Bram turun dari bus dengan langkah mantap.
Di depannya, kota terbentang luas, jauh berbeda dari desa kecil yang selama ini ia tinggali. Gedung-gedung menjulang, jalanan ramai dengan kendaraan yang melintas tanpa henti. Hiruk-pikuk orang-orang yang berjalan cepat seolah menegaskan bahwa di sini, waktu berjalan lebih cepat daripada di desanya.
Namun, sebelum memikirkan hal lain, perutnya lebih dulu mengingatkannya akan satu hal, lapar.
Bram menoleh ke sekitar dan matanya menangkap sebuah angkringan kecil di pojok terminal. Bau nasi kucing dan gorengan yang baru diangkat dari minyak panas begitu menggoda. Tanpa berpikir panjang, ja melangkah menuju tempat itu.
Angkringan itu sederhana, dengan bangku kayu panjang yang sudah agak usang. Beberapa orang duduk sambil menikmati kopi hitam dan berbincang santai. Bram duduk di ujung, mengambil sebungkus nasi kucing dan memesan segelas teh hangat.
Saat hendak menyantap makanannya, ia mendengar percakapan dari sekelompok pria di bangku sebelahnya.
"Jadi, besok mulai rekrutannya?" kata salah seorang pria yang mengenakan jaket ojek online.
"Iya, mereka butuh tambahan kurir. Katanya yang penting punya tenaga, bisa kerja cepat," sahut yang lain sambil menyeruput kopinya.
Bram memasang telinga. Kurir. Itu terdengar seperti pekerjaan yang bisa ia lakukan. Ia tidak punya banyak keahlian, tetapi setidaknya ia bisa mengandalkan tenaganya.
Mengesampingkan rasa malu, Bram menoleh ke arah mereka dan dengan hati-hati membuka suara. "Maaf, saya dengar tadi ada lowongan kerja jadi kurir. Itu masih ada?"
Ketiga pria itu menoleh ke arahnya. Salah satunya, seorang pria bertubuh besar dengan wajah ramah, mengangguk. "Oh, kamu nyari kerja? Masih ada, kok. Perusahaan ekspedisi di sebelah sana lagi butuh orang." Ia menunjuk ke arah deretan ruko di seberang jalan.
Bram mengangguk cepat. "Kalau boleh tahu, syaratnya apa?"
"Yang penting kuat angkat paket, bisa kerja cepat, dan nggak malas. Kalau soal pengalaman, nggak terlalu penting. Mereka mau terima anak baru, asal niat kerja," pria itu menjelaskan.
Jawaban itu seperti angin segar bagi Bram. Ia tidak menyangka bisa menemukan kesempatan secepat ini. "Saya bisa daftar sekarang?" tanyanya dengan penuh harap.
Pria itu tertawa kecil. "Santai, besok pagi aja ke kantor mereka. Bilang aja dapat info dari teman di terminal."
Bram mengangguk mantap. "Terima kasih, Pak."
"Sama-sama, Dek. Semoga beruntung."
Bram menyelesaikan makanannya dengan perasaan lebih ringan. la datang ke kota tanpa harapan yang jelas, tapi sekarang, setidaknya ada sesuatu yang bisa ia kejar.
Ini mungkin hanya langkah kecil, tapi bagi Bram, ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Setelah menghabiskan makanannya, Bram berpikir langkah selanjutnya. Jika besok ia akan melamar kerja sebagai kurir, maka malam ini ia harus menemukan tempat untuk menginap.
Ia menoleh ke pria berjaket ojek online yang tadi berbicara tentang pekerjaan. Dengan sedikit ragu, ia bertanya, "Pak, kalau di sekitar sini ada kos-kosan murah nggak? Saya baru datang ke kota, belum punya tempat tinggal."
Pria itu menggaruk kepalanya sebentar, lalu tertawa kecil. "Ada sih, tapi...."
Bram menunggu kelanjutannya dengan sabar.
Pria lain di sebelahnya, yang sejak tadi ikut mendengar, ikut menyahut, "Kosan itu isinya cewek semua, ya... gitu deh."
Bram mengernyit. "Maksudnya gimana, Pak?"
Pria pertama terkekeh, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat. "Ya maksudnya, cewek-cewek di sana tuh... luwes. Ada yang kerja di kafe, ada yang katanya model, ada juga yang sering pulang pagi. Paham kan maksudnya?"
Bram mengangguk pelan. Meski belum terlalu mengerti sepenuhnya, ia menangkap maksud tersiratnya. "Tapi harganya murah?"
"Murah banget," jawab pria itu sambil menyeruput kopi. "Makanya banyak yang betah."
Bram berpikir sejenak. la tak punya banyak pilihan. Dengan uang yang terbatas, ia tidak bisa bersikap terlalu pemilih. Yang penting ada tempat berteduh dan tidak tidur di terminal malam ini.
"Dimana alamatnya, Pak?" tanyanya akhirnya.
Pria berjaket ojek itu mengarahkan jari ke ujung jalan, "Di gang kecil setelah warung pojok sana, ada kos warna hijau. Coba aja tanya Bu Rini, dia yang punya kos."
Bram mengangguk. "Terima kasih, Pak."
Dengan membawa tas kecilnya, ia pun melangkah pergi, menuju tempat yang mungkin akan menjadi rumah sementaranya di kota ini, la tak tahu apa yang akan ia hadapi di sana, tapi satu hal yang pasti, ini adalah awal dari perjalanannya.
Bram mengikuti petunjuk yang diberikan pria tadi. Gang kecil yang disebutkan memang ada setelah warung pojok, dan di ujung gang itu berdiri sebuah bangunan sederhana bercat hijau. Di depan gerbang, ada papan kayu bertuliskan "Kosan Bu Rini -Khusus Putri" yang tulisannya sudah agak pudar.
Bram menelan ludah. "Khusus putri?" pikirnya.
Namun, sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, sebuah suara lembut menyapanya dari dalam.
"Mas, nyari siapa?"
Bram menoleh dan langsung disambut dengan pemandangan yang... indah bagi mata lelaki.
Di teras kos, beberapa perempuan muda sedang duduk santal. Ada yang mengenakan celana pendek dengan kaus longgar, ada yang memakai tank top ketat, dan ada pula yang mengenakan dress santai yang memperlihatkan betis mulus mereka. Aroma parfum bercampur dengan aroma lotion menguar di udara.
Seorang gadis berambut panjang dengan wajah manis tersenyum kecil sambil meneguk minuman dinginnya. "Mas salah tempat, ya?" tanyanya sambil menatap Bram dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Bram merasa sedikit gugup. Ia memang jarang berinteraksi dengan perempuan, apalagi sebanyak ini dalam satu tempat. Namun, ia mengingat tujuannya, yaitu mencari tempat tinggal.
"Eh, anu... saya nyari Bu Rini," jawabnya cepat.
Seorang wanita paruh baya muncul dari dalam rumah, mengenakan daster dengan rambut disanggul. Memperlihatkan leher jenjangnya dan tentu saja membuat Bram semakin merasa haus, setelah menurunkan sedikit pandangannya. "Cari Bu Rini? Saya sendiri. Ada apa?"
Bram mengangguk sopan. "Saya mau cari kos, Bu. Kata teman di terminal, di sini masih ada kamar kosong."
Bu Rini menyipitkan matanya, lalu melirik ke arah perempuan-perempuan di teras. Salah satu dari mereka terkikik kecil, sementara yang lain saling berbisik dengan tatapan penasaran.
"Di sini kosan khusus putri, Mas," kata Bu Rini, tapi suaranya tidak terdengar seperti penolakan langsung.
Bram merasa sedikit kecewa, tapi ia tetap mencoba. "Saya benar-benar butuh tempat tinggal, Bu. Saya baru datang ke kota dan belum punya tempat untuk menginap. Saya janji nggak bakal bikin masalah."
Bu Rini menghela napas, lalu melirik ke dalam rumah. "Sebetulnya ada satu kamar di belakang yang jarang dipakai... Biasanya dipakai buat gudang, tapi kalau kamu mau, bisa saya sewakan. Tapi ada satu syarat."
Bram mengangkat wajahnya penuh harap.
"Apa itu, Bu?"
Bu Rini tersenyum kecil. "Kamu harus nurut sama aturan di sini. Nggak boleh macam-macam sama penghuni lain. Kalau ketahuan berulah, saya usir."
Bram langsung mengangguk cepat. "Saya janji, Bu. Saya cuma butuh tempat buat tinggal."
Bu Rini menghela napas lagi, lalu tersenyum.
"Baiklah, kalau gitu ikut saya ke belakang. Tapi hati-hati, ya. Di sini, cowok jadi perhatian utama."
Perempuan-perempuan di teras kembali terkikik. Ada yang melirik Bram dengan tatapan jahil, ada pula yang tersenyum penuh arti.
Bram hanya bisa menelan ludah. Ia tahu ini bukan tempat tinggal biasa. Tapi ia tidak punya pilihan lain.
Yang jelas, hari pertamanya di kota baru saja menjadi jauh lebih menarik dari yang ia bayangkan.