Chapter II-18

1057 Kata
“Ngomong-ngomong, kamu nggak pa-pa tampil di panggung kayak gitu?” Noah bertanya sambil berteriak untuk menyaingi suara angin yang berderu, “bukannya kalau acara konser gitu biasanya bakal ada banyak kamera?” “Ha?” Raka juga berteriak untuk meminta Noah mengulangi pertanyaannya. “Acara konser gitu kan biasanya ada banyak kamera. Kamu nggak pa-apa?” ulang Noah lagi. “Ha? Nggak dengar! Udah nanti aja nanyanya pas kita udah sampai di tempat makan.” Noah setuju dengan perkataan Raka. Sebaiknya memang dia berkonsentrasi mengendarai motor saja. Mereka bisa ngobrol dengan tenang setelah tiba di tempat tujuan. Pertanyaan Noah tadi sebenarnya bukan tanpa alasan. Karena setahu Noah, Zayn Rafi Arakha, kakaknya yang biasa dipanggil dengan nama kecil Raka itu sempat memiliki fobia terhadap kamera. Ia selalu merasa tak nyaman jika berhadapan dengan lensa kamera, dan hal itu berawal saat ia berusia 8 tahun. Waktu itu Raka diajak ke acara penganugerahan tanda jasa yang akan langsung diberikan oleh pemimpin negara. Ayah mereka, Nirwan, berhasil menemukan sebuah teknologi baru yang sangat bermanfaat untuk dunia kedokteran. Ia menjadi sorotan di mana-mana, bahkan sampai dunia internasional. Jadi, tentu saja akan sangat memalukan jika negara tidak memberikan penghargaan apapun untuknya. Maka dari itu, acara penganugerahan tanda jasa itu digelar, dan banyak wartawan yang diundang. Karena Raka terus berada di sebelahnya – sementara Noah yang masih kecil selalu bersama Bundanya – maka tak jarang wartawan ikut mengarahkan kamera atau bahkan alat perekam suara ke hadapan Raka, disertai dengan pertanyaan-pertanyaan seperti: “Nak Rafi … kamu pasti bangga sekali memiliki ayah sehebat ini, apa kamu punya cita-cita untuk menjadi seperti ayahmu?” Raka tak pernah membenci ayahnya. Sebaliknya, ia sangat mengagumi Nirwan. Itu sebabnya ia selalu berusaha keras meningkatkan nilai-nilai pelajaran di sekolahnya. Berada dalam peringkat 5 besar di kelas, mengikuti berbagai les tambahan, membaca berbagai macam buku yang bisa menambah wawasan di bidang yang sama dengan Nirwan, dan segala macamnya. Namun, saat Noah kelas 3 SD, ia mulai menunjukkan prestasi yang lebih cemerlang. Noah tak pernah lengser dari ranking 1 hingga tamat SD. Hanya saat ia menjadi anak SMP dan mengenal basket, peringkat Noah mulai menurun meski masih selalu berada dalam ranking 3 besar di kelas. Sementara Raka, nilai-nilai pelajarannya memang tidak buruk, tapi juga tidak istimewa. Dan ketika ia duduk di bangku SMA, ia mulai berhenti mencoba menjadi seperti ayahnya. Ia bahkan tidak lagi masuk dalam peringkat 10 besar di kelas. “Gimana sekolah? Aman?” Raka berinisiatif memulai obrolan santai sambil menyodorkan salah satu daftar menu ke hadapan Noah. Mereka sudah berada di sebuah café bernuansa vintage dengan d0minasi perabotan berbahan kayu yang lokasinya tak jauh dari acara konser akan diadakan. Ada berbagai macam ornamen antik yang dipajang di beberapa sudut café, dan suasananya cukup tenang. Cafenya tidak ramai, tapi juga tidak sepi. Ada beberapa pengunjung dan mereka semua memilih untuk duduk di ruangan ber-AC. Sementara Noah dan Raka memutuskan untuk duduk di bagian samping café yang merupakan ruangan semi outdoor. Bagian semi outdoor itu sebenarnya diperuntukkan bagi mereka yang ingin merokok, tapi untungnya saat ini tak ada orang lain di situ. “Aman,” jawab Noah sambil membolak-balik buku daftar menu untuk mencari makanan dan minuman yang pas dengan seleranya. “Kalian udah ujian tengah semester, kan? Hasilnya gimana? Kamu itu … jangan gara-gara sibuk basket terus nilai-nilai pelajaranmu jadi jeblok, ya. Nanti Ayah marah loh.” “Enak aja. Nilai UTS-ku kemarin jadi yang terbaik, tahu!”. “Terbaik di kelas?” “Terbaik se-angkatan.” “Heh?! Yang benar kamu? Memangnya anak-anak yang sekolah di Cendana pada b.e.g.o semua apa gimana?” “Nggak tahu. Iya kali.” Noah mengedikkan bahu cuek sebelum kemudian memanggil seorang pelayan yang kebetulan melintas. Sementara Noah mulai menyebutkan makanan dan minuman yang ia pesan, Raka menatapnya sambil berpikir bahwa memang … sesuatu yang membutuhkan kerja keras bagi Raka, akan selalu bisa didapatkan Noah tanpa perlu bersusah payah. Perasaan seperti ini sesekali muncul di dalam benak Raka. Ia tak membenci Noah, tapi ia juga tak bisa mencegah rasa iri yang kadang menyeruak dari dalam dirinya. Dalam hati, sebenarnya Raka juga ingin membanggakan diri di depan Noah. Tanpa ia sadari, Raka seolah ingin menunjukkan kepada Noah bahwa ia punya banyak teman, bahwa ia juga punya bakat dan mengungguli Noah dalam beberapa hal, bahwa ada sesuatu yang bisa ia lakukan lebih baik dari Noah. “Kamu itu sebenarnya cara belajarnya gimana sih?” tanya Raka akhirnya, sesaat setelah pelayan café itu mencatat pesanan mereka berdua. “Padahal kan kamu sibuk latihan basket. Kapan belajarnya?” “Aku belajar pas guru menerangkan di kelas. Kalau ada yang nggak paham aku langsung tanya aja. Memahami dan menguasai pelajaran cukup di kelas aja. Jadi aku nggak perlu ngulang pelajaran kalau udah keluar dari kelas. Semuanya udah di kepala. Kalau mau ujian tinggal baca-baca sedikit aja, sekadar untuk mengingat kembali.” “Maksudmu kamu nggak pernah belajar lagi di luar kelas? Belajar di rumah apa di asrama gitu misalnya?” “Nggak. Kan udah dibilang aku cuma belajar di kelas aja, waktu guru menerangkan, langsung dipahami baik-baik. Jadi pas mau ujian nanti tinggal baca garis-garis besarnya aja, nanti bakal ingat semua itu pelajarannya, muncul sendiri di kepala. Kan udah dipahami semua. Intinya sih dipahami, bukan dihafal.” “Njir … apa ini yang namanya genius kali ya?” Raka bergumam sambil menatap Noah takjub. “Ha?” “Nggak bukan apa-apa … ngomong-ngomong, kamu tahu kan yang konser nanti itu band favoritnya Bunda,” Raka buru-buru mengalihkan pembicaraan, “aku udah ninggalin tiket konsernya di rumah dan ngirim pesan ke Ayah. Aku bilang kalau dia harus mengajak Bunda nonton supaya mereka bisa baikan lagi. Siapa tahu mereka bisa damai setelah melihat betapa kerennya anak sulung mereka di panggung.” “Hahaha … Ide bagus,” puji Noah bangga, “mereka udah bilang bakal datang?” “Belum tahu sih.” “Kamu kayak nggak tahu sifat Ayah aja. Gimana kalau dia cuek dan nggak mau ngajak Bunda?” “Iya juga ya. Apa perlu aku telepon?” “Ya, coba aja. Soalnya kemarin dia datang ke asramaku, kayaknya dia nggak ada ngomongin tentang nonton konser. Memangnya kapan kamu ngirim pesan ke Ayah? Yakin dia udah baca itu pesannya?” Raka terperangah beberapa saat. Alih-alih menjawab pertanyaan Noah, ia malah jadi lebih penasaran tentang apa yang baru saja dikatakan Noah. “Ayah datang ke sekolahmu?” tanyanya kemudian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN