10

1996 Kata

Kamar itu cukup luas, dominan warna putih dan hitam, dengan aroma lembut lilin aromaterapi yang entah siapa yang menyalakannya—bukan Dialta. Ia jarang menyentuh hal-hal seperti itu, dan karena kamar ini bukan kamar miliknya. Mereka masih ada di mansion utama keluarga Bramasta. Tak lain dan tak bukan Mansion milik kedua orang tua dari Arsena. Dialta berdiri di depan pintu selama beberapa detik. Hening. Ia menatap punggung Arsena yang bersandar pada headboard ranjang—kakinya terlipat, remote di tangan, rambut sedikit berantakan. Di layar besar, drama Turki sedang menampilkan adegan menegangkan, tapi wajah Sena… kosong. Bukan menikmati, hanya mengalihkan diri. Berusaha tegar dengan mengalihkan pikirannya. Meskipun tak sepenuhnya berhasil. Dialta tau itu. Dialta tidak berkata apa-apa saat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN