Bu Rini menatap Bram dari atas sampai bawah, seolah menilai sesuatu yang hanya ia sendiri yang tahu. Senyum tipis terukir di bibirnya, bukan sekadar ramah, tapi ada sesuatu di balik tatapan itu.
Bram merasa sedikit canggung, tapi ia tetap berdiri tegak, menunggu keputusan dari wanita paruh baya itu. Hening sejenak, hanya suara tawa pelan dari beberapa penghuni kos yang masih duduk di teras.
"Baiklah," kata Bu Rini akhirnya. "Ikut saya ke belakang. Saya tunjukkan kamar yang bisa kamu pakai."
Bram mengangguk cepat, merasa lega. la mengikuti langkah Bu Rini melewati teras, sementara para penghuni kos masih memperhatikannya dengan tatapan penuh arti.
Saat melewati seorang gadis berambut pendek yang duduk bersila di kursi kayu, Bram bisa mendengar gumaman kecil, "Hmmm... seru nih, ada cowok di sini."
Yang lain terkikik, sementara Bram hanya pura-pura tidak mendengar.
Bu Rini membuka pintu belakang dan mengajak Bram masuk ke dalam lorong sempit yang mengarah ke sebuah kamar kecil di sudut rumah. Kamar itu tampak sederhana, hanya ada kasur tipis di lantai, sebuah meja kecil, dan jendela kecil yang menghadap ke tembok belakang rumah.
"Ini kamarnya," kata Bu Rini. "Nggak besar, tapi cukup buat tidur dan menyimpan barang-barangmu."
Bram melangkah masuk dan meletakkan tas kecilnya di lantai. Ia mengangguk pelan. "Ini sudah lebih dari cukup, Bu. Terima kasih."
Bu Rini menyandarkan tubuhnya ke pintu, masih menatapnya dengan senyum tipis itu. "Saya nggak tahu kenapa, tapi rasanya kamu bakal bikin hari-hari di kos ini jadi lebih... menarik."
Bram menatapnya bingung. "Maksudnya, Bu?"
Bu Rini hanya terkekeh pelan. "Ah, sudahlah. Kamu bakal tahu sendiri nanti."
la kemudian berbalik, melangkah keluar dan menutup pintu, meninggalkan Bram yang masih berdiri di tengah kamar kecilnya.
Bram menghela napas panjang. Kota ini memang baru baginya, tapi dari caranya memulai, ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi di tempat ini.
Entah baik, atau buruk, hanya waktu yang akan menjawab.
Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian yang lebih rapi, Bram duduk sejenak di kasurnya yang masih terasa asing. Udara malam kota lebih hangat dibandingkan desanya, tapi tetap memberi sedikit kenyamanan.
Jarum jam menunjukkan pukul tujuh malam ketika Bram memutuskan untuk keluar sebentar. Ia perlu membeli kertas folio untuk menulis lamaran pekerjaan besok. Dengan dompet tipis yang ia simpan di saku, ia membuka pintu kamarnya dan melangkah ke luar.
Begitu tiba di halaman depan kos, langkahnya otomatis melambat.
Pemandangan di depannya... benar-benar memanjakan mata.
Beberapa penghuni kos tampak bersantai di teras. Seorang gadis berambut panjang mengenakan dress tipis selutut, duduk dengan kaki terjulur santai di kursi rotan sambil bermain ponsel. Cahaya lampu teras menyorot kulitnya yang terlihat mulus, dan rambutnya yang masih sedikit basah tampak berkilau.
Tak jauh darinya, seorang gadis lain mengenakan celana pendek dan kaus oversize, tengah mengikat rambutnya dengan gerakan santai. Bram tanpa sadar memperhatikan leher jenjangnya saat helaian rambutnya terangkat ke atas.
Ada juga yang duduk di pagar, mengenakan tank top ketat dengan paduan celana pendek yang cukup berani. Gadis itu tampak sedang berbincang dengan temannya sambil tertawa kecil, sesekali melirik ke arah Bram.
Bram menelan kasar ludahnya.
Ia baru sadar kalau kos ini memang benar-benar dihuni oleh wanita-wanita yang... di luar ekspektasinya. Bukan hanya sekadar penghuni biasa, mereka memiliki pesona masing-masing yang, jujur saja, mampu menggetarkan hati lelaki normal.
Beberapa dari mereka tampaknya juga menyadari kehadiran Bram. Tatapan mereka melirik sekilas, ada yang tersenyum iseng, ada pula yang hanya mengangkat alis seakan menilai pendatang baru ini.
"Eh, cowok baru kita mau kemana malam-malam?" suara seorang gadis tiba-tiba terdengar.
Bram menoleh, dan mendapati gadis berambut pendek yang tadi sore mengomentarinya. Ia duduk bersila di kursi kayu, dengan ekspresi jahil yang jelas terlihat.
"Mau beli kertas, Mbak," jawab Bram jujur.
"Kertas? Buat apa?"
Bram menggaruk tengkuknya. "Mau nulis lamaran kerja."
Beberapa gadis lain yang mendengar itu tampak tertarik. Salah satu dari mereka, gadis yang tadi mengikat rambutnya mulai tersenyum. "Oh, jadi kamu mau kerja? Kirain pengangguran selamanya."
Tawa kecil terdengar di antara mereka.
Bram ikut tersenyum tipis. Ia tahu mereka hanya bercanda, meski tetap ada sedikit sindiran di dalamnya.
"Nggak, Mbak. Justru aku ke sini buat cari kerja," jawabnya santai.
Gadis berambut pendek kembali menatapnya dengan ekspresi jahil. "Hmmm... cowok di kos ini bakal punya kehidupan yang seru, nih."
Bram tidak tahu apakah itu pertanda baik atau justru peringatan.
Namun, ia tetap melanjutkan langkahnya, keluar dari kosan untuk mencari kertas folio, sementara beberapa pasang mata dari para penghuni kos masih mengikuti kepergiannya dengan tatapan penuh arti.
Bram berjalan perlahan menyusuri trotoar kecil menuju warung yang ada di ujung jalan. Udara malam kota terasa berbeda dibandingkan di desanya, tapi pikirannya justru melayang kembali ke tempat yang baru saja ia tinggalkan.
Di desa, ia hanyalah pemuda yang tak dianggap. Keberadaannya hampir tak terlihat, bahkan bagi teman-teman sebayanya. Jika ada yang memanggil namanya, biasanya bukan untuk diajak berbicara, melainkan untuk dijadikan bahan ejekan.
Dan soal wanita.....di sana, tak ada satu pun gadis yang mau dekat dengannya la sudah terbiasa melihat mereka berjalan menjauh atau pura-pura tidak mengenainya setiap kali ia berada di sekitar mereka. Seolah statusnya sebagai anak petani miskin membuatnya tidak pantas untuk sekadar berbicara, apalagi lebih dari itu.
Tapi di kota... segalanya terasa berbeda.
Baru sehari di sini, ia sudah merasakan perhatian yang tak pernah ia dapatkan di desa. Bukan hanya sekadar tatapan, tapi interaksi langsung. Senyuman, godaan, bahkan tawa dari perempuan-perempuan yang berpenampilan jauh lebih berani dari para gadis desa.
Mereka tidak memalingkan wajah saat melihatnya. Mereka tidak menunduk malu atau berbisik di belakangnya. Sebaliknya, mereka justru menatapnya lekat, seolah ingin menilai siapa dirinya.
Di kos tadi, para penghuni perempuan tak ragu untuk menggoda, bahkan melontarkan komentar yang membuatnya sedikit gugup.
Itu sesuatu yang baru bagi Bram, sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Ia menghela napas panjang. Apakah ini hanya perasaan sesaat? Ataukah ini benar-benar awal dari kehidupan yang berbeda baginya?
Senyumnya tipis. Ia tidak ingin berpikir terlalu jauh.
Saat ini, yang penting adalah membeli kertas folio dan menyiapkan lamaran kerja. Tapi jauh di dalam hatinya, ia sadar, kota ini memiliki dinamika yang jauh lebih menarik dari yang ia bayangkan.
Setelah membeli kertas folio dari warung kecil di ujung jalan, Bram kembali ke kosannya. Langkahnya santai, tapi pikirannya masih berkecamuk, memikirkan perbedaan yang ia rasakan antara-desa dan kota.
Saat ia masuk ke halaman kos, pemandangan yang berbeda dari sebelumnya langsung menarik perhatiannya.
Beberapa penghuni kos tampak bersiap-siap untuk berangkat kerja. Namun, bukan pakaian kasual atau seragam kantor yang mereka kenakan. Mereka berdiri di depan pintu, sibuk merapikan diri dengan pakaian yang jauh lebih mencolok dari yang biasa Bram lihat.
Seorang gadis mengenakan gaun pendek ketat berwarna merah, rambutnya tergerai indah dengan riasan tebal di wajahnya. Tumit tingginya berkilau saat ia melangkah keluar dari teras.
Gadis lain, yang tadi sore hanya mengenakan kaus dan celana pendek, kini berubah total. Tank top hitam dengan belahan rendah, celana kulit ketat, dan wangi parfum yang menusuk hidung membuat kehadirannya begitu menonjol.
Sementara di sudut, seorang perempuan tengah berdiri di depan kaca kecil di dinding, membenahi lipstiknya dengan cermat. Rok mini yang dikenakannya begitu pendek hingga Bram harus menahan diri agar tidak terlalu lama melihatnya.
Ia mencoba bersikap biasa saja, tapi matanya tetap menangkap setiap detail. Ini adalah pemandangan baru yang tak pernah ia lihat di desanya. Di sana, perempuan jarang berdandan mencolok, apalagi mengenakan pakaian seperti ini.
Salah satu dari mereka menyadari tatapan Bram. Gadis berambut pendek yang tadi menggoda di teras kini tersenyum miring sambil menyampirkan tas kecil ke bahunya. "Kenapa, Mas Bram? Kaget, ya?" tanyanya dengan nada menggoda.
Bram cepat-cepat mengalihkan pandangan. "Eh, nggak cuma baru lihat aja," jawabnya jujur.
Gadis itu tertawa kecil, lalu berjalan melewati Bram dengan langkah santai. "Santai aja, Mas. Ini udah biasa di kota. Kami kerja malam, jadi ya harus siap-siap begini."
Bram mengangguk pelan, meskipun dalam hatinya ia masih bertanya-tanya pekerjaan seperti apa yang mereka jalani.
Seorang gadis lain, yang berdiri di sudut sambil merapikan rambutnya, ikut bicara. "Kalau Mas Bram betah di sini, bakal sering lihat beginian. Jangan kaget terus, ya."
Bram hanya tersenyum tipis. Ia masih belum tahu apakah ini pertanda baik atau buruk. Tapi satu hal yang pasti, hidup di kota ini benar-benar penuh kejutan.
Dengan langkah hati-hati, ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu, membiarkan pikirannya terus berputar, mencoba memahami dunia baru yang kini mulai terbuka di hadapannya.