Pernadi berjalan menuju ruang makan. Ia tak menemukan Rindu di sana. Wajahnya terlihat bengkak di sekitar mata. Pria itu baru bangun pagi. "Rindu mana, Ma?" Menarik bangku untuk ia duduki. "Sudah berangkat kuliah." Rukaya menyiapkan makanan untuk putranya. "Biasanya kalau berangkat kuliah bangunin aku. Apa dia masih marah ya masalah semalam. Dia kan suka nggak jelasnya orangnya." Membatin. Menggaruk lehernya malas. "Papa sudah berangkat kerja?" "Mmm, bareng Rindu tadi, nih makannya." Pernadi menguap seraya menerima piring berisi makanan lengkap dari Ibunya. "Dasar kau ini. Jam segini masih lebar mulutnya." Rukaya mengomel melihat Pernadi menguap. "Tidurnya kemalaman, Ma." jawabnya malas, ia mengambil air minum dan meneguknya lebih dulu. Pernadi melihat makanannya dan teringat ak

