12

1742 Kata

Mansion utama Bramasta sore itu sunyi. Hanya suara burung dari taman belakang dan langkah para pelayan yang sesekali lewat. Pintu utama terbuka keras. Menampilkan putra sulung dari keluarga Denta Attala. Sean melangkah cepat, wajahnya tegang, matanya gelap menahan emosi. Jas navy-nya belum sempat dilepas. Nafasnya masih tersengal—pertanda ia baru saja mengendarai mobil dalam keadaan emosi. “Daddy!” Denta dan Kalia yang sedang duduk di ruang keluarga terkejut melihat putra sulung mereka datang tanpa kabar. “Sean…” Kalia berdiri, mendekati putranya dengan tatapan khawatir. “Ada apa nak? Kamu kelihatan—” “Di mana Daddy?” potong Sean dingin, memotong kata-kata ibunya. Denta bangkit dari sofa. “Daddy di sini. Ada apa?” Sean menatapnya tajam. “Di mana Sena?” Denta menghela napas panjan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN