemari tangannya, “sepertinya ada perkataanku yang membuatnya kembali teringat tentang temannya yang bunuh diri tahun lalu itu.” “Memangnya kamu bilang apa sama dia?” desak Nirwan lagi. “Dia mulai terlihat aneh waktu aku bilang napasku sesak.” Kening Nirwan berkerut bingung, wajahnya melongo menatap Raka dan jalan di depannya secara bergantian. “Kamu juga sesak napas? Ada apa dengan anak-anak sekarang?” Raka melepaskan dengusan tawa kecil menanggapi keluhan ayahnya. Sepertinya lelaki itu sudah gagal paham. Nirwan memang seorang penggila ilmu pasti. Ia jarang memahami hal-hal yang bermakna tersirat. Jika bicara dengan Nirwan, tak ada gunanya menggunakan kata-kata berkonotasi. “Bukan sesak napas yang seperti itu …,” tutur Raka nyaris bergumam. “Jadi?” “Pokoknya, setelah aku bilang gitu. Noah langsung panik, dan dia memintaku untuk nggak naik ke atap gedung yang tinggi.” “Ah … ya ampun. Aku nggak nyangka Noah bisa sampai se-trauma ini gara-gara kejadian itu. Aku kira dia udah lupa.” “Aku juga mengira begitu,” balas Raka dengan suara pelan. “Tapi kenapa dia jadi menyamakan kamu dengan temannya itu?” Nirwan masih membutuhkan banyak penjelasan. “Memangnya kenapa kamu harus sampai berpikir untuk mengakhiri hidupmu? Apa kamu juga di-bully?” “Iya …,” Raka tertawa getir sebelum bergumam pelan, “di-bully Ayah sendiri.” “Apa?” Raka tiba-tiba mengeluarkan suara tawa yang tak wajar. Seolah ia hanya ingin menjadikan kalimatnya barusan sebagai sebuah candaan, dan berharap ayahnya melupakan perkataan yang baru saja keluar dari mulutnya itu. Tapi hatinya tak bisa dibohongi. Ada sesuatu di dalam dirinya yang ingin mendrobrak keluar, sesuatu yang memenuhi seluruh ruang di balik dadanya dan kembali membuatnya merasa sesak. Sensasi itu membuat mata Raka mendadak seperti tersengat sesuatu, hingga air mata pun menggenang di kelopak matanya. “Kok malah ketawa? Raka, Ayah serius, ada apa sebenarnya antara kamu dan Noah? Kalian nggak akrab?” Nirwan berkali-kali menukar arah pandangan kepada Raka dan jalan di depannya, karena selain menunggu jawaban Raka, ia juga tak ingin kehilangan konsentrasi untuk menyetir. “Ayah …,” Raka menghela napas panjang, berusaha mendorong semua emosi dan air mata kembali masuk ke dalam dirinya. Ia tak ingin menangis. “Apa Ayah tahu kalau selama ini Noah itu selalu ketakutan,” sambung Raka lagi. “Takut? Takut apa?” “Takut kalau aku membencinya.” Mulut Nirwan ternganga heran. Lagi-lagi ia harus tetap berusaha fokus pada jalanan di depannya, tapi ia juga tak bisa mencegah rasa penasaran tentang apa yang baru saja dikatakan Raka. “Tapi … kenapa?” Nirwan menuntut penjelasan lebih, “kenapa dia takut kamu bisa membencinya?” “Karena Ayah lebih sayang Noah … bukan … karena Ayah hanya sayang pada Noah.” Nirwan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ia tak menduga kalimat seperti itu akan keluar dari mulut Raka. Lelaki itu pun akhirnya memutuskan untuk menepikan mobil dan berhenti di pinggir jalan, agar ia bisa bicara dengan Raka sambil menatap mata anak sulungnya itu. “Kamu bilang apa?” tanya Nirwan lagi. Raka berusaha menstabilkan suaranya sebelum menjawab, “Karena Ayah nggak sayang sama aku …” Tapi percuma. Suaranya sudah sangat parau dan tenggorokannya terasa semakin menyempit, hingga ia tercekat di ujung kalimatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN