Pertama kali

1125 Kata
Bram mencoba memejamkan matanya lagi, tetapi pikirannya masih penuh dengan apa yang baru saja ia lihat dan dengar. Dunia malam penghuni kos ini begitu berbeda dari kehidupannya di desa. Dari suara-suara yang terdengar di luar, ia bisa menyimpulkan bahwa beberapa dari mereka memang "bekerja" hingga dini hari. Ada yang terdengar bercanda santai, ada yang mengeluh lelah, dan ada pula yang memilih langsung masuk ke kamar tanpa banyak bicara. Tapi Ara... Gadis itu jelas berbeda. Dari caranya berbicara dengan penghuni lain, Bram bisa merasakan bahwa ia tidak sepenuhnya sama seperti mereka. Ara mungkin juga memiliki (cara) sendiri untuk menghasilkan uang, seperti yang Bram lihat saat ia live streaming dengan pakaian minim. Tapi setidaknya, dari sikapnya tadi, ia tidak terlalu terlibat dalam dunia yang lebih "berisiko" seperti penghuni lain. Atau mungkin... Ara hanya lebih pandai menyembunyikannya? Bram menggelengkan kepala. Ia tidak ingin terlalu dalam memikirkan urusan orang lain. Yang jelas, dunia di sekelilingnya sekarang jauh lebih keras daripada yang pernah ia bayangkan. Ia menarik napas panjang dan mencoba kembali tidur. Besok adalah hari pertamanya bekerja. Apa pun yang terjadi di kos ini, ia tidak boleh kehilangan fokus. Namun satu hal yang pasti... Kota ini masih menyimpan lebih banyak rahasia, dan Bram baru saja menginjak pintu gerbangnya. Pagi itu, Bram bangun lebih awal. Ini hari pertamanya bekerja, dan ia ingin memberikan kesan yang baik. Setelah mandi dan mengenakan pakaian sederhana, kaus polo dan celana jeans, ia mengambil tas kecil, lalu keluar dari kamar. Suasana kos masih sepi. Sebagian besar penghuninya masih tertidur, mungkin karena baru pulang dini hari tadi. Bram berjalan melewati teras dengan langkah ringan, bersyukur karena tidak perlu menjelaskan ke mana ia pergi kepada para penghuni yang selalu penuh dengan godaan dan candaan aneh. Begitu keluar dari gang, ia melangkah menuju tempat kerja barunya. Sebuah ruko sederhana dengan plang besar bertuliskan "Ekspedisi Nusantara". Bram berdiri sebentar di depan pintu kaca, melihat ke dalam. Beberapa kurir sudah tampak sibuk, beberapa lainnya masih duduk sambil menyeruput kopi pagi mereka. la menarik napas dalam, lalu melangkah masuk. Seorang pria bertubuh besar dengan kemeja putih yang kemarin ia temui langsung menoleh ke arahnya. "Oh, kamu datang juga," kata pria itu, menatap Bram dari atas ke bawah dengan ekspresi menilai. Bram mengangguk cepat. "Iya, Pak. Saya siap kerja." Pria itu menyeringai. "Bagus. Nama saya Pak Arif, kamu bisa panggil saya begitu." Bram mengangguk lagi. "Baik, Pak Arif." Pak Arif lalu menunjuk ke arah salah satu pria lain yang sedang duduk di kursi sambil merapikan tumpukan paket kecil. "Itu Darto, dia bakal ngajarin kamu sistem kerja di sini. Ikuti dia dulu, biar nggak bingung." Bram menoleh dan melihat pria bernama Darto, usia sekitar 30-an, wajahnya sedikit santai dengan rokok yang terselip di telinga. Darto menatap Bram sekilas, lalu mengangguk. "Anak baru, ya?" "Iya, Mas," jawab Bram sopan. Darto berdiri dan menepuk pundak Bram. "Oke, ikut gue. Kita mulai dari yang gampang dulu." Bram mengikutinya, dan hari pertamanya sebagai kurir pun dimulai. Di dalam hati, ia berjanji bahwa ia akan bekerja keras. Ia datang ke kota ini bukan untuk bermain-main. Bram mengikuti Darto ke bagian belakang ruko, di mana tumpukan paket berbagai ukuran berjejer rapi di rak besi. Bau kardus, plastik, dan tinta label begitu khas. "Jadi, di sini kita kerja sistem shift," ujar Darto santai sambil mengeluarkan daftar pengiriman pagi itu. "Kalau kamu kerja pagi, biasanya dari jam 07.00 sampai jam 15.00. Tapi kalau kebagian shift siang, dari siang sampai malam." Bram mengangguk paham. "Oke, Mas. Berarti sekarang mulai belajar dulu?" Darto menyeringai. "Belajar? Nggak ada teori di sini, langsung praktik!" Ia mengambil satu paket kecil dan menyerahkannya ke Bram. "Nih, coba lihat alamatnya." Bram menerima paket itu dan membaca labelnya. Sebuah alamat di Jalan Rajawali, tidak terlalu jauh dari tempat ekspedisi. Darto menepuk pundaknya. "Kerjaan kita simpel. Ambil paket, baca alamat, kirim ke tujuan. Tapi ada beberapa aturan yang harus kamu inget." Bram menyimak dengan serius. "Pertama," Darto mengangkat jari telunjuknya, "pastikan paket sesuai dengan nama dan alamat penerima. Kadang ada yang salah cetak, jadi lo harus teliti." "Siap, Mas," jawab Bram cepat. "Kedua," lanjut Darto, "jangan pernah nerima duit dari pelanggan kalau bukan COD. Semua transaksi lewat aplikasi atau sistem di kantor." Bram mengangguk lagi. "Ketiga," Darto menyeringai, "siapin tenaga. Lo bakal naik turun tangga, kejar-kejaran sama deadline, dan kadang ketemu pelanggan ngeselin. Tapi ya, itu udah biasa." Bram tertawa kecil. "Paham, Mas." Darto mengangguk puas. "Bagus. Oke, sekarang kita mulai tugas pertama. Lo bisa naik motor?" Bram mengangguk. "Bisa, Mas." "Bagus," kata Darto sambil menyerahkan kunci motor. "Hari ini lo pake motor kantor dulu. Kita mulai dari yang deket-deket biar lo nggak bingung." Bram menerima kunci itu dan merasakan sedikit antusiasme. Ini bukan pekerjaan mewah, tapi ini adalah langkah pertama menuju sesuatu yang lebih besar Darto menepuk bahunya sekali lagi. "Santai aja, Bram. Kerja di sini gampang, asal lo tahan banting. Kalau udah biasa, lo bakal menikmati." Bram tersenyum. Hari pertama sebagai kurir baru saja dimulai. Dan ia siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi di jalanan kota. Hari pertama bekerja sebagai kurir tidak selalu mulus, tapi Bram menjalaninya dengan sepenuh hati. la mengendarai motor kantor dengan kecepatan stabil, mengikuti petunjuk alamat yang diberikan Darto. Panas matahari, kemacetan, dan kadang alamat yang sulit ditemukan, semua menjadi tantangan tersendiri. Namun, tidak seperti yang ia bayangkan, pekerjaan ini terasa lebih mudah dari yang ia duga. Bukan karena pekerjaannya ringan, tapi karena ia tidak mengeluh. Setiap kali harus berhenti di gang sempit, ia turun dari motor dan berjalan kaki. Saat harus naik ke lantai tiga karena gedung tidak punya lift, ia tidak merasa keberatan. Setiap kali pelanggan bersikap ramah dan mengucapkan terima kasih, ia merasa lebih dihargai. Dan saat bertemu pelanggan yang jutek atau marah-marah karena paket telat datang, ia tetap menanggapinya dengan sabar. Seperti saat siang itu, di mana Bram harus mengantarkan paket ke seorang pelanggan yang ternyata tidak sabaran dan langsung menyalahkan kurir. "Kok baru datang sekarang? Saya pesannya dari kemarin!" protes seorang ibu dengan nada tinggi saat membuka pintu. Bram tetap tersenyum. "Maaf, Bu. Saya hanya mengantarkan paketnya, mungkin keterlambatan terjadi di gudang pusat." Ibu itu masih menggerutu, tapi akhirnya menerima paketnya dan menutup pintu dengan tanpa ucapan terima kasih. Bram menghela napas panjang dan melanjutkan tugasnya. Bagi sebagian orang, mungkin pekerjaan ini terasa melelahkan dan penuh tekanan. Namun bagi Bram, ini lebih baik dibandingkan duduk diam dan tidak melakukan apa-apa. Bekerja membuatnya merasa bernilai. Ketika ia menyelesaikan pengiriman terakhirnya sore itu dan kembali ke kantor ekspedisi, Darto menepuk pundaknya dengan bangga. "Bagus, Bram. Lo cepat beradaptasi. Gimana hari pertama lo?" Bram tersenyum kecil, meski tubuhnya sedikit pegal. "Lumayan, Mas. Capek, tapi seru juga." Darto tertawa. "Halah, lo baru sehari. Coba kalau udah seminggu, baru lo ngerasain aslinya." Bram tertawa kecil, tapi dalam hatinya ia yakin, Selama ia bekerja dengan hati, pekerjaan ini akan selalu terasa lebih mudah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN