Sebulan kemudian....
Bram akhirnya merasakan hasil dari kerja kerasnya. Hari ini, ia menerima gaji pertamanya sebagai kurir.
Nominalnya memang tidak besar, tapi cukup untuk membuatnya bertahan hidup di kota ini dengan tenang.
la langsung menyisihkan uangnya untuk kebutuhan pokok. Makan, bensin, dan tentu saja, bayar kos.
Sore itu, setelah pulang kerja, Bram tidak langsung masuk ke kamarnya. Ia berjalan ke arah rumah yang berada di samping kosan, rumah yang cukup besar dan terawat.
Rumah Bu Rini.
la mengetuk pintu dengan ringan, dan tak lama kemudian, pintu terbuka.
Bu Rini muncul dengan daster sederhana, rambutnya disanggul seadanya, namun tetap terlihat anggun.
Matanya yang tajam menatap Bram sebentar sebelum tersenyum kecil.
"Oh, Bram. Udah waktunya bayar kos, ya?"
Bram mengangguk. "Iya, Bu. Ini uangnya."
Bu Rini menerima uang tersebut dan menghitungnya sekilas. Setelah itu, ia melirik Bram, tapi bukannya langsung mengizinkan pergi, justru ia menahannya.
"Jangan buru-buru, duduk dulu sebentar."
Bram sedikit terkejut. Namun, ia tetap menurut, duduk di kursi yang ada di ruang tamu rumah Bu Rini.
Perempuan paruh baya itu menatapnya dengan ekspresi santai.
"Gimana, kerjaannya? Betah tinggal di sini?" tanyanya sambil memainkan uang yang baru saja ia terima.
Bram mengangguk, jawabannya seadanya.
"Syukurlah, Bu. Pekerjaan sudah mulai stabil. Saya sudah mulai bisa mengikuti ritme kerja, nggak terlalu berat kalau udah terbiasa."
Bu Rini tersenyum. "Bagus, kalau gitu. Terus di kos gimana? Betah?"
Bram tertawa kecil. "Betah, Bu. Tetangga kostnya baik-baik. Saya sering dikasih makan, malah kadang-kadang ditraktir juga."
Bu Rini mengangkat alis, seolah sudah bisa menebak siapa saja yang dimaksud oleh Bram.
"Loh, sering dikasih makan? Dari siapa aja, Bram?" tanyanya dengan nada menggoda.
Bram menggaruk tengkuknya, sedikit canggung. "Ya... Ara pernah bawain sarapan, Bella juga pernah bawain martabak...."
Bu Rini tertawa kecil, seolah tidak terkejut sama sekali.
"Ya, namanya juga anak-anak di kos ini. Kadang mereka bisa perhatian kalau merasa cocok," katanya, lalu menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang lain di sekitar.
Bram sedikit bingung dengan gerak-geriknya.
Kemudian, Bu Rini bersandar ke kursinya, menatap Bram dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Suamiku lagi dinas luar kota," katanya dengan nada pelan, seolah sedang berbagi rahasia Bram langsung terdiam.
Bu Rini tersenyum tipis, lalu melanjutkan, "Jadi di rumah ini sepi banget. Kesepian itu nggak enak, Bram."
Bram tidak langsung menjawab.
Ada sesuatu dalam tatapan dan nada suara Bu Rini yang terasa berbeda.
Dan entah kenapa, situasi ini terasa... berbeda.
Di kota ini, Bram selalu mengalami kejutan.
Tapi kali ini, ia benar-benar tidak tahu harus bereaksi seperti apa.
Bram baru keluar dari rumah Bu Rini pukul tujuh malam.
Udara sore mulai berubah menjadi malam, langit sudah gelap dengan lampu-lampu jalanan yang mulai menyala. Ia berjalan perlahan keluar dari rumah itu, dengan perasaan campur aduk.
Sementara itu, di balik pintu, Bu Rini masih berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan senyum yang berbeda dari sebelumnya.
Wajah perempuan paruh baya itu terlihat berseri-seri, jauh lebih segar dibandingkan sebelumnya. Rambutnya sedikit acak-acakan, dan dasternya pun sedikit tersingkap.
Ia tersenyum puas, lalu menatap Bram dengan ekspresi penuh arti.
"Makasih ya, Bram," ucapnya lembut.
Bram yang masih berusaha bersikap santai, hanya mengangguk pelan. "Sama-sama, Bu."
Namun, Bu Rini langsung menggeleng dan menatapnya tajam.
"Jangan panggil aku Bu," katanya dengan suara pelan namun tegas. "Aku jadi merasa tua kalau kamu panggil begitu."
Bram sedikit terdiam, sebelum akhirnya tersenyum kecil.
Situasi ini benar-benar di luar dugaannya.
Sejak datang ke kota, hidupnya berubah begitu cepat.
Awalnya, ia hanya pemuda desa yang direndahkan.
Namun kini?
Di kos ini, ia menjadi pusat perhatian banyak perempuan.
Dan yang lebih mengejutkan, bukan hanya Ara dan Bella, tapi kini Bu Rini pun menunjukkan sesuatu yang tidak ia duga sama sekali.
Bram mengangguk pelan, sebelum melangkah kembali ke kamarnya.
Di sepanjang jalan menuju kos, ia tidak bisa menahan senyumnya.
Dulu di desa, ia bahkan tidak dilirik oleh gadis-gadis di sana.
Tapi di kota?
Semuanya mungkin terjadi. Dan kini, Bram semakin menikmati kehidupannya di sini. la melangkah di lorong kos dengan santai, namun suasana di sekitarnya terasa berbeda. Ia bisa merasakan tatapan beberapa penghuni kos yang sedang duduk di teras kamar mereka.
Beberapa dari mereka tertawa kecil, saling berbisik, lalu cekikikan saat melihat dirinya.
Bram sedikit mengernyit.
"Ada apa?" pikirnya, sebelum akhirnya menyadari sesuatu.
Kancing kemejanya berantakan, tidak tertutup dengan benar.
Dan yang lebih parah, begitu ia menoleh ke kaca kecil di dinding lorong, ia melihat sesuatu yang benar-benar mencolok....
Bekas gincu merah samar di lehernya.
Bram langsung terdiam.
la langsung mengerti apa yang membuat para penghuni kos cekikikan saat melihatnya.
Di sudut lorong, Bella duduk santai di kursinya, memainkan ponsel dan menghisap rokoknya.
Tatapannya penuh arti saat melihat Bram yang berjalan dengan wajah yang sedikit bingung.
Lalu, dengan nada godaannya yang khas, Bella berkata, "Wih, Bram... sibuk banget ya hari ini? Baru gajian langsung banyak urusan."
Tawa beberapa penghuni kos lainnya pecah seketika.
Bram menghela napas pelan, lalu tersenyum kecil.
la tidak perlu menjelaskan apa pun. Mereka semua sudah cukup pintar untuk memahami situasi ini.
Kehidupan di kota memang penuh kejutan.
Dan Bram?
Kini ia semakin terbiasa dengan semuanya.
Dengan langkah santai, ia masuk ke kamamya.
Bram baru saja hendak masuk ke kamarnya, ingin beristirahat setelah hari yang panjang dan penuh kejutan.
Namun, belum sempat ia menutup pintu, tiba-tiba tangannya ditarik dengan cukup kuat.
"Eh, Ara?!"
Ara menarik Bram ke sudut lorong yang agak sepi. Wajahnya tampak serius, matanya menatap tajam seolah ingin mendapatkan jawaban.
"Baru dari mana, Bram?" tanyanya langsung.
Bram sedikit terkejut. Ara tidak pernah terlihat seserius ini sebelumnya.
"Aku... dari rumah Bu Rini, bayar kos," jawabnya seadanya.
Namun, Ara tetap menatapnya tanpa berkedip, seolah tidak percaya begitu saja.
"Bayar kos?" ulangnya, lalu matanya bergerak ke arah bekas gincu di leher Bram yang masih samar.
Bram langsung menyadari arah tatapannya, dan ia tahu, kalau Ara sudah tahu.
Namun, sebelum ia sempat menjelaskan lebih jauh, Ara malah tersenyum tipis.
Senyum yang bukan sekadar senyum biasa, melainkan senyum yang menyimpan sesuatu di baliknya.
"Aku cuma penasaran, sih...." katanya pelan.
"Tapi sebenarnya, aku nggak perlu jawaban."
Bram mengerutkan kening.
"Maksudnya?"
Dan tanpa peringatan, Ara langsung mencium Bram.
Bibirnya menempel begitu saja, penuh dengan sesuatu yang tidak pernah Bram duga.
Seketika, dunia seolah berhenti berputar bagi Bram.
Ara, seorang gadis cantik yang begitu percaya diri, mencium dirinya tanpa ragu.
Sangat kontras dengan gadis di desanya.
Setelah beberapa detik, Ara melepaskan ciumannya.
Matanya masih menatap Bram dengan tatapan yang sulit diartikan, antara godaan dan kecemburuan.
Lalu, dengan suara lembut namun tegas, ia berkata.
"Aku cemburu kalau kamu deket sama Bu Rini."
Bram terdiam.
la tidak pernah berpikir bahwa Ara akan merasakan hal seperti ini.
Namun kini, semuanya semakin jelas.
Di kos ini, Bram bukan lagi pria yang dihindari seperti dulu di desa.
Ia menjadi seseorang yang diperebutkan.
Dan malam ini, Ara baru saja menunjukkan perasaannya dengan caranya sendiri.
Bram masih berdiri di tempat, mencoba memahami apa yang baru saja terjadi.
Ara baru saja menciumnya.
Dan lebih dari itu, gadis itu mengakui bahwa ia cemburu.
Namun, sebelum Bram bisa mengatakan apa pun, Ara hanya tersenyüm tipis, lalu menepuk pundaknya pelan.
"Udah sana, masuk ke kamarmu," katanya santai.
Bram masih sedikit bingung, tapi ia akhirnya mengangguk dan berjalan menuju kamarnya.
Sementara itu, Ara juga berjalan menuju kamarnya sendiri, seolah kejadian barusan adalah hal yang biasa baginya.
Bram masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya.
Ia menghembuskan napas panjang, lalu melepas bajunya dan menuju ke kamar mandi. Air dingin segera menyegarkan tubuhnya, menghilangkan rasa lelah setelah seharian bekerja.
Setelah selesai mandi, ia mengenakan kaus santai dan celana pendek.
Akhirnya, ia hendak merebahkan tubuhnya di kasur, berharap bisa beristirahat.
Namun, baru saja ia meletakkan kepala di bantal, ponselnya berbunyi.
Drrtt... drrtt...
Bram menoleh ke layar ponsel.
Sebuah panggilan dari Ara.
Ia mengerutkan kening, lalu mengangkatnya. "Halo?"
"Masih bangun?" suara Ara terdengar dari seberang.
"Iya, baru aja mau tidur. Kenapa?"
Ara tertawa kecil. "Ke kamarku, yuk."
Bram mendadak terdiam.
"Ke kamarmu? Malam-malam gini?" tanyanya memastikan.
"Iya," jawab Ara santai. "Aku mau ngajak kamu live streaming bareng."
Bram langsung terduduk di kasurnya.
Live streaming?
Ia tahu bahwa Ara sering melakukan itu. Bahkan, ia pernah melihat sekilas saat Ara melakukan live di kamarnya dengan pakaian yang... cukup berani.
Namun, sekarang Ara mengajaknya ikut?
Bram menghela napas pelan, lalu bertanya, "Emang aku harus ngapain?"
Ara tertawa kecil. "Udah, datang aja dulu. Aku tunggu."
Setelah itu, telepon pun terputus.
Bram menatap ponselnya dengan perasaan bercampur aduk.
Ini adalah sesuatu yang baru baginya.
Ia tidak pernah membayangkan akan mengalami hal-hal seperti ini.
Namun sekarang?
Semuanya terasa mungkin.
Dengan sedikit ragu namun juga penasaran, Bram akhirnya bangkit dari kasurnya.
la membuka pintu kamarnya dan melangkah keluar.
Kini, ia akan memasuki dunia lain yang belum pernah ia coba sebelumnya, live streaming bersama Ara.