“Kamu berkelahi?” Raka secara bergantian menatap Noah dan keempat orang itu lagi.
“Hampir,” balas Noah sambil lalu mengalungkan lengannya di leher Raka dan memaksanya berjalan mundur menjauhi lapangan basket.
“Bentar. Serius nih. Kamu kalau mau berantem aku bakal panggil teman-temanku ke sini,” kata Raka. Ia mulai melempar tatapan mengancam ke arah sekelompok orang itu.
“Nggak usah sok keras. Kamu ini musisi atau preman?”
Noah memutuskan untuk menyudahi semua itu dengan menyeret Raka pergi dan tak membiarkannya terlibat lebih jauh lagi.
“Kak Noah!” Eri yang masih berdiri di pinggir lapangan sambil memeluk bola basketnya, akhirnya memberanikan diri memanggil Noah setelah selama beberapa saat tadi ia hanya mengamati dan tak berani menyela.
Noah berbalik dan melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan.
Tapi sepertinya Eri tak begitu puas dengan pertemuan singkat mereka. “Nanti kita bisa ketemu lagi, kan?” tanyanya memelas.
“Kalau kamu datang nonton Kejurnas Basket tingkat SMA, kita bakal ketemu lagi,” jawab Noah sambil lalu, “pokoknya kalau kamu jadi pemain basket yang hebat dan berperilaku baik, kita bakal ketemu lagi.”
Noah mengacungkan jempol ke arah Eri, dan dibalas dengan senyuman oleh bocah itu.
Saat melanjutkan langkahnya untuk pergi, Noah menyempatkan diri melihat ke arah empat orang yang masih terpaku di tempat mereka berdiri.
“Sampai ketemu di Kejurnas,” pamitnya sembari mengirimkan senyum sombong ke arah Samir yang tampak semakin mendidih.
“Udah, kuhajar aja deh kayaknya itu orang.” Samir kembali berusaha melepaskan diri dari Haris yang masih memegangi lengannya.
Namun yang menghentikan Samir berikutnya adalah Yohan.
“Aku ingat sekarang,” seru Yohan tiba-tiba, “pantas aja wajahnya nggak asing.”
“Wajah siapa?” tanya Damar di sebelahnya.
“Itu tadi yang datang menjemput Noah,” jawab Yohan sambil masih berusaha mengingat-ingat.
“Ngapain dipikirin sih? Nggak penting juga,” gerutu Samir kesal, “aku sama Haris udah jauh-jauh datang ke sini. Lebih baik kita lupain masalah yang tadi dan balik latihan lagi aja.”
“Oh iya!” Yohan tak mempedulikan omelan Samir barusan dan malah berhasil menggali ingatannya kembali. “Aku hampir aja dapat masalah. Aku ingat sekarang, mereka itu anaknya Prof. Nirwan.”
“Siapa?” Ketiga temannya tampak belum menangkap inti dari pembicaraan Yohan.
“Prof. Nirwan itu ilmuwan terkenal yang prestasinya bahkan udah dikenal di seluruh dunia. Dia berkali-kali mendapatkan penghargaan karena jasanya di bidang ilmu pengetahuan.”
“Iya, terus?”
“Dia pemilik Arajaya,” terang Yohan lagi.
“Ha? Si Noah itu anak pemilik kampus Arajaya?” Samir menolak percaya..
Yohan membalas dengan anggukan sebelum menerangkan kembali. “Aku pernah lihat yang tadi datang menjemput Noah itu membonceng Prof. Nirwan ke kampus naik motornya – karena katanya waktu itu mobil Prof. Nirwan mogok.”
“Ya … terus hubungannya sama Noah apa?” Samir berusaha menyanggah lagi.
“Aku dengar dia berteriak kepada Prof. Nirwan supaya mengingat hari ulang tahun Noah; sekarang aku baru sadar kalau Noah yang dia maksud adalah Noah yang ini,” jelas Yohan lagi.
