Seharian setelah makan siang, Zain memang tidak kembali ke ruang Animasi lagi. Mereka berempat kerja dengan santainya. Namun hati mereka sedikit takut. Keberanian Chaerin sungguh di melampaui batas. Bagaimana tidak? Dia bahkan mengusir pak bosnya dari ruangan.
Seharian Chaerin bekerja memeras otak karena Deadline di majukan. Dan dia sebagai divisi yang di tugaskan untuk membuat cover animasi untuk proyek besar dari luar negeri. Sedangkan ketiga temannya di tugaskan untuk membuat isi yang jelas tidak di tuntut lebih cepat. Karena bisa menyusul setelah mendapat persetujuan pihak pertama.
Malam ini, Chaerin pulang jam setengah tujuh malam. Dia tidak makan malam karena merasa badan sudah sangat lelah sekali. Dia pun langsung tidur dan tak ingat apa-apa setelah itu. Kalau di lihat-lihat lagi, Chaerin pun tidak mandi dulu sebelum tidur.
Jangankan mandi, lihatlah bajunya. Ya, bajunya saja masih belum di ganti serta tas masih ada di sampungnya. Untung saja dia sudah melepas sepatunya sebelum merobohkan diri di atas tempat tidur.
“Astaga, selelah inikah kamu Chae? Nggak di Korea, nggak di sini, kamu selalu saja sibuk dengan pekerjaan.” Sonia datang di kala nenek mengatakan Chaerin sudah pulang.
Nenek juga sangat menyayangi Chaerin sebenarnya, dan beliau pun tidak menginginkan Chaerin untuk ikut bekerja. Bukankah uang mereka sudah banyak? Jadi untuk apa juga Chaerin bekerja?
Chaerin tetaplah Chaerin, kendati dia ssudah menjadi istri seorang kaya raya. Dia selalu mendambakan memiliki uang dari hasil kerjanya sendiri. Itulah alasan dirinya bekerja walau sudah menjadi nyonya ZainAnggara Akbar seorang lelaki hitam manis dengan pendapatan bersih sebulan tiga juta dolar.
“Zain pasti menyulitkan dia di kantor. Memang anak ini kurang ajar.” nenek yang melihat Chaerin tidur tanpa makan malam pun merasa sangat murka pada cucu kesayangannya.
“Nenek, mau kakak kamu hukum pun, Chaerin tidak akan pernah mau kalau di suruh berhenti. Dia memang pekerja yang tanggung. Sisain saja makanan untuk dia makan nanti. Pas dia bangun, pasti yang di cari makanan.” kata Sonia membela Zain yang sudah tau kelakuan sahabatnya ini.
“Ya, tapi kakak kamu itu yang sudah keterlaluan. Kasihan cucu menantuku. Dia di negaranya sudah tidak bisa menikmati hidup. Bahkan setelah menjadi menantuku di negara orang pun masih harus banting tulang peras keringat hanya untuk membeli cilok.” nenek yang selalu menyayangi cucu menantunya ini ternyata melupakan cucu kandungnya yang ada di sampingnya.
“Nenek lebay sekali, mana dia kerja keras cuma pakai beli cilok? Pakai beli sunblok.” pemikiran dua wanita beda generasi ini cukup membagongkan. Namun mereka ssangat kompak dalam menyayangi Chaerin.
Sonia dan Nenek pun meninggalkan Chaerin untuk tidur lebih lama. Dan benar saja, Chaerin sudah seperti orang mati saja. Bahkan sampai Zain pulang di tengah malam pun, Chaerin masih belum bangun juga.
Pelan-pelan Zain membuka baju Chaerin dan mengganti baju panas itu dengan baju tidur yang lebih nyaman untuk tidur. Tapi pada saat Zain menggantikan bajunya, saat itulah Chaerin menggeliat sebelum bangun.
“Zain.” ternyata Chaerin hanya mau memeluk Zain dan kembali untuk tidur.
Tidak apa-apa, mereka berdua pun tidur. Zain yang mengira Chaerin sudah makan, dia tidak membangunkan atau yang lainnya. Tidur adalah hal yang selalu dia lakukan setelah selesai beraktifitas, di peluk atau di keloni Chaerin hanya sebuah bonus bagi Zain. Percayalah, Zain dan Chaerin jarang sekali berkomunikasih saat sudah datang ke rumah.
Di saat Zain sudah terlelap, perut Chaerin ternyata sudah memanggil minta untuk di isi. Pelan-pelan sekali Chaerin bangun dari tempat tidur. Tapi memang dassarnya Zain sangat sensitif dengan gerakan, dia pun ikut bangun.
“Mau kemana?” tanya Zain melihat Chaerin mau keluar ddari kamar.
“Ah, apa aku mengganggu tidurmu? Aku hanya lapar saja, tidurlah lagi.”
“Tidak, kamu belum makan? Kenapa tidak langsung makan tadi sebelum tidur?” Zain pun ikut bangun karena dia merasa tanggung jawab pada istrinya.
“Jangan marah, aku kan tadi kelelahan….”
“Kamu mau keluar memakai ini? Aku rasa tidak baik.” Zain menarik sedikit baju tidur transparan milik Chaerin.
“Sial, kamu yang mengganti bajuku?”
“Lantas? Apa kamu sendiri punya pikiran untuk ganti baju? Sudah sana ambil kimononya.”
Chaerin pun menurut untuk menggambil lapisan luar baju tidur sebelum dia keluar dari kamar. Zain bersama dirinya dan mencari makanan di dalam kulkas. Benar, ada makanan yang mungkin memang di siapkan untuk mereka berdua. Tapi ada yang Zain baru ketahui, apakah setiap hari selalu ada makanan yangmemang di siapkan untuk mereka berdua seperti ini?
Zain sedikit merasa bersalah, selama ini dia jarang sekali makan malam bersama dengan kakek neneknya. Bahkan sarapan pun, Zain lebih memilih untuk menemani klien dari pada tetua di rumah ini.
Zain memanaskan makanan yang di bantu dengan Chaerin. Pemandangan yang juga seperti tamparan untuknya. Chaerin sebagai putri kaya raya pemilik agensi besar, bukankah dia seharusnya tidak mengenal alat-alat masak?
“Kamu, biasa masak?” tanya Zain.
“Ya. Kalau aku tidak bisa masak, keponakanmu itu pasti akan sangat kencang mengomeliku. Padahal aku bekerja untuk menyenangkan diri, tapi Sonia benar-benar tidak memberiku memboroskan uangku. Hasilnya aku bisa masak, sekarang.” jawab Chaerin yang terlihat sudah sangat lihai memainkan benda tajam di tangannya.
Setelah semua sudah di rasa selesai, Chaerin masih sibuk dengan olahan kuahnya. Entah apa yang di bikin olehnya, padahal sudah begitu banyak hidangan yang di siapkan untuk mereka.
“Kamu buat apa?” tanya Zain melihat Chaerin yang baru mengangkat sebuah olahan dari atas kompor.
“Sup tahu kimci. Kamu makan ini juga, biar hangat perutmu.” kata Chaerin memperlihatkan hasil olahannya.
“Aku rasa bukan hangat di badanku, tapi masalah di perutku. Sudah, kamu makan saja sendiri.”
Zain dan Chaerin makan tengah malam berdua, dengan menu yang super lengkap. Chaerin merasa jika makan malam kali ini terasa lebih spesial. Makan malam berdua di rumah.
“Chae, kamu suka bunga?” tanya Zain setelah menghabiskan bebera menu yang di siapkan untuk mereka berdua.
“Suka, apalagi kalau mawar merah, tulip merah aku juga suka. Kenapa? Memangnya kamu mau ngasih aku bunga? Aih, romantisnya.” goda Chaerin malah membuat Zain malu sendiri.
“Ya, dan sayangnya itu buka mawar merah. “ Zain mengambil rangkaian bunga mawar putih yang sangat besar sekali.
Chaerin tidak menyangka jika suaminya bisa juga melakukan hal ini. Tapi, atas dasar apa dia melakukan hal ini padanya? Dia tidak ulang tahun, dan hari ini juga bukan hari jadi pernikahan mereka. Lantas, apa Zain melakukan kesalahan?
Mata Chaerin memicing dan mencari cela di mana letak kesalahan yang di miliki lelaki ini.
“Aku… aku…” Zain terbata saat menerima tatapan tajam menusuk dari Chaerin.
“Terserah kamu mau melakukan kesalahan apa. Tapi tolong jangan ddekati aku dulu sebelum kamu membereskan dan menyembuyikan serapi mungkin. Aku paling benci penghianatan, karena aku tidak mau mengulang masa lalu kelamku.” kaca Chaerin seakan tidak bisa lagi menerima kesalahan yang di lakukan oleh pasangannya jika berhubungan dengan yang namanya perselingkuhan.