Chapter II-20

1044 Kata
“Seandainya semua orang bisa punya hidup yang mudah seperti kamu,” gumam Raka nyaris kepada dirinya sendiri, Noah bahkan tak bisa mendengarnya dengan jelas. “Gimana?” Ia meminta Raka mengulangi lagi perkataannya barusan. Raka menghela napas seolah ia sudah memutuskan sesuatu dengan berat hati. “Noah …,” katanya sambil menatap mata Noah lekat-lekat, “kalau aku bilang aku nggak apa-apa, harusnya kamu jangan mendesakku lagi. “Tapi ….” “Tapi kamu memang sangat ingin ikut campur dalam masalahku, kan?” sela Raka. “Aku beri tahu kamu, jangan pernah segampang itu menyuruh orang menjadi dirinya sendiri. Menjadi diri sendiri itu hanya benar kalau kamu udah menjadi versi terbaik dari dirimu. Kalau nggak, kamu harus rela berubah dan nggak pantas menganut motto menjadi diri sendiri.” Noah terdiam dengan alis berkerut prihatin. Sebelum kemudian ia mulai berkeringat dan wajahnya berangsur panik. “A-apa aku seharusnya nggak bilang gitu?” tanyanya dengan rasa bersalah yang tiba-tiba menyerang. “Ya … sebenarnya yang bermasalah itu aku sih.” Raka tak tahu bagaimana ia harus menjelaskan kepada Noah, bahwa mendengar Noah memberi saran agar Raka menjadi dirinya sendiri itu terasa sangat menyebalkan. Terlebih lagi, yang mengatakan itu adalah Noah, si adik kandung yang memiliki segala apa yang diinginkan oleh Raka. Di mata Raka, Noah tak akan pernah mengerti. Karena memang umumnya, orang-orang genius tak akan pernah bisa memahami perasaan orang normal. Wajar bagi orang normal seperti Raka untuk memiliki rasa inferior dan perasaan kalah di hadapan seorang genius; walaupun sebenarnya akan lebih baik kalau Raka bisa fokus kepada kemampuannya sendiri daripada memikirkan kegeniusan orang lain. Tapi itu hanya mudah untuk dikatakan. “Nggak peduli berapa kali pun aku coba. Hasilnya tak pernah sesuai harapan,” kali ini Raka bicara sambil memutar-mutar sendok di atas piring yang makanannya belum tersentuh itu, “hasilnya akan selalu sama. Walaupun aku selalu berusaha mengubahnya.” Suara Raka semakin terdengar redam, seolah ia hanya ingin mengatakan semua ini kepada dirinya sendiri. Karena meskipun Raka tahu ini bukan salah Noah, tapi ia juga ingin menyalahkan Noah. Ini adalah hal yang sangat sulit untuk dijelaskan. “Orang-orang bilang, aku udah melakukan yang terbaik, aku udah mencoba dan hasilnya sebenarnya nggak buruk. Tapi … mungkin karena ada Noah di dekatku, standarnya jadi ketinggian, dan aku akan selalu terlihat buruk,” sambung Raka lagi. Ia lalu mengalihkan pandangan kembali ke langit yang tak biru pada ruang terbuka di sebelah mereka, sebelum melanjutkan, “Kadang muncul pikiran, bagaimana jika seandainya adikku bukan kamu? Apa mungkin aku akan merasa lebih baik?” Deg! Jantung Noah seolah baru saja dihantam benda yang sangat besar dan keras. Sebenarnya, ia sudah lama merasa cemas kalau Raka akan menyimpan pemikiran seperti itu. Tapi, Noah tak menyangka akan tiba hari di mana ia mendengar perkataan itu keluar langsung dari mulut Raka. Ini adalah hal yang paling ia takutkan; dibenci oleh satu-satunya saudara kandung yang ia miliki. Noah menjadi semakin kacau, pemandangan di sekitarnya seolah meleleh dan ia merasa seperti dikelilingi kebisingan yang berasal dari segala ketakutan di dalam dirinya. Raka yang tak begitu memperhatikan, akhirnya memindahkan pandangan matanya yang menerawang kembali kepada Noah. Ia berusaha tertawa dan menceriakan suasana. “Tapi aku rasa bukan karena itu sih. Mau siapapun saudaraku, mau aku ini anak tunggal atau nggak, tetap aja nggak bakal ada yang berubah. Apa boleh buat, kan? Memang aku yang nggak bakat.” “Aku minta maaf …” Noah tak mendengar perkataan Raka lagi. Wajahnya sudah semakin kehilangan warna. Tak hanya itu, tanganya pun tampak gemetar ketika ia berusaha meraih tangan Raka di atas meja. Sepertinya Raka baru saja men-trigger[1] trauma Noah. Ya … tentu saja, kematian Fajar yang masih menyisakan trauma mendalam di diri Noah, membuatnya takut membayangkan masa depan Raka yang berakhir secara tiba-tiba, seperti Fajar. “Barusan kamu bilang napasmu sesak. Jadi kupikir … aku harus mengatakan sesuatu yang bisa membuatmu jadi merasa lebih baik.” Bahkan suara Noah pun mulai ikut tremor. Ia masih mengingat dengan jelas isi surat terakhir yang ditinggalkan Fajar sebelum mengakhiri hidup. Fajar bilang, ia selalu merasa seperti sedang tenggelam sementara orang lain di sekitarnya bisa bernapas seperti biasa. Noah takut jika Raka merasakan hal yang sama, maka Raka akan memilih jalan yang sama dengan Fajar. “Aku cuma mau jadi teman ceritamu. Aku pasti bakal dengarin kamu …” Noah kembali berusaha menjelaskan, meski ritme pernapasannya mulai tak teratur. “Apa ini salahku? Apa aku yang bikin kamu merasa terdesak sampai napasmu sesak? Apa yang harus kulakukan … supaya kamu merasa lebih baik? ” “Noah …,” Raka menyentuh punggung tangan Noah yang tampak gemetar di atas meja, “kamu harus tenang dan tarik napas dalam-dalam.” Dengan kedua tangannya, kali ini Raka menggenggam tangan Noah cukup erat demi untuk menenangkannya. Tapi napas Noah terlihat semakin cepat, matanya berair, dan bulir keringat juga muncul satu per satu di keningnya. Raka jadi curiga kalau Noah sedang mengalami hiperventilasi[2]. Ia pun segera berdiri dan membekap mulut Noah dengan erat – ia bahkan tak peduli saat gerakan tiba-tiba itu membuat gelas minumannya terjatuh di atas meja dan menumpahkan nyaris seluruh isinya. Raka dan Noah mulai menarik perhatian orang-orang yang dekat dengan meja mereka. Tapi Raka tak punya waktu untuk mengkhawatirkan itu. Karena saat ini, membekap mulut Noah adalah cara paling tepat untuk menangani serangan panik yang sedang dialami Noah. Umumnya, pernapasan normal adalah menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Namun, orang yang sedang mengalami hiperventilasi biasanya bernapas cepat dan berlebihan. Akibatnya ia mengembuskan napas lebih banyak daripada menghirup. Hal itu akan membuat karbon dioksida dalam tubuh menjadi berkurang. Itu sebabnya, penanganan yang paling tepat adalah membuat Noah bernapas di dalam kantong plastik atau kantong kertas. Tapi karena saat ini Raka tak bisa menemukan kedua benda itu, ia menggunakan cara lain, yaitu menghalangi jalur pernapasan Noah dengan membekap mulutnya. Namun, meski ritme pernapasan Noah berangsur normal kembali, ada kubangan air yang sudah terlanjur menggenang di matanya. Dan ketika Noah berkedip, air mata itu pun jatuh menetes di atas tangan Raka yang masih membekap mulutnya. . ___ ___ ___ ___ ___ [1] Trigger adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perasaan yang memicu ingatan menyakitkan atau memori traumatis, yang dapat menyebabkan peningkatan reaksi emosional [2] Hiperventilasi ditandai dengan napas yang sangat cepat. Kondisi ini umumnya dialami seseorang saat merasa cemas dan panik berlebihan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN