Koper-koper besar milik Sena sudah terangkat masuk ke dalam bagasi SUV hitam itu. Para maid dan pelayan mansion sibuk menata posisi, memastikan semuanya aman dan tak ada yang tertinggal. Dari tempatnya berdiri di sisi mobil, Dialta hanya melirik sekilas. Tatapan dingin dan datar. Seolah tak peduli padahal setiap detil ia simpan dalam kepala. “Terima kasih. Sudah, cukup.” suaranya tenang, rendah, sopan… namun tak memberi ruang untuk basa-basi. Ia menutup bagasi secara otomatis—gerakan sederhana namun rapi, menunjukkan bahwa sisi perfeksionisnya tak pernah mati. Lalu ia menunggu. Dua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana panjangnya, punggungnya tegak dan bahunya kokoh. Mata hitamnya melirik ke arah pintu rumah. Dia pasti masih berpamitan ke mami-daddynya… Tak sampai sepuluh detik, p

