Dini hari pukul 03:30, suasana kos yang semula tenang mulai kembali bergejolak.
Bram yang masih setengah sadar perlahan membuka matanya. Tubuhnya terasa sedikit berat, dan ia baru menyadari bahwa Bella masih berada di sampingnya.
Namun sebelum ia sempat menggerakkan tubuhnya, suara dari luar terdengar jelas.
Pintu kamar sebelah terbuka.
Langkah kaki beberapa orang terdengar memasuki lorong, diikuti dengan suara bisik-bisik.
"Gila, malem ini nyeri banget."
"Iya, dapet lumayan nih."
Bram masih diam, mendengarkan dengan teliti. Namun, yang membuatnya semakin terkejut adalah ketika salah satu suara itu tiba-tiba menyebut nama yang sangat la kenali.
"Eh, Bella udah pulang belum?"
Jantung Bram langsung berdegup lebih cepat.
Bella juga langsung terbangun, namun reaksinya jauh lebih cepat dari Bram.
Sebelum Bram sempat membuka mulutnya untuk bertanya, Bella langsung menindihnya, menatapnya dengan ekspresi serius.
Dan tanpa peringatan, ia membungkam mulut Bram dengan ciumannya.
Bram terkejut.
Bukan hanya karena ciuman itu, tapi juga karena Bella melakukannya tanpa ragu, seolah ini adalah sesuatu yang biasa baginya.
Sementara dari luar, suara seseorang masih terdengar.
"Serius, tadi dia bilang mau keluar sebentar. Tapi sekarang nggak ada di kamarnya."
"Mungkin lagi di kamar orang?" celetuk suara lain sambil tertawa kecil.
Bella menekan tubuhnya lebih erat ke Bram, menjaga agar ia tetap diam.
Ciumannya bukan hanya untuk bermain-main, tapi jelas sebuah isyarat untuk membuat Bram tidak bersuara.
Suara langkah kaki dari luar semakin dekat, berhenti tepat di depan kamar Bram.
Tok. Tok. Tok.
Seseorang mengetuk pintu.
"Bella, lo di dalam?" Bram langsung terdiam membeku.
Namun, Bella hanya tersenyum tipis, masih menahan tubuhnya di atas Bram, memastikan bahwa tidak ada suara yang keluar dari kamar.
Situasi ini semakin sulit untuk dipercaya.
Bram benar-benar membeku.
Jantungnya berdegup cepat, bukan hanya karena Bella yang masih menindihnya, tetapi juga karena ketukan di pintu yang semakin intens.
Tok. Tok. Tok.
"Bella, lo di dalam nggak?!" suara dari luar terdengar semakin penasaran.
Namun, Bella tetap diam.
Ia hanya menatap Bram dengan ekspresi santai, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
Kemudian, senyum tipis terukir di wajahnya.
Perlahan, Bella mendekatkan bibirnya ke telinga Bram dan berbisik pelan,
"Jangan gerak. Jangan bersuara."
Bram menelan ludah.
Ia tidak tahu apa yang sedang terjadi, siapa yang mencarinya di luar, atau kenapa Bella justru bersikap seolah ini adalah sebuah permainan.
Namun, ia tahu satu hal.Bella sama sekali tidak terlihat takut.
Dari luar, suara langkah kaki kembali terdengar, seolah seseorang sedang mencoba memastikan keberadaan Bella.
Namun setelah beberapa detik, tidak ada jawaban dari dalam kamar. Hening.
Lalu, suara itu kembali terdengar, kali ini lebih pelan.
"Hmph... mungkin dia masih di luar."
Beberapa detik kemudian, suara langkah kaki mulai menjauh.
Mereka pergi.
Suasana kembali hening.
Bella akhirnya menarik napas panjang, lalu menatap Bram dengan ekspresi puas.
Bram, yang masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi, menatapnya dengan penuh kebingungan.
"Mereka nyariin kamu?" bisik Bram, suaranya hampir tidak terdengar.
Bella hanya tersenyum kecil dan menyandarkan kepalanya ke d**a Bram, seolah semuanya baik-baik saja.
"Nggak penting. Yang jelas, mereka nggak akan ganggu kita lagi."
Bram masih ingin bertanya lebih lanjut, tapi cara Bella mengatakan itu begitu ringan seolah ini bukan sesuatu yang perlu ia pikirkan.
Akhirnya, Bram hanya bisa terdiam, mencoba memahami situasi yang benar-benar di luar perkiraannya.
Pagi datang dengan cepat.
Sinar matahari mulai menerobos masuk melalui celah ventilasi kamar Bram, menyinari ruangan yang masih terasa hangat akibat kejadian semalam.
Bram perlahan membuka matanya. Dan ia langsung sadar bahwa Bella masih ada di sampingnya.
Gadis itu juga mulai menggeliat pelan, sebelum akhirnya membuka matanya dan menghembuskan napas panjang. Tatapan pertama mereka bertemu.
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.
Lalu, Bella tersenyum tipis.
"Aku harus balik sebelum ada yang lihat," ucapnya pelan.
Bram hanya mengangguk, masih mencerna kenyataan bahwa apa yang terjadi semalam bukan sekadar mimpi.
Bella duduk di tepi kasur, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu dengan gerakan hati-hati, ia melangkah ke pintu dan mengintip keluar.
Kos masih sepi. Sebagian besar penghuninya mungkin masih terlelap setelah semalaman bekerja.
Setelah memastikan semuanya aman, Bella berlari kecil keluar dari kamar Bram dengan langkah cepat dan lincah, kembali ke kamarnya sendiri.
Bram masih terdiam di kasurnya, tatapannya menerawang ke langit-langit kamar, lalu... tersenyum.
Ia memikirkan apa yang baru saja terjadi.
Di desa, ini adalah sesuatu yang mustahil.
Tidak ada satu pun gadis yang mau mendekatinya. Bahkan untuk sekadar berbicara lama-lama pun mereka enggan.
Tapi di kota?
Semuanya berbeda.
Hanya dalam beberapa hari, ia sudah mengalami sesuatu yang di desa bahkan tidak pernah ia impikan.
Dan yang lebih mengejutkan?
la mulai menikmatinya.
Kota ini mungkin keras, penuh tantangan, dan tak terduga....
Tapi di sinilah serunya.
Bram bersiap untuk berangkat kerja. Setelah memastikan penampilannya cukup rapi untuk seorang kurir, ia mengambil helm dan melangkah keluar kamar dengan semangat baru.
Namun, tepat ketika ia hendak berjalan keluar kos, suara motor matic berhenti di depan gang kecil.
Bram menoleh, dan melihat Ara baru saja pulang dengan Yamaha Aerox pink-nya. Gadis itu tampak santai, masih mengenakan sweater putih dengan gambar Teddy bear yang kebesaran, dengan rambut sedikit berantakan, pertanda bahwa ia mungkin baru saja menyelesaikan aktivitasnya semalaman.
Namun yang menarik perhatian Bram bukan hanya kehadiran Ara, tapi juga kantong bungkusan makanan di tangannya.
Tanpa banyak basa-basi, Ara berjalan ke arahnya dan langsung menyerahkan kantong itu.
"Nasi bungkus buat sarapan," katanya santai, sebelum berbalik menuju kamarnya.
Bram sempat terdiam. Semuanya terasa begitu cepat.
"Tunggu, ini buat aku?" tanyanya, meski jawabannya sudah jelas.
Ara hanya melambaikan tangan tanpa menoleh. "Iya, makan aja. Jangan sampai telat kerja."
Bram menatap bungkusan itu, merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Di desa, bahkan untuk mendapatkan perhatian sedikit saja dari seorang gadis sudah sulit.
Tapi di sini?
Ia baru keluar kamar, dan seseorang sudah memberikan sarapan untuknya.
Bram tersenyum kecil.
Hidup di kos ini, yang awalnya ia kira akan menjadi tantangan, ternyata justru membawa keberuntungan.
Ia melanjutkan langkahnya, bersiap pergi ke tempat kerja dengan semangat baru.
Namun, sebelum ia benar-benar meninggalkan area kos, suara lain menyapanya dari teras depan.
Bram menoleh dan melihat Bella, duduk santai dengan secangkir kopi di satu tangan dan sebatang rokok di tangannya yang lain.
Matanya yang sedikit mengantuk menatap Bram dengan ekspresi santai.
"Semangat ya, Bram," katanya sambil mengangkat cangkir kopinya.
Lalu, sebelum Bram sempat menjawab, Bella tersenyum jahil dan menambahkan dengan nada menggoda:
"Aku udah kasih penyemangat semalam."
Setelah itu, ia menghisap rokoknya dalam-dalam, sebelum menghembuskan asap ke udara pagi.
Bram hanya bisa tertawa kecil.
la tidak pernah membayangkan hidupnya bisa seperti ini.
Tapi sekarang?
Ia mulai benar-benar menikmatinya.
Dengan langkah ringan dan senyum yang masih tersungging di wajahnya, Bram melanjutkan perjalanannya.
Hari ini akan menjadi hari yang panjang. tapi ia tahu, ia sudah mendapatkan cukup 'motivasi' untuk menghadapinya.