Bom atom

1048 Kata
Pagi itu Chaerin berangkat kerja sedikitlevih pagi. Dia membawa beberapa barang untuk rekan-rekan kerjanya. Mengingat dirinya kemarin sudah meninggalkan mereka lebih dulu, barang ini bisa di katakan sebagai ucapan maaf. Di beberapa menit setelahnya, Dimas dan Jeki datang bersamaan. Sedangkan Sasa entah kemana dia tak terlihat di pagi hari. “Mas, Jeki, itu aku beliin sesuatu untuk kalian. Semoga suka.” Chaerin menunjuk beberapa kantong belanjaan di sudut ruangan. “Aduh, Chaerin jangan sungkan-sungkan. Besok-besok kan bisa beliin lagi.” kata Jeki melihat satu kemeja yang sudah menjadi incarannya sagat lama. “Sial, Chae. Ini asli? Atau kamu belikan aku yang KW? Sumpah, ini mirip yang asli aku suka. Makasih ya Chae.” Chaerin terlihat senang karena melihat Jeki dan Dimas mendapat hadian yang dia inginkan. Jeki yang mendapat kemeja yang di idamkan itu pun tak henti-hetinya terima kasih ke Chaerin. Dia bahkan tidak masalah jika itu hanya barang tiruan saja. Baginya, ini adalah hadiah yang paling istimewa yang pernah dia terima. Sedangkan Dimas, dia mendapat sepatu olah raga yang juga dia impikan. Dimas kadang merasa sangat sayang untuk membeli barang mahal ini, tapi sekarang dia menerima dari rekan kantor sebagai rasa maaf. Apa ini tidak berlebihan? “Chaerin, ini asli?” Sasa datang-datang membuka satu paper bag yang ada di atas meja kerjanya. “Asli dong,” jawab Chaerin dengan senyum yang begitu sombong namun tidak untuk menyombongkan diri secara kebenaran. Dia hanya ingin menggoda teman-temannya. “Gila, ini asli semua? Apa kamu sudah kebanyakan duit? Ok gaji kita memang bisa membeli barag ini kalau di tabung dua bulan. Tapi itu pun tidak makan dan minum atau yang lainnya, terus kamu nanti makan gimana?” Jeki yang tau harga asli dari baju yang di hadiahkan oleh Chaerin ini tidak murag. “Tenang aja, memang kamu tidak ingat siapa yang ngajak aku shoping kemarin? Dia itu adik sepupu dari pak Zein, jadi jangan khawatir dengan harganya. Aku bantu kalian porotin pak Zein dengan meminjam tangan Sonia.” kata Chaerin ini memang menggelikan, apalagi kata-kata itu mendarat sempurna di telinga dan ingatan Sasa. Tapi apa yang di katakan Chaerin ada benarnya juga. Kalau tidak di manfaatkan, orang sekaya pak Zein memang kurang afdol. Jeki mulai menyalakan musik dengan folume yang sedikit kencang, namun tidak terlalu kencang seperti biasanya. Zein dengan memabawa beberapa map dan berkas di tangan Hendra masuk ke dalam ruangan Chaerin. Zein tanpa aba-aba pun duduk di sofa di mana dia kemarin bekerja. Musik yang di stel cukup kencanglah yang membuat keempat ini tidak mendengar kehadiran Zein dan Hendra. Dua orang ini juga tidak mempedulikan apa yang di lakukan oleh karyawan lainnya, karena ada banyak kerjaan yang harus di kerjakan. Sudah setengah hari saja mereka berenam bekerja tanpa ada suara. Ternyata benar, jika sudah mencintai pekerjaannya, seorang yang suka celamitan semacam Jeki pun bisa sangat sserius dan bertanggung jawab. “Guys, kita makan apa siang ini?” tanya Chaerin yang masih sedikit fokus pada kerjaannya. “Ak… u…… soto.” Sasa mengucapkan jawabannya dengan sedikit terbata-bata. Dia melihat ada dua orang yang sejak tadi tidak di sadari keberadaannya. Dengan mendapat isyarat dari Hendra, Sasa pun melanjutkan ucapannya walau tidak selacar biasanya. Namun kejanggalan itu di rasakan oleh semuanya. Pada