Namun meski ritme pernapasan Noah berangsur normal kembali, ada kubangan air yang sudah terlanjur menggenang di matanya. Lalu ketika ia berkedip, setetes air mata berhasil lolos dan menetes di atas tangan Raka yang masih membekap mulut Noah.
Pelan-pelan Raka melepaskan tangannya dan duduk kembali di kursi yang berhadapan dengan Noah. Tepat di detik berikutnya, seorang pelayan datang menghampiri dan menawarkan bantuan.
“Ada yang bisa saya bantu?” tanya pramusaji itu.
“Nggak apa-apa, dia cuma kena serangan panik. Boleh minta air mineral?” ujar Raka ramah.
“Sebentar.” Sang pelayan memberi kode kepada rekannya di dekat pintu belakang, kemudian rekannnya itu pun langsung sigap mengambilkan air minum untuk Noah.
“Minum,” Raka menyodorkan minuman kepada Noah, “pelan-pelan … jangan sampai tersedak.”
Noah masih harus mengatur napas sebelum akhirnya meneguk minuman dari botol air mineral itu. Setelah suasana kembali tenang, dan orang-orang di sekitar mereka juga mulai kembali melakukan aktivitas mereka masing-masing, Raka memutuskan untuk menanyai Noah.
“Apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu sampai sepanik itu?” tanya Raka dengan intonasi yang sehalus mungkin.
Noah ingin menjawab bahwa perkataan Raka mengingatkannya kembali kepada Fajar. Tapi, Noah tak mau kalau nanti Raka menganggap semua ini terjadi gara-gara Fajar.
“Pokoknya …,” suara Noah masih belum begitu stabil, “kalau nanti napasmu sesak lagi … atau merasa seolah kamu sedang tenggelam, kamu harus ngomong ke aku ….”
“Hei, yang barusan mengalami sesak napas itu kamu, tahu?!”
“Dengarin aku dulu!” Noah setengah membentak, “pokoknya setiap kali kamu merasa kesulitan, kamu harus cerita ke aku. Walaupun aku juga nggak yakin bisa bantu kamu atau nggak, tapi kamu harus tetap kasih tahu aku, ngerti? Dan jangan pernah naik ke atap gedung yang tinggi.”
Kalimat terakhir Noah membuat Raka menghela napas seolah ia baru saja memahami alasan dibalik hiperventilasi yang dialami Noah barusan. “Apa ini tentang Fajar lagi?”
“Bukan … aku cuma …”
“Noah,” potong Raka, “nggak semua orang punya kecenderungan untuk bunuh diri. Kamu nggak perlu secemas itu, cuma karena aku merasa sedikit down. Sedikit pun aku nggak pernah kepikiran mau mengakhiri hidupku. Aku baik-baik aja, aku punya banyak teman.”
“Fajar juga punya banyak teman …,” gumam Noah pelan, “dia juga terlihat baik-baik aja. Bahkan di saat-saat terakhir hidupnya.”
“Ini nggak benar,” Raka menggeleng pelan sambil memeriksa layar hp-nya, “aku punya teman psikolog. Kurasa kamu harus menemuinya.”
“Aku nggak apa-apa!” Noah bermaksud merampas hp dari tangan Raka, tapi Raka segera menghindarinya.
“Nggak apa-apa? Udah jelas kamu masih belum bisa move on dari kejadian itu.”
“Aku cuma mau kamu janji untuk cerita ke aku kalau kamu punya masalah. Kenapa sih kamu harus membuatnya jadi rumit? Memangnya kamu segitu nggak sukanya sama aku?”
“Ngomong apa sih kamu?”
“Kamu diam-diam benci sama aku, kan? Kamu nggak suka punya adik kayak aku. Iya, kan?”
Mulut Raka merenggang tapi tak ada satu kata pun yang keluar. Ia tak tahu harus mengatakan apa. Jadi ia beranjak dari kursinya dan bermaksud ingin pergi, sebelum matanya menangkap wajah Noah yang terlihat seperti baru saja divonis hukuman mati.
Matanya yang basah membelalak menatap Raka. “So-sorry …,” katanya pelan. Suara dan sekujur tubuhnya kembali gemetar hebat. “Jangan pergi, aku minta maaf ….”
“Apa yang aku lakukan?! Kalau begini aku malah membuat traumanya jadi semakin parah!" Suara di kepala Raka berteriak keras, ia tersadar dan buru-buru menghampiri Noah lalu memeluknya.
“Udah jangan nangis, malu dilihat orang,” kata Raka sambil menepuk-nepuk punggung Noah. “Aku janji aku bakal curhat ke kamu kalau lagi butuh teman cerita, ok? Kamu juga kalau ada masalah apa-apa, bilang aja ke aku.”
Noah yang masih duduk di kursi itu pun mengangguk sambil membalas pelukan Raka dengan melingkarkan tangannya di pinggang lelaki jangkung itu.
“Raka, aku minta maaf …,” gumam Noah sambil membenamkan wajahnya pada kemeja yang dikenakan Raka, “… jangan benci aku, ya?”
Raka tertawa pelan mendengar suara Noah yang nyaris seperti rengekan anak kecil. “Bodoh, mana mungkin aku membencimu,” balasnya hangat.
Ya … Raka tak membenci Noah – kali ini ia semakin yakin kalau dirinya memang tak pernah membenci Noah. Tapi Raka juga tak bisa membantah, kalau memang ada saat-saat di mana ia berharap Noah bukanlah adiknya. Ada saat di mana Raka merasa kesal karena Noah selalu bisa mendapatkan apa yang dia mau, tanpa perlu berusaha keras.
Dan juga tentang Noah yang selalu melihat orang-orang dengan standarnya sendiri, yang kadang membuatnya tak sadar bahwa sebagai seorang Diaz Noah Arakha, tak semua orang bisa seberuntung dan seberbakat dia.
Namun, tak mungkin Raka mengatakan itu semua kepada Noah. Apalagi di saat seperti ini. Karena apapun yang terjadi, Raka tetap menyayangi Noah. Ia mengkhawatirkannya dan tak ingin ada hal buruk yang menimpa adik satu-satunya itu.
“Jangan lap ingusmu di bajuku,” celetuk Raka di ujung kalimatnya.
Noah refleks melepas pelukannya dan meninju perut Raka. Meski itu bukan pukulan yang keras, Raka mendramatisir dengan berpura-pura meringis kesakitan. Tapi kemudian ia tertawa sambil kembali duduk di kursinya.
Setelah memesan minuman yang baru – karena minuman yang ia pesan sebelumnya sudah tumpah – mereka pun menikmati makan siang yang sudah dingin itu sambil berusaha mengabaikan beberapa pasang mata yang kini melihat mereka dengan tatapan bertanya-tanya; apakah sebenarnya mereka berdua sedang shooting fim di tempat itu?
.
***
.
“Noah!”
Panggilan dari arah belakang Noah membuatnya menghentikan langkah dan menoleh ke arah si pemilik suara.
Ia menemukan Said yang sedang setengah berlari menghampirinya.
Melihat itu, Noah menahan langkah untuk menunggu Said; agar mereka bisa berjalan bersama menuju ke kantin sekolah di jam istirahat siang ini.
“Udah dengar kabar, belum?” tanya Said saat ia sudah menyamakan langkah dengan Noah.
“Kabar apa?”
“Kapten klub badminton sekarang bukan Andi lagi.”
Noah tertegun sambil lalu mengirim tatapan tak percaya kepada Said. “Ha? Gimana?” tanyanya memastikan.
“Andi udah dipecat dari posisinya sebagai kapten klub badminton,” ulang Said.