Chapter II-22

1023 Kata
“Posisi Andi sebagai kapten di klub badminton udah digantiin,” ulang Said. “Serius? Dapat info dari mana?” Noah masih ingin memastikan kebenaran informasi yang ia anggap terlalu bagus untuk menjadi kenyataan itu “Kamu kayak nggak tahu aku aja,” sahut Said bangga, “aku punya banyak informan handal dan kredibel.” “Jadi siapa kapten barunya? Jangan bilang kelakuannya juga sebelas dua belas sama Andi.” “Nggak … tenang aja. Kali ini kaptennya anak kelas 11, namanya Zaki, orangnya baik kok.” “Syukur lah kalau gitu.” “Aku dengar Andi juga dikeluarkan dari kelas S,” celetuk Said lagi, “jadi sekarang dia menjalani sisa tahun ajaran di kelas reguler sebelum dia lulus. Pelatih tim badminton juga diganti.” “Bentar … bentar,” Noah masih kesulitan menyesuaikan diri dengan mesin informasi yang ada di hadapannya ini, “Andi dikeluarkan dari kelas S dan bahkan sampai pelatih mereka juga dipecat?” Said mengedikkan bahunya sekilas. “Kurang tahu juga gimana detailnya. Pokoknya aku dengar waktu latihan kemarin, anak-anak klub badminton juga kaget, tiba-tiba udah ada pelatih baru.” “Wah … ini sih nggak main-main,” pikir Noah. Skalanya terlalu besar. Padahal kayaknya belum lama sejak Noah meminta bantuan ayahnya untuk menangani Andi. Tapi dampaknya sudah kelihatan secepat ini? Tunggu dulu, apa ini memang ada hubungannya dengan ayahnya? Noah berpikir kalau sepertinya ia harus segera menelepon lelaki itu dan bertanya langsung padanya. Jadi ia mengeluarkan hp dari saku celana dan menyentuh beberapa icon pada layar smartphone itu, sebelum kemudian meletakkannya di sebelah telinga. Di saat yang bersamaan, Zikri muncul dari arah Said datang tadi – sepertinya ia tergesa-gesa menyusul karena tak ingin tertinggal makan siang bersama Noah di kantin. Sementara kedua teman sekelas itu sedang cekcok perkara Zikri yang merasa ditinggalkan, seseorang menjawab panggilan telepon Noah. “Halo. Woi, ada apa?” Itu adalah cara menjawab telepon yang sangat tidak seperti ayahnya. Noah sampai harus mengecek layar hp-nya kembali untuk memastikan bahwa panggilan telepon yang dibuatnya barusan benar-benar ditujukan kepada sang Ayah. “Noah, kenapa nelpon? Ada masalah di sekolah?” tanya suara itu lagi. “Ini hp Ayah, kan?” akhirnya Noah menyuarakan pertanyaannya, “kenapa kamu yang angkat?” Terdengar suara tawa Raka di seberang sana. Tapi itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan Noah. “Raka, aku serius. Kamu ngambil hp ayah?” Noah sampai harus memperjelas pertanyaannya. “Nggak lah, udah gila apa? Mana berani aku,” jawab Raka akhirnya. “Jadi? Kamu lagi sama Ayah?” “Bingo! Benar sekali.” “Kenapa? Memangnya kamu nggak sekolah?” “Ya ini kan aku lagi di sekolah.” “Terus? Jelaskan yang benar. Jangan satu-satu gitu. Bikin orang penasaran aja.” Tepat di ujung kalimatnya itu, Noah melewati pintu kantin diikutin Said dan Zikri. Mereka langsung menemukan Rihan yang sedang duduk bersama Bayu di salah satu meja yang dekat dengan pintu. Lalu tanpa diminta pun, ketiga orang itu otomatis langsung menghampiri meja Bayu dan Rihan. “Noah, kayaknya aku bakal nyambung kuliah ke luar negeri.” Sebaris kalimat mengejutkan itu diucapkan dengan sangat ringannya oleh Raka. “Apa?” Tentu saja Noah masih kesulitan mempercayai pernyataan yang tiba-tiba itu. Tapi Raka tak keberatan untuk kembali memperjelas kalimatnya. “Aku bakal kuliah jurusan musik di luar negeri,” kata Raka lagi. Noah yakin ada senyum yang sangat lebar di wajah Raka saat ia mengatakan itu, karena suaranya terdengar sangat ceria. “Jangan main-main. Kamu udah bilang Ayah? Atau kamu mau kabur?” “Nggak lah!” bantah Raka cepat, “kenapa sih kamu curigaan terus sama aku? Aku ini anak baik-baik loh.” “Jadi gimana ceritanya?” Noah semakin tak sabar, “kenapa aku nggak pernah dengar soal rencanamu ini?” “Iya karena awalnya aku juga masih ragu, apa aku bakal bisa mewujudkan keinginanku ini atau nggak. Makanya aku sengaja nggak ngomong-ngomong.” Raka mulai menjelaskan dengan serius. “Hari ini ada konsultasi wali murid dengan wali kelas untuk menentukan karir kami setelah tamat SMA … aku juga kaget waktu Ayah muncul di sekolahku. Biasanya urusan-urusan begini kan Bunda yang datang ke sekolah, tapi hari ini Ayah tiba-tiba muncul buat gantiin Bunda.” Raka mengambil jeda sejenak karena tak bisa menahan tawa bahagianya. “Kamu pasti nggak percaya gimana kagetnya wali kelasku waktu tahu Ayah adalah ayahku. Hahaha … selama ini dia nggak tahu kalau aku ini ternyata anak dari seorang ilmuwan genius.” Raka kembali tertawa sementara Noah semakin penasaran dengan apa yang terjadi. “Terus?” desak Noah lagi. “Terus … Ayah ngobrol dong sama wali kelasku. Dan setelah diskusi yang lumayan alot – dengan berbagai macam pertimbangan dan bukti-bukti – akhirnya diambil kesimpulan kalau aku sebaiknya dibiarkan mengembangkan bakat di bidang yang memang aku minati dan aku kuasai, yaitu musik.” Karena obrolan menjadi semakin serius, Noah memutuskan untuk menjauh dulu dari teman-temannya di meja itu. Jadi ia beranjak dan memberi isyarat kepada Said dan yang lainnya, bahwa ia akan menyelesaikan panggilan teleponnya dulu. Noah menemukan sudut yang agak sepi dan memutuskan untuk melanjutkan obrolan di situ. “Gila. Wali kelasmu hebat juga bisa mendesak Ayah sampai kayak gitu,” sahut Noah. Bukan tanpa alasan Noah berkomentar demikian, karena ia memang sangat kenal siapa Nirwan. Ayahnya itu adalah lelaki paling keras kepala yang pernah ia temui. Ia nyaris tak bisa membayangkan Nirwan mendengarkan perkataan orang lain. Makanya Noah cukup takjub dengan informasi tentang guru Raka yang berhasil mempengaruhi lelaki itu. “Aku rasa, kehadiran kalian di acara konser kemarin itu sangat berpengaruh,” terang Raka lagi. “Kamu nggak tahu, kan? Hari itu, aku dan Ayah mengobrol serius dari hati ke hati. Aku ceritakan semuanya kepada Ayah … dan itu pertama kalinya aku merasa Ayah benar-benar mendengarkanku.” Raka mulai menceritakan bagaimana hari itu – setelah konser selesai dan mereka memutuskan untuk makan malam bersama sebelum mengantarkan Noah pulang ke Cendana – adalah titik balik sebuah perubahan besar dalam hubungan Raka dan ayahnya. … … … … Malam itu, Nirwan mengendarai mobilnya menuju ke SMA Cendana untuk mengantarkan Noah kembali ke asrama. Ia harus menyalakan wiper, karena hujan gerimis yang menumpuk di kaca mobil sudah mulai menghalangi pandangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN