Chapter II-16

1077 Kata
Di waktu jeda yang singkat tadi Noah sempat memberi arahan kepada Eri, bagaimana cara memanfaatkan tubuhnya yang kecil dan lincah untuk defense. “Biarkan lawan lewat,” ujar Noah sesaat tadi. “Waktu lawan mengira ia sudah bebas, tusuk bola dari belakang.” “Ha? Tusuk?” Eri tak begitu paham. “Iya, pukul bolanya dari belakang dan usahakan ada rekan satu timmu di depan, supaya dia bisa menangkap bola liar yang barusan kamu pukul,” terang Noah. “Lebih bagus lagi kalau kamu bisa tangkap sendiri bola yang lepas dari tangan lawanmu itu.” Mengingat nasihat yang diberikan Noah, Eri sengaja melonggarkan penjagaan dan membiarkan Samir melewatinya. Samir mengira ia sudah lepas dari penjagaan, padahal di belakangnya Eri sedang mengincar bola yang sedang ia dribble. Detik berikutnya Samir sudah kehilangan bola. Eri berhasil memukul bola dari belakang dan, tentu saja, tanpa mengenai tangannya Samir. Bola liar didapatkan oleh Haris tepat sebelum keluar dari garis pinggir lapangan. Namun ia tak punya banyak waktu karena Noah langsung bersiap untuk menghadangnya. Tak punya pilihan lain, akhirnya Haris nekat melakukan shoot dari high post, dan tembakannya gagal. Tapi Samir mendapatkan rebound, ia hanya butuh melompat dan lay up ringan dari bawah ring. Skor kembali seri, 2 – 2. “Sorry, Kak.” Eri tertunduk lesu karena tak satu pun usaha yang dilakukannya berhasil. “Nggak perlu minta maaf, yang tadi itu udah bagus kok.” Noah menepuk pelan punggung Eri, sekaligus sebagai isyarat agar ia keluar dari garis 3 poin dan menerima bola yang dilemparkan Noah. Saat bola ditangkap Eri di luar garis 3 poin, ia melihat Noah menunjuk ke arah ring. Itu artinya Noah menyuruh Eri untuk langsung tembak. Samir yang awalnya ogah-ogahan menjaga Eri, kali ini tampak serius. Tapi tentu saja ia tak pernah menyangka kalau Eri akan menembak dari posisi sejauh itu. Lemparan bola Eri menuju ring sengaja dibuat melambung tinggi untuk menghindari blok dari Samir dan Haris. Tapi lintasan tembakan dari jauh yang dilepaskan Eri itu terlihat menurun sebelum waktunya. Bisa diperkirakan bola tak akan sampai ring. Otomatis Samir dan Haris pun yakin bahwa pada akhirnya Noah lah yang akan menembak. Itu sebabnya Samir meninggalkan Eri dan ikut membantu Haris untuk merebut bola rebound di bawah ring. Mereka sangat yakin, Noah akan menyambut bola yang tak sampai itu untuk melakukan alley oop. Biasanya memang setiap kali Noah ikut dalam memperebutkan rebound, maka dapat dipastikan perebutan bola akan menjadi pertarungan di udara. Dan benar saja, bersamaan dengan Noah, Haris dan Samir melompat untuk mendapatkan bola yang tak menyentuh ring itu. Tangan Noah menyentuh bola lebih dulu. Ia hanya perlu memberikan sedikit dorongan pada bola yang melenceng itu agar masuk ke dalam lingkaran ring. Hampir di semua kesempatan yang ada, Noah akan selalu menuntaskan rebound dan shoot hanya dengan satu lompatan. Dengan kata lain, bola rebound akan ditangkap lalu langsung dimasukkan ke ring saat ia masih berada di udara; tanpa perlu mendarat lebih dulu dan mengulang lompatan lagi. Namun kali ini tidak. Ternyata Noah memutar pergelangan tangannya untuk mengarahkan bola kembali kepada Eri yang berdiri bebas di area high post. “Kamu yang selesaikan!” serunya tepat saat operan tak terduga darinya itu berhasil ditangkap Eri. Ada senyum yang lebar di wajah Noah saat melihat gerakan jump shoot Eri yang percaya diri, sementara Haris dan Samir sudah terlambat melakukan blocking. Bagi Noah, tak masalah jika seorang olahragawan merasa percaya diri dan menganggap dirinya berbakat. Itu bagus. Tapi tentu saja semua itu akan menjadi hal yang positif selama ia masih bisa menghargai rival maupun rekan setimnya. Eri memang harus diajarkan tentang kekalahan. Namun, bukan berarti kepercayaan diri bocah itu harus dijatuhkan hingga membuatnya putus asa. Noah memang sempat kesal dengan sikap Eri yang tidak sopan dan terkesan merendahkan orang lain, tapi Noah juga mengakui bahwa Eri berbakat. Itu sebabnya, Noah ingin melihat anak-anak seperti Eri mengembangkan bakat yang mereka miliki sambil tak lupa belajar tentang moral, agar ia mampu mencapai prestasi tinggi tanpa harus menginjak-injak orang lain. Agar tidak ada lagi … kasus yang sama seperti yang menimpa Fajar di dunia atlet profesional. Blush! Bola yang ditembak Eri masuk dengan mulus, tanpa menyentuh bibir ring. Samir dan Haris hanya bisa terdiam di tempat mereka berdiri sambil mengatur napas yang terengah-engah. Mereka tak menduga akan mendapatkan hasil seperti ini. “Yes! Kita menang, Kak!” Eri berlari menghampiri Noah dan mengangkat tangannya untuk menawarkan tos. Noah pun menyambut tosnya dengan cukup keras – sampai membuat Eri agak meringis. Tapi ia langsung merangkul pundak bocah itu, bermaksud sedikit memberikan wejangan padanya di pinggir lapangan. Saat melintas di hadapan Samir, Noah berhenti sejenak untuk meninggalkan kesan yang akan selalu diingat anak Bima Sakti itu. “Di atas langit masih ada langit, kan?” ujar Noah pelan. “Kalau kemampuan Bima Sakti seperti ini, jangan harap kalian bisa mempertahankan gelar juara tahun ini.” “Apa kamu bilang?!” Emosi Samir siap meledak. Tapi Noah tak memedulikannya dan hanya berlalu pergi bersama Eri. Haris harus sedikit menahan Samir agar tidak menyusul Noah yang sudah beberapa langkah meninggalkan mereka. “Udah … nggak usah dipikirin. Ngapain kamu emosi cuma karena permainan kayak gini.” Damar juga ikut menenangkan Samir. “Sebentar! Hei! Tarik kembali omonganmu barusan!” Samir masih ngotot ingin membuat perhitungan dengan Noah. Noah berbalik menanggapi panggilan Samir. Ia ingin mengatakan bahwa merekalah yang lebih dulu memprovokasinya, namun di saat yang bersamaan Raka muncul dari arah gerbang taman. “Udah lama? Sorry, ya …,” ia menangkupkan tangan dengan wajah memelas, “kamu lagi sama teman?” Perhatian Raka kemudian tertancap pada sosok empat orang yng masih berada di tengah lapangan basket – yang salah satunya terlihat marah dan masih menatap Noah tanpa berkedip. “Bukan teman,” jawab Noah sambil lalu menggertak Raka dengan tinjunya, “lain kali kalau bikin janji itu usahakan jangan ngaret!” “Ya … maaf. Aku nggak nyangka briefing-nya bakalan lama. Padahal kan yang namanya briefing itu harusnya sebentar aja, maksimal 10 menit kek.” “Kok malah kamu yang ngatur?!” Lagi-lagi Noah membuat gerakan seperti ingin menempeleng Raka. Reaksi Raka cuma mengerutkan tubuhnya tanpa menghindar. Selain karena merasa bersalah dan pantas menerima amarah dari Noah, ia juga tahu kalau Noah tak akan benar-benar memukulnya. “Tapi kan bagus kamu bisa nunggu sambil main basket. Makanya aku sengaja milih tempat ini untuk janjian.” Raka masih berusaha membela diri. “Bagus apanya?! Aku hampir aja terlibat perkelahian, tahu?!” “Kamu berkelahi?” Raka secara bergantian menatap Noah dan keempat orang itu lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN