“Honey, biar kakak jelasin dulu.” Mengangsurkan tangan menyeka pipi Rindu yang basah, Rindu memalingkan muka, menolak. “Nggak perlu dijelasin, Rindu bisa tahu kalau kak Nadi masih suka sama dia. Masih kan? Masih itu, pasti.” Tukas Rindu bersungut-sungut. “Nggak sama sekali Rin,” “Nggak mungkin!” “Percaya sama kakak,” “Nggak mau!” Rindu melipat kedua lengan di d**a, bibirnya mencibir dan memalingkan muka. Melihat cara Rindu marah membuat bibir Pernadi melengkung tipis, ingin memeluk erat. Istrinya ini sangat menggemaskan. “Kakak mencemaskannya?Kakak berlari ke rumah sakit begitu tahu dia sakit. Apa itu? Kalau bukan cinta.” Membaringkan diri di ranjang, membelakangi suaminya. Menangis sedih. “Rin, dengerin. Lira ada disana bersama kakak. Kau boleh bertanya apa yang terjadi. Lira men