“Ah … Kak Yohan jangan main cocoklogi begitu dong,” kilah Samir. “Nggak mungkin lah si Noah itu berasal dari kalangan elite. Dia jadi pemain keempatnya Red Phantom aja udah cukup mengejutkan. Berikutnya mau ada fakta apa lagi? Dia jadi cucunya Presiden?
“Kayaknya Yohan nggak bercanda,” Damar menunjukkan layar hp-nya ke hadapan Samir dan Haris, “barusan aku search di internet. Waktu kecil mereka bahkan beberapa kali muncul di TV bersama ayah mereka.”
Samir pun terdiam seribu bahasa. Wajahnya memerah karena rasa kesal bercampur malu, mengingat bagaimana ia tadi membangga-banggakan Arajaya dan Red Phantom di hadapan Noah.
“Dalam hati, dia pasti menertawakanku habis-habisan,” sesalnya bercampur jengkel.
…
Meski sudah berada di area parkir motor, Raka masih mengomel sambil menyodorkan helm ke tangan Noah. “Itu kayaknya seragam olahraga anak sekolah lain. Mau apa mereka main keroyokan gitu?”
“Nggak ada yang main keroyokan. Lagian yang anak sekolah lain itu kan cuma dua orang,” sahut Noah sambil naik ke boncengan motor yang dibawa Raka.
“Memang cuma berdua, tapi mereka kan bawa dua orang lain lagi. Sementara kamu cuma sendirian. Kalau aku nggak datang tadi, apa nggak dikeroyok kamu?”
“Nggak usah lebay. Udah cepat jalan.” Noah menepuk punggung Raka cukup keras.
Tapi Raka membalasnya dengan tepukan juga di helm Noah hingga visor/kaca helm itu turun dan membuat Noah harus menaikkannya lagi.
“Kita makan dulu, yuk,” ajak Raka sambil mulai mengendarai motor sport berwarna hijau-hitam yang cukup mencolok itu.
“Gladi resiknya gimana?”
“Mulainya nanti agak siangan.”
“Oh … ya udah. Kamu yang traktir, kan?”
“Hei, kalau aku yang ngajak, kamu nggak usah nanya siapa yang traktir. Tenang aja.”
“Ok.”
“Pokoknya, kalau ada yang jahatin kamu, bilang ke aku. Aku punya banyak teman, nggak kayak kamu.”
“Aku bukan anak kecil. Lagian siapa bilang aku nggak punya banyak teman?”
Raka tertawa mendengar kalimat balasan Noah. Ia mengatakan sesuatu di sela tawa, tapi deru angin yang disebabkan laju motor itu membuat telinga Noah tak bisa menangkap suara Raka dengan baik.
“Ha? Apa?” Noah agak berteriak memintanya mengulangi kembali perkataannya.
“Bilang ‘iya’ aja kenapa sih? Sekali-sekali kamu juga punya kekurangan kek,” ulang Raka.
“Apa?! Sumpah nggak dengar.” Noah lagi-lagi meminta Raka mengulangi perkataannya.
Tapi alih-alih mengulangi kalimatnya, Raka akhirnya hanya menanggapi dengan tertawa dan memutuskan bahwa Noah tak perlu mendengarkan perkataan konyolnya itu.
Raka, si sulung, sebenarnya bukan kakak yang buruk. Dia bukan anak yang tak bisa diatur ataupun suka membangkang. Raka hanyalah seorang remaja berjiwa bebas yang sejatinya tak pernah banyak menuntut.
Mirip dengan Dian, bunda mereka, Raka memang bukan orang yang pandai menyembunyikan emosinya.
Kalau marah ia akan menunjukkan amarahnya.
Kalau sedih, ia tak akan berusaha menyembunyikan air matanya.
Kalau tidak suka dengan seseorang atau sesuatu, ia juga tak akan segan-segan mengatakannya secara langsung.
Untuk yang terakhir itu, ia mirip dengan Nirwan.
“Ngomong-ngomong, kamu nggak pa-pa tampil di panggung kayak gitu?” Noah kembali membuka suara meski harus sambil berteriak untuk menyaingi suara angin yang berderu.