Malam semakin larut, tapi suasana di burjo tetap ramai. Beberapa pelanggan lain masih asyik menyantap makanan mereka, sementara Bram sangat menikmati Indomie goreng telur yang terasa jauh lebih nikmat karena gratis.
Bram sudah hampir menghabiskan makanannya ketika Ara menatapnya dengan ekspresi penuh arti.
"Kamu kayaknya masih agak kaku, ya?"
katanya sambil mengaduk es tehnya dengan sedotan.
Bram menoleh. "Maksudnya?"
Ara tersenyum kecil. "Kayak masih canggung banget gitu. Masih belum terbiasa sama kehidupan kota?"
Bram meletakkan sendoknya, lalu menghela napas. "Ya... jujur aja, masih. Semua ini masih baru buatku."
Ara mengangguk pelan. "Wajar sih. Kamu kan baru datang dari desa. Tapi tenang aja, lama-lama juga bakal terbiasa."
Bram mengangguk, tapi dalam hatinya masih ada sedikit kegelisahan.
Di desa, hidupnya sederhana. Semua serba terbatas, tapi setidaknya ia tahu aturan mainnya.
Di kota? Segalanya terasa lebih cepat, lebih bebas, dan penuh kejutan yang belum bisa ia pahami sepenuhnya.
Ara lalu menatapnya dengan ekspresi penasaran. "Eh, aku boleh nanya sesuatu nggak?"
Bram mengangkat alis. "Apa?"
Ara menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Di desa, kamu nggak pernah punya pacar?"
Bram terkekeh kecil. "Nggak pernah."
Ara tampak sedikit terkejut. "Serius? Kenapa? Kamu nggak suka cewek atau cewek-cewek di sana yang nggak suka sama kamu?"
Bram tersenyum pahit. "Yang kedua."
Ara mengangguk paham. "Ah, aku ngerti. Kamu diremehin, ya?"
Bram terdiam sejenak, lalu mengangguk. "Ya, semacam itu."
Ara menatapnya dengan sedikit simpati. "Klasik. Biasanya cowok kayak kamu bakal jadi sesuatu di kota. Biasanya, lho."
Bram tersenyum kecil. "Biasanya?"
Ara terkekeh. "Iya. Banyak yang awalnya diremehin di desa, tapi begitu ke kota, mereka sukses dan malah jadi orang yang dicari-cari."
Bram hanya tersenyum tipis, meskipun dalam hatinya ia bertanya-tanya apakah hal itu mungkin terjadi padanya.
Setelah menghabiskan makanan, Ara merapikan rambutnya lalu berkata, "Udah kenyang?"
Bram mengangguk. "Banget. Makasih, Ara."
Ara melambaikan tangannya santai. "Santai aja. Sesekali traktir temen sendiri nggak ada salahnya."
Mereka lalu keluar dari burjo, udara malam terasa lebih sejuk. Bram masih sedikit canggung, tapi ia mulai merasa sedikit lebih nyaman dengan Ara.
Begitu mereka sampai di motor, Ara menoleh padanya dan tersenyum jahil. "Naik lagi, Bram. Kali ini jangan terlalu tegang, ya?"
Bram hanya bisa menghela napas dan naik ke belakang.
Motor Aerox pink itu kembali melaju di jalanan kota, membawa Bram pulang ke kosan yang mulai terasa seperti tempat tinggalnya yang baru.
Sesampainya di kos, Bram turun dari motor dengan sedikit hati-hati. Malam semakin larut, tapi suasana di kos justru masih cukup ramai.
Di teras, beberapa penghuni kos tampak sibuk bersiap-siap untuk berangkat kerja malam. Ada yang berdandan di depan kaca kecil di dinding, ada yang sibuk memilih pakaian, dan ada pula yang hanya duduk santai di kursi sambil memainkan ponselnya.
Namun, ada juga beberapa yang tampak gelisah.
"Aduh, masih takut gue," kata salah satu gadis berambut pendek yang mengenakan dress ketat, suaranya terdengar jelas di antara obrolan. "Kemarin ada razia, untung kita selamat."
"Iya, makanya malam ini gue santai dulu deh," sahut yang lain, seorang perempuan yang hanya mengenakan kaus longgar dan celana pendek, tampaknya belum siap untuk pergi keluar seperti yang lain.
Bram diam di tempat, tidak ingin terlalu mencampuri urusan mereka. Namun, saat ia melangkah masuk ke dalam halaman kost, suasana berubah.
Beberapa penghuni kos yang melihat Ara pulang berboncengan dengan Bram langsung melemparkan tatapan penuh arti ke arah mereka.
Salah satu gadis yang duduk di pagar sambil menghisap rokok langsung menyeringai dan berkata dengan nada menggoda, "Wih, Ara gercep ya. Langsung ngajak keluar duluan, mumpung kita masih di dalam."
Tawa kecil terdengar di antara mereka.
Bram langsung tersentak dan merasa sedikit canggung. Ia tahu maksud perkataan itu bukan sekadar bercanda biasa.
Ara hanya tertawa santai sambil membuka jaketnya. "Hah, kalian aja yang kepo. Aku cuma ngajak Bram makan doang."
"Makan doang?" celetuk yang lain, dengan ekspresi jahil.
Ara mengangkat alis, menatap mereka dengan penuh tantangan. "Iya, makan doang. Kenapa? Iri?"
Tawa kembali pecah.
Bram, yang merasa situasinya semakin aneh, hanya bisa diam dan berusaha tetap santai.
Salah satu dari mereka menatapnya dengan penuh arti. "Bram, hati-hati lho. Ara itu kalau udah ngajak duluan, berarti udah tertarik."
Ara terkekeh, lalu menepuk lengan Bram pelan. "Santai aja, Mas. Mereka cuma becanda kok."
Bram tidak yakin apakah ini benar-benar sekadar candaan atau ada maksud lain di baliknya. Ia hanya bisa menghela napas pelan dan masuk ke kamarnya.
Sementara itu, Ara hanya tersenyum kecil sebelum melangkah santai ke kamarnya sendiri.
Bram menutup pintu kamarnya dan menghela napas panjang. Malam ini benar-benar terasa aneh.
Di desa, ia selalu dihindari oleh para gadis. Tapi di kota ini, ia justru menjadi pusat perhatian dalam situasi yang belum bisa ja pahami sepenuhnya.
Bram duduk di kasurnya, menatap langit-langit kamar yang sederhana. Pikiran tentang perempuan-perempuan di kos ini kembali berputar di kepalanya.
Mereka cantik, terbuka, dan... berbeda.
Ara, terutama.
Sejak pertama kali bertemu, gadis itu sudah menunjukkan sikap yang begitu santai dan percaya diri. Bahkan tadi siang, setelah melihatnya live streaming dengan pakaian minim, Bram merasa ada sesuatu dalam diri Ara yang tidak bisa ia tebak.
Dan kini, Ara mengajaknya jalan, mentraktir makan, dan bersikap seolah mereka sudah dekat.
Apa ini memang caranya? Atau ada sesuatu yang lain?
Bram menggelengkan kepala.
"Aku nggak boleh mikir yang aneh-aneh."
Ia harus tetap fokus pada tujuannya. Bekerja, bertahan hidup, dan membuktikan bahwa ia bisa sukses di kota ini.
Tapi sebelum ia sempat benar-benar menenangkan pikirannya, suara dari luar kamarnya kembali terdengar.
"Loh, Ara udah balik? Biasanya kan pulang pagian," suara seorang gadis terdengar dari luar.
"Hari ini lagi pengen santai dulu. Tadi aku jalan sama Mas Bram," jawab Ara santai.
Bram langsung membeku di tempat.
"Ohhh... pantesan. Ada cowok baru, ya jadi nggak buru-buru keluar."
Tawa kecil kembali terdengar, dan Bram bisa merasakan wajahnya sedikit panas meskipun ia tidak melihat langsung percakapan itu.
Ara hanya tertawa kecil. "Udah, udah. Jangan gosip terus. Aku mau tidur dulu."
Setelah itu, suara langkah kaki terdengar menjauh, dan suasana kos mulai lebih tenang.
Bram menghela napas panjang dan merebahkan tubuhnya di kasur.
Hari ini terasa begitu panjang.
Bram terbangun saat jam di ponselnya menunjukkan pukul 03:30 dini hari.
Ia tidak tahu kenapa tiba-tiba terbangun, tapi ada sesuatu di udara yang membuatnya merasa gelisah.
Di luar kamarnya, suasana kes tidak benar-benar sepi. Dari celah pintu, ia masih bisa mendengar suara langkah kaki, suara obrolan pelan, dan kadang-kadang suara pintu yang terbuka dan tertutup dengan hati-hati.
Bram mengernyit.
Rasa penasarannya membuatnya bangkit dari kasur dan berjalan pelan ke pintu. Ia membuka sedikit celah, cukup untuk mengintip ke luar tanpa menarik perhatian.
Di lorong, ia melihat beberapa penghuni kos yang baru saja pulang.
Seorang gadis dengan dress ketat berwarna hitam berjalan dengan langkah santai menuju kamarnya. Wajahnya terlihat sedikit lelah, tapi ia masih sempat mengobrol dengan temannya yang berjalan di sebelahnya.
"Capek banget, sumpah," gumamnya sambil melepas sepatu hak tingginya.
"Ya iyalah, kemarin juga kita hampir kena masalah," jawab gadis lain yang mengenakan tank top dan celana pendek, rambutnya masih berantakan.
"Untung tadi lewat jalan belakang," ucap gadis pertama lagi.
Bram mendengar semuanya dengan jelas, meskipun ia tidak mengerti sepenuhnya apa yang mereka bicarakan.
Tapi yang lebih menarik perhatiannya adalah Ara.
Gadis itu keluar dari kamarnya dengan rambut yang masih acak-acakan, mengenakan kaus longgar dan celana pendek santai. Ia terlihat baru bangun tidur.
Ara menyandarkan tubuhnya ke dinding dan menatap dua penghuni kos yang baru pulang dengan ekspresi datar. "Kalian masih sempet kerja juga? Udah kena razia, masih aja nekat?"
Gadis bergaun hitam hanya mengangkat bahu. "Ya, gimana lagi? Mau nggak kerja? Ntar nggak makan."
Ara mendecak pelan. "Kalian tuh cari kerja lain napa...."
Yang lain tertawa kecil. "Ha ha ha... Kayak lo nggak lebih gampang aja?"
Ara hanya mendengus, lalu berbalik kembali ke kamarnya tanpa melanjutkan obrolan.
Bram segera menutup pintunya pelan, kembali ke kasurnya, dan berbaring sambil menatap langit-langit kamar.
Jadi benar dugaannya.
Banyak dari penghuni kos ini memang bekerja di dunia yang "berbeda".
Ia tidak ingin menghakimi, tapi suasana ini membuatnya semakin sadar bahwa ia kini hidup di lingkungan yang jauh dari yang pernah ia bayangkan.
Bram menghela napas panjang.
Besok pagi, ia akan mulai bekerja.
Ia harus tetap fokus.