Bram berdiri di depan pintu kamar Ara, masih sedikit ragu.
Namun, sebelum ia sempat mengetuk, pintu itu sudah terbuka dari dalam.
Ara berdiri di sana, tersenyum santai.
"Cepet banget datangnya," godanya.
Bram menggaruk tengkuknya. "Ya... kamu yang ngajak."
Ara hanya terkekeh, lalu menarik tangan Bram masuk ke dalam kamarnya.
Kamar Ara berbeda dari kamar penghuni kos lainnya.
Meskipun tidak besar, tetapi tertata rapi dengan pencahayaan lembut. Di salah satu sudut ruangan, ada meja kecil dengan ring light dan ponsel yang sudah siap di tripod.
Di belakangnya, terlihat background estetik dengan lampu-lampu LED warna ungu kebiruan yang membuat suasana kamar ini lebih menarik.
Bram langsung paham.
Ini bukan live streaming biasa.
Ara menutup pintu dan berjalan ke arah meja, lalu duduk di depan ponselnya.
"Oke, kita mulai," katanya santai.
Bram sedikit bingung. "Aku harus ngapain?"
Ara menoleh dengan senyum jahil. "Santai aja, kita cuma ngobrol bareng. Aku mau lihat reaksi viewers kalau aku bawa tamu spesial."
Bram mengernyit. "Tamu spesial?"
Ara hanya tertawa kecil dan mulai menyalakan live streaming-nya.
[LIVE STARTED]
Dalam hitungan detik, notifikasi komentar langsung berdatangan.
: Wah, Ara live lagi!
: Malam-malam masih semangat ya~
: Eh, siapa tuh cowoknya? Baru pertama kali muncul!
Bram langsung merasa canggung.
"Oke, guys," suara Ara terdengar ceria, "Malam ini aku nggak sendirian. Aku bawa temen baru buat kalian."
la menoleh ke Bram dan menarik lengannya agar lebih mendekat ke kamera.
Bram masih agak kaku, tetapi Ara tersenyum menenangkan.
"Kenalin, ini Bram."
Komentar semakin ramai.
: Ganteng juga ternyata!
: Cowok baru nih? Pacar Ara?
: Wah, biasanya Ara live sendiri, sekarang ada tamu!
Bram hanya bisa tersenyum kecil, tidak tahu harus menjawab apa.
Ara, dengan ekspresi jahilnya, justru semakin mendekat ke Bram.
"Kalian pasti penasaran siapa dia, kan?" katanya menggoda.
Komentar semakin deras.
: JELASSS!
: Kok tiba-tiba bawa cowok?? Ara selingkuh nih
: Perasaan Ara nggak pernah live sama cowok sebelumnya deh....
Bram semakin bingung harus bagaimana.
Namun Ara justru tertawa kecil dan menyandarkan kepalanya ke bahu Bram.
"Rahasia dong~" katanya dengan nada manja, membuat kolom komentar semakin meledak.
Bram bisa melihat betapa 'pro'-nya Ara dalam dunia live streaming ini.
Ia tahu cara menggoda penonton, membuat mereka semakin penasaran, dan tentunya, memancing interaksi lebih banyak.
Tapi, kenapa Ara membawanya ke dalam dunia ini?
Bram belum tahu jawabannya.
Ia masih duduk kaku di depan kamera, sementara Ara semakin luwes memainkan perannya.
Kolom komentar di live streaming terus bergerak cepat, penuh dengan rasa penasaran dari para penonton.
: Wah, Ara makin mesra aja nih~
: Bram, lo pacarnya Ara? Kok baru muncul sekarang?
: Posenya makin deket, makin menarik
Bram tidak tahu harus berbuat apa. Namun, Ara justru semakin berani.
Perlahan, gadis itu menyandarkan tubuhnya ke Bram, membuat jarak di antara mereka semakin dekat.
"Hmm... Aku kira Bram bakal lebih santai," kata Ara sambil menatap wajahnya dari dekat.
Bram menelan ludah. "Santai gimana?"
Ara tersenyum jahil. "Ya... Biasanya cowok seneng kalau diajak live sama aku."
Kolom komentar semakin ramai.
: WAH, ARA GASPOL!
: Bram nggak biasa digodain cewek kali
: Aduh, chemistry-nya dapet banget
Bram masih berusaha tetap tenang, tapi Ara semakin mendorong batas.
Dengan santai, Ara merangkul lengan Bram dan menyandarkan kepalanya di bahunya.
"Gimana, nyaman?" bisiknya pelan, tapi cukup jelas untuk didengar viewers.
Bram langsung merasa seluruh perhatian tertuju padanya.
Ini bukan sekadar live biasa.
Ara sedang memainkan perannya dengan sempurna, membuat semua penonton semakin penasaran dan terlibat dalam interaksi mereka.
Kolom komentar semakin pecah.
: DUH, INI SERIUSAN??
: Ara kalau udah manja gini bikin lemah...
: Bram diem aja, kehabisan-kata-kata ya? Wkwk
Bram menghela napas pelan.
Di desa, tidak pernah ada satu pun gadis yang mau sedekat ini dengannya.
Namun sekarang, Ara yang begitu percaya diri dan menawan, justru memainkannya di depan ratusan penonton.
Ara tertawa kecil, lalu tiba-tiba mengusap dagu Bram dengan jemarinya, menatapnya penuh arti.
"Jangan tegang, Bram," katanya dengan suara lembut.
Bram hampir kehilangan kata-kata.
Namun, sebelum ia sempat bereaksi lebih jauh, Ara justru mendekatkan wajahnya ke arah kamera dan berkata:
"Guys, kalian mau aku ajak Bram live lagi-besok?"
Kolom komentar langsung meledak.
: YES! WAJIB!
: BRAM HARUS SERING DIAJAK LIVE!!
: FIX! INI KONTEN BARU ARA NIH!
Bram hanya bisa duduk diam, mencoba tetap tenang sementara Ara terus memainkan perannya dengan sempurna.
Gadis itu begitu lihai mengendalikan suasana, menggoda penonton, dan membuat interaksi mereka terasa semakin intens.
"Gimana guys? Cocok nggak kalau aku sering live bareng Bram?" tanya Ara dengan nada menggoda, sambil menyandarkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke Bram.
Kolom komentar langsung ramai.
: COCOK BANGET!
: Bram kok diem aja? Deg-degan ya?
: Wajib live tiap malam nih! Ara & Bram the best duo!
Bram tidak bisa menghindari situasi ini. Ja memang tidak terbiasa berada dalam sorotan, apalagi dalam live streaming seperti ini.
Namun, setiap kali Ara tersenyum ke arahnya, seolah memberikan isyarat untuk ikut bermain dalam perannya, Bram perlahan mulai mengikuti.
Sesekali, Ara menyenggol bahunya, menggodanya agar lebih banyak berbicara.
"Bram, kamu kayaknya nggak biasa di depan kamera, ya?" goda Ara, sambil mengacak-acak sedikit rambutnya.
Bram tertawa kecil, akhirnya mulai bisa lebih santai. "Ya, jujur aja, ini pertama kalinya aku live kayak gini."
: WAH, PERTAMA KALI? ΜΑΝΤΑΡ ΝΙH!
: Udah keliatan klop sama Ara
: Kasih tantangan buat Bram dong, Ara!
Melihat respon viewers semakin aktif, Ara semakin semangat.
Ia menatap kamera dengan tatapan jahil, lalu berkata, "Oke, guys! Karena kalian heboh banget, gimana kalau kita kasih tantangan buat Bram?"
Bram langsung menoleh cepat. "Tantangan?"
Ara tertawa kecil, lalu membaca beberapa komentar yang masuk.
: Suruh Bram panggil Ara 'sayang' dong!
: Bram harus rangkul Ara biar makin greget!
: Aduh, makin panas nih live-nya Ara menoleh ke Bram, senyumnya semakin lebar.
"Gimana, Bram? Siap ikut tantangan?" tanyanya sambil menaikkan alisnya.
Bram menelan ludah.
"Kalau nolak, aku bakal bilang ke viewers kalau kamu takut," goda Ara, matanya penuh tantangan.
Bram mendadak bingung.
Ia tahu ini bagian dari permainan Ara.
Tapi, di dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya...
Apakah ini hanya permainan di depan kamera?
Ataukah... Ara benar-benar menikmati ini?
Yang jelas, Bram tahu satu hal, bahwa Live streaming ini akan semakin panas.
Bram menelan ludah, merasakan seluruh perhatian penonton tertuju padanya.
Komentar terus membanjiri layar, menunggu reaksinya.
: AYO BRAM! PANGGIL ARA 'SAYANG'!
: BRAM HARUS NGERANGKUL! JANGAN PASIF TERUS!
: PANAS