saat melihat siapa yang membuat Sasa terbata-bata pun reaksi Dimas dan Jeki sama. Langsung diam dan menelan ludahnya sendiri walau sedikit susah. Tapi jelas sangat berbeda dengan reaksi Chaerin, dia langsung teriak karena kaget. “Huuwe…. “ teriak Chaerin karena kaget. “Chae!” “Mianhae…” dengan sedikit membuat mimik wajah menyesal namun bagi Zein dan yang lain? Bibir tipis yang di majukan itu tampak sangat imut sekali. “Ya sudah kalian makan saja, sekarang juga sudah mau masuk jam makan siang.” Zein meninggalkan ruangan Chaerin di ikuti oleh Hendra. “Chae, sampai kapan pak bos datang ke ruangan kita?” tanya Jeki yang menganggap Chaerin dekat dengan keponakan bos, maka dia juga sedikit dekat dengan orang nomor satu di kantor ini. “Entahlah, mungkin selama ruangan orang itu di renov.” jawwab Chaerin masa bodo. Chaerin mengambil dompet dan segera keluar ruangan. Chaerin di ikuti oleh Sasa, sepertinya mereka berdua berniat ke restoran bawah untuk makan siang. Melihat dua rekan ceweknya santai menghadapi petinggi di kantor ini, Jeki dan Dimas juga berusaha biasa saja menghadapinya. Restoran bawah memang selalu ramai ddi waktu makan siang. Memesan soto dan beberapa makanan ringan yang cukup mengenyangkan juga seharusnya. Chaerin dan kawan-kawan makan dengan lahapnya. Lagi-lagi Zein datang ke tempat yang tidak seharusnya. Zein datang ke restoran dengan membawa seorang klien yang mungkin baru saja di temui setelah meninggalkan ruangan animasi tadi. Zein terlihat tersenyum pada klien yang tengah di menjamu. Entah apa yang mereka bicarakan, Zein terlihat sangat tampan dengan senyumannya. Percayalah, kulit yang terlihat coklat tak membuat ketampanan dan manis nya Zein berkurang. Apalagi di mata Chaerin yang biasanya melihat lelaki berkulit putih dengan mata segaris. Sasa menendang kaki Chaerin pelan, tapi bisa membuat Chaerin mengalihkan pandangannya dari sesosok Zein. “Astaga, apa kurang saat memandangnya di rumah? Nanti malam, puaskan kamu memandangnya.” bisik Sasa tak lagi menutupinya. “Ngaco.” jawab Chaerin dengan sedikit merasa malu. Chaerin tidak ssadar jika Sasa seakan mengekspose keberadaan seorang Zein memang nyata di dalam hidupnya. Sasa jadi yakin dengan apa yang di katakan oleh Hendra kemarin padanya. Selesai makan, pasti mereka ke kasir dan hendak membayar makanan yang sudah mereka makan. Tapi pada saat itu juga Hendra datang untuk membayar keempat orang itu makan. Jujur, Jeki dan Dimas juga kaget. Chaerin melihat Zein yang tidak memandang dirinya sama sekali pun sedikit tidak suka. Ingin rasanya dia ikut bergabung dengan orang-orang itu makan di meja sana. Tapi Chaerin tidak bisa melakukan itu, meskipun dia tau ada sosok wanita yang selalu memajukan dadanya ke depan Zein. “Bilang terima kasih pada bapakmu. Oh iya jangan lupa, nanti tolong aja bapakmu ke devisi lain. Aku tertekan.” kata Chaerin dengan berani mengatakan itu pada Hendra. Ketiga temannya langsung pucat dengan keberanian Chaerin yang ini. Memang Chaerin tidak melibatkan rekan yang lainnya. Namun ruangan itu di huni oleh empat orang dengan Chaerin, bagaimana bisa mereka sekarang merasa tenang? Tidak, ini seperti bom atom yang tidak di ketahui di mana letaknya, tiba-tiba saja mengancam mmereka. “Jangan libatkan kami, bisa?” bisik Sasa pada Hendra setelah Chaerin pergi. “Hahaha, ya. Tenang saja.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN