Bella di kamar Bram

1243 Kata
Setelah seharian bekerja sebagai kurir, Bram pulang ke kos dengan badan penuh keringat dan rasa lelah yang menggantung di tubuhnya. Begitu masuk ke dalam kamarnya, ia langsung mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Air dingin menyegarkan tubuhnya, membersihkan sisa debu jalanan dan keringat yang menempel. Meski tubuhnya lelah, ada kepuasan tersendiri dalam pekerjaannya hari ini. Setelah selesai mandi dan mengenakan pakaian santai, kaus tipis dan celana pendek Bram duduk di kasurnya, baru saja ingin beristirahat, hingga tiba-tiba.... Tok. Tok. Tok. Ada seseorang mengetuk pintu kamarnya. Bram mengernyit. Tidak ada suara siapa pun dari luar. la berdiri dan membuka pintu dengan sedikit rasa penasaran. Di depan pintu, berdiri seorang gadis yang juga merupakan penghuni kost di sana. Gadis itu tampak santai, tetapi juga... menarik perhatian. Ia mengenakan tank top ketat berwarna coklat yang menempel sempurna di tubuhnya, dipadukan dengan celana pendek yang memperlihatkan kakinya yang jenjang. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak martabak. Bram menelan ludah tanpa sadar. Ia tidak mengenal gadis ini secara langsung, tapi ia pernah melihatnya di kos. Si gadis tersenyum tipis. "Bram, kan?" Bram mengangguk. "tya...?" Si gadis mengangkat kotak martabak di tangannya. "Aku bawa martabak buat kamu. Kebanyakan kalau dimakan sendiri, jadi aku mau makan bareng kamu aja." Bram sempat bingung beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk dan menerima kotak itu. Aroma manis martabak langsung tercium, membuat perutnya yang sudah kosong kembali terasa lapar. "Eh, makasih...?" ujar Bram ragu, masih sedikit heran kenapa gadis ini tiba-tiba memberikan makanan kepadanya. Si gadis kembali tersenyum. "Nama aku Bella. Aku juga ngekos di sini. Tapi kita belum pernah ngobrol, kan?" Bram mengangguk kecil. "Iya, kayaknya belum." Lalu, yang membuatnya semakin terkejut, Bella melanjutkan kalimatnya dengan santai. "Boleh aku masuk?" Bram terdiam sejenak. Di desa, ia bahkan tidak pernah sekalipun berada dalam situasi seperti ini. Jangankan ada perempuan yang datang membawa makanan untuknya, di sana para gadis justru menghindarinya. Tapi di kota ini? Ara baru saja mengajaknya makan semalam, dan sekarang Bella tiba-tiba muncul di depan kamarnya dengan membawa martabak dan meminta masuk. Seakan-akan di kota ini, dirinya berubah dari seseorang yang diremehkan menjadi pria yang dikejar-kejar oleh wanita. Bram sedikit ragu, tapi ia tidak menemukan alasan untuk menolak. Dengan sedikit canggung, ia membuka pintu lebih lebar dan mengangguk. "Eh, ya... masuk aja." Bella tersenyum dan langsung melangkah masuk dengan santai, seolah tidak ada sedikit pun rasa canggung di dirinya. Begitu masuk, ia langsung duduk di tepi kasur Bram, menaruh kotak martabak di meja kecil di samping tempat tidur. Matanya sedikit mengamati kamar Bram yang sederhana. "Kamarmu rapi juga, ya," komentar Bella sambil menatap sekeliling. Bram yang masih berdiri di dekat pintu hanya tersenyum kecil. "Baru ditempati, sih. Jadi belum berantakan." Bella tertawa kecil, lalu menepuk kasur di sebelahnya. "Santai aja, Bram. Masa aku doang yang duduk? Aku ke sini bukan mau makan martabak sendirian, lho." Bram menelan ludah. Situasi ini benar-benar di luar kebiasaannya. Di desa, tidak ada gadis yang mau dekat dengannya. Tapi di kota ini, tiba-tiba seorang perempuan cantik masuk ke kamarnya begitu saja, duduk di kasurnya, dan mengajaknya makan bersama. Dengan sedikit kaku, Bram akhirnya berjalan dan duduk di ujung kasur, menjaga jarak yang cukup aman. Bella membuka kotak martabak dan mengambil satu potong, lalu menyerahkannya ke Bram. "Makan aja, aku udah makan duluan tadi." Bram menerima potongan martabak itu dan mulai menggigitnya, Rasanya manis, tapi pikirannya justru semakin penuh dengan pertanyaan. Bella menatapnya dengan senyum kecil. "Jadi, gimana kerjaan mu hari ini?" Bram menelan makanannya sebelum menjawab. "Lumayan. Capek sih, tapi nggak masalah. Aku butuh kerjaan." Bella mengangguk. "Bagus. Banyak cowok di sini yang cuma santai dan ngandelin orang lain. Tapi kamu beda." Bram mengernyit. "Beda gimana?" Bella menatapnya dengan ekspresi sulit ditebak. "Entahlah. Aku baru kenal kamu, tapi aku ngerasa kamu tipe orang yang nggak gampang nyerah." Bram hanya tersenyum tipis, tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Sementara itu, Bella tampak semakin nyaman. Ia menarik kakinya ke atas kasur dan duduk dengan posisi bersila, seolah kamar ini adalah miliknya juga. "Aku penasaran," kata Bella tiba-tiba. Bram menoleh. "Penasaran apa?" Bella menatapnya sambil menyandarkan tubuhnya ke dinding. "Di kos ini, yang duluan deketin kamu itu Ara, kan?" Bram sedikit terkejut. Ia tidak menyangka bahwa Bella memperhatikan hal itu. "Eh... iya. Dia baik sih," jawab Bram jujur. Bella tersenyum tipis. "Ara emang gitu. Dia cepat akrab sama siapa aja. Tapi aku juga nggak mau kalah, dong." Bram menatap Bella, tidak benar-benar mengerti maksudnya. Tapi sebelum ia sempat bertanya, Bella mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat dan menatapnya dengan tatapan tajam. "Aku juga pengen kenal lebih jauh sama kamu, Bram." Bram merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ini bukan sesuatu yang pernah ia alami sebelumnya. Di desa, ia selalu dihindari. Tapi di kota ini, sepertinya ia mulai menjadi rebutan. Bram masih terdiam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa terhadap perkataan Bella tadi. Gadis itu hanya tersenyum santai, seolah tidak menyadari betapa canggungnya Bram saat ini. Setelah beberapa saat, Bella kembali mengambil sepotong martabak dan menyantapnya dengan lahap. Bram bisa melihat dari ekspresinya bahwa ia benar-benar menikmati makanan itu. "Aku suka martabak ini," kata Bella sambil mengunyah pelan. "Tapi kayaknya kebanyakan pesen, deh." Bram hanya mengangguk kecil. "Iya, ini lumayan banyak." Bella tertawa kecil. "Iya kan? Aku kalau lapar suka kalap. Tapi kalau udah kenyang, ya begini...." Bram menatap Bella yang kini bersandar ke dinding dengan ekspresi malas, memegangi perutnya. "Hadeh... kenyang banget," keluh Bella sambil mengusap perutnya. Bram tersenyum kecil. "Kalau-udah kenyang, ya istirahat aja." Bella mengangguk pelan, lalu tiba-tiba merebahkan tubuhnya ke kasur Bram dengan santai, kepalanya bersandar di bantal. Bram langsung tegang. "Lho... Bella?" Bella hanya menghela napas panjang. "Bentar aja, Bram... Aku lagi mager banget gerak." Bram semakin bingung. Di desa, tidak ada satu pun gadis yang mau dekat dengannya, apalagi sampai rebahan di tempatnya seperti ini. Tapi Bella? la begitu santai, seolah tidak ada batasan di antara mereka. Awalnya Bram berpikir Bella hanya ingin berbaring sebentar. Tapi semakin lama, napasnya menjadi lebih teratur. Bram menatapnya. Bella tertidur. Gadis itu benar-benar tertidur begitu saja di kasur Bram, tanpa memikirkan apa pun. Bram menghela napas panjang. Situasi ini semakin sulit dipercaya. Ia melihat ke arah pintu, takut kalau ada penghuni kos lain yang tiba-tiba masuk dan melihat ini. Tapi Bella tidak menunjukkan tanda-tanda ingin bangun. Bram akhirnya hanya bisa duduk di sudut kasur, memikirkan betapa gilanya kehidupannya sekarang. Di desa, ia dianggap tidak menarik. Di kota, ia justru didekati oleh dua gadis cantik sekaligus. Dan sekarang? Bella tertidur di kamarnya. Bram benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Bram duduk di sudut kasur, menatap Bella yang masih tertidur dengan nyaman di tempat tidurnya. Ia tidak bisa membiarkan ini berlarut-larut. Bagaimana pun juga, ini adalah kamarnya, dan Bella seharusnya kembali ke kamarnya sendiri. Dengan sedikit ragu, Bram mencoba membangunkannya. "Bella... bangun, udah malem." Bella hanya menggumam pelan, lalu berguling ke samping dengan malas. "Hmm... kalau mau tidur, tidur aja," kata Bella dengan suara mengantuk, sambil menggeser tubuhnya sedikit ke samping. seolah memberi tempat untuk Bram. Bram langsung menelan ludah. Situasi ini semakin sulit untuk dipahami. Di satu sisi, ia tidak ingin menolak secara kasar. Tapi di sisi lain, ini adalah sesuatu yang belum pernah ia alami sebelumnya. Ia hanya ingin tidur dengan tenang, tanpa kejadian yang bisa membuatnya berpikir terlalu jauh. Namun, setelah beberapa saat mempertimbangkan, Bram akhirnya menghela napas dan perlahan merebahkan tubuhnya di sisi Bella. Baru saja ia merasa sedikit nyaman, tiba-tiba... Bella membuka matanya. Tatapannya tidak lagi terlihat mengantuk, tapi penuh arti. Dan sebelum Bram sempat bertanya apa yang sebenarnya terjadi, Bella langsung melakukan apa yang ia inginkan sedari tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN