“Ayah datang ke sekolahmu?” tanya Raka. Sepertinya ia jadi lebih tertarik tentang hal itu dibandingkan dengan pembicaraan mereka sebelumnya.
Noah mengambil jeda sesaat sebelum menjawab. “Iya, kemarin dia tiba-tiba aja muncul terus kami sempat ngobrol sebentar di lounge asrama.”
Mendapatkan reaksi yang beku dari Raka, Noah jadi merasa bersalah karena mengungkit tentang hal itu di hadapan Raka.
Apa mungkin Raka merasa cemburu karena ayah mereka sampai rela menempuh perjalanan jauh, demi menemui Noah di sekolahnya yang terletak di lokasi terpencil itu?
“Oh …,” Raka memaksakan senyum di wajahnya, “kok tumben banget. Ngobrolin apa dia?”
“Ng … yah, biasalah.” Noah berusaha menata kalimatnya dan lebih berhati-hati dengan ucapannya kali ini. “Soal hobiku main basket. Apa lagi kalau bukan itu? Haha …”
Bahkan tawa di ujung kalimat Noah juga terdengar canggung. Sementara Raka yang tak ingin wajah masamnya terlihat jelas, mencoba untuk menyamarkannya dengan senyum – yang sayangnya – juga terlihat canggung.
Nirwan, ayah mereka, sangat memperhatikan apapun yang dilakukan Noah. Baik hal positif maupun hal yang ia anggap negatif. Mulai dari prestasi Noah di bidang akademis, sampai ke masalah hobi Noah dalam dunia olahraga.
Intinya, apapun yang dilakukan Noah, Nirwan akan selalu memperhatikannya.
Sangat bertolak belakang dengan Raka. Baik dari nilai pelajarannya yang biasa-biasa saja sampai ke bakatnya di bidang seni seperti tergabung dalam grup band, tak satu pun yang ia lakukan berhasil menarik perhatian Nirwan.
Kasarnya, bisa dikatakan bahwa Nirwan tidak tertarik bahkan tak pernah melirik Raka sama sekali. Setidaknya, itulah yang dirasakan Raka selama ini.
Berkali-kali ia meyakinkan dirinya bahwa semua ini terjadi bukan karena salah Noah, melainkan karena dirinya sendiri yang memang serba kekurangan.
Jika Raka tak menekan perasaan irinya terhadap Noah jauh ke lubuk hatinya yang terdalam, mungkin saat ini ia pasti sudah sangat membenci Noah.
“Coba telepon Ayah, mungkin dia sibuk dan nggak sempat lihat pesan di hp-nya,” saran Noah, berharap Nirwan akan mengangkat telepon dan bicara dengan Raka. Siapa tahu dengan begitu perasaan Raka akan jadi lebih baik.
Raka menuruti saran Noah dan mulai menekan beberapa icon pada layar hp. Sambil menunggu panggilan teleponnya diangkat, pesanan mereka pun datang dan disusun satu per satu di hadapan mereka di atas meja itu.
Namun hingga dua piring makanan utama, dua gelas minuman dan sepiring kecil kentang goreng sudah terhidang, panggilan telepon Raka masih belum dijawab.
“Nggak diangkat,” jawab Raka sembari menunjukkan layar hp-nya kepada Noah.
“Lagi ngapain sih dia?” gerutu Noah jengkel. Tanpa pikir panjang ia juga langsung mengambil hp untuk melakukan hal yang sama dengan Raka; menelpon ayah mereka.
“Halo.”
Ternyata tak perlu menunggu lama, terdengar jawaban Nirwan dari seberang sana, hanya setelah beberapa kali bunyi beep.
“Diangkat?” tanya Raka.
Noah berpikir cepat untuk melindungi perasaan Raka. Ia sengaja tak langsung menjawab suara Nirwan dan berpura-pura masih menunggu telepon diangkat.
“Noah? … Halo, ada apa?” tanya Nirwan lagi.
“Ah …,” Noah memutuskan waktunya sudah cukup untuk membuat kesan bahwa Noah juga menunggu lama sampai panggilannya dijawab, “Ayah … di mana? Lagi ngapain sih? Dari tadi diteleponin nggak ngangkat-ngangkat.”
Noah mengacungkan jempolnya kepada Raka, memberikan kesan bahwa ia juga merasa lega karena panggilan teleponnya akhirnya dijawab.
“Hari ini Ayah datang, kan? … iya … kan Raka udah ninggalin pesan. Tiketnya juga udah disediakan untuk Ayah dan Bunda … iya … pokoknya Ayah harus datang. Katanya mau baikan sama Bunda, gimana sih? Ayah masih sayang nggak sama Bunda?”
Di tengah percakapan itu, sesekali sudut mata Noah melirik ke arah Raka yang sejak tadi mengaduk minuman dinginnya sambil menopang dagu menatap Noah. Noah bisa melihatnya … Raka berusaha melengkungkan bibir untuk membentuk senyuman.
Melihat adiknya bisa bicara sesantai itu dengan lelaki yang selama ini ia rasa bagaikan gunung yang sangat tinggi, Raka merasa keberadaannya sangat kecil.
Ia membutuhkan usaha yang luar biasa keras, bahkan hanya untuk sampai ke kaki gunung itu. Tapi Noah seolah bisa berlari biasa saja, seolah ia tak perlu berkeringat untuk bisa mencapai puncak.
Noah bisa berbincang-bincang dengan ringan dan tanpa beban dengan sosok ayah yang bahkan tak menoleh saat menatap Raka. Di dalam ingatan Raka, hanya bola mata Nirwan yang biasanya akan bergerak kalau ia sedang menatap Raka.
Tatapan dari sudut mata Nirwan itu, terlihat seperti tatapan yang sedang menghakimi dan mengukur nilai seorang Raka. Tak jarang Raka menemukan cara Nirwan memandangnya seperti orang yang sedang menatap lalat di piring makanannya.
“Ayah bilang, dia akan menjemput Bunda di gym.”
Tanpa disadari, ternyata Noah sudah menyelesaikan pembicaraannya di telepon dengan Nirwan.
“Memangnya Bunda lagi ada di gym yang mana?” tanya Raka memastikan. Karena memang saat ini bunda mereka memiliki beberapa cabang yang tersebar di beberapa kota.
“Nggak tahu, yang di dekat rumah kali.” Noah mengangkat bahunya cuek sambil lalu menggeser minuman yang ia pesan agar lebih dekat ke hadapannya.
Raka tersenyum kecut. Perlahan ia mulai mengalihkan pandangan pada hamparan langit terbuka di sebelah mereka.
Hari ini langit tidak biru, tidak juga kelabu.
Tidak ada angin yang berembus … tidak menenangkan sama sekali.
“Napasku sesak …” Tanpa ia sadari, Raka menyuarakan batinnya.
“Kenapa?”
Dan Raka agak kaget saat Noah menanggapinya dengan pertanyaan itu, karena ia benar-benar tak bermaksud membiarkan Noah mendengar apa yang sedang dipikirkan dan dirasakannya.
“Nggak … bukan apa-apa,” jawab Raka sambil mulai menggeser makanan pesanan Noah ke hadapan adiknya itu, “ayo kita makan aja.”
Tapi Noah sudah terlanjur tak bisa mengabaikan apa yang baru saja ia dengar. “Apa kamu kepikiran tentang sikap Ayah lagi?”
“Ck!” Raka berdecak agak kesal sambil kembali menegaskan. “Udah cepat makan, kita nggak bisa lama-lama.”
“Raka … aku serius. Jangan selalu bilang nggak ada apa-apa,” Noah mulai memelas, “kamu nggak perlu ambil pusing dengan sikap Ayah. Dia begitu sama semua orang. Aku kan udah pernah bilang, kamu juga punya banyak bakat dan kelebihan. Jadi nggak usah khawatir …. Kamu cuma perlu jadi dirimu sendiri.”
“Seandainya semua orang bisa punya hidup yang mudah seperti kamu,” gumam Raka nyaris kepada dirinya sendiri, Noah bahkan tak bisa mendengarnya dengan jelas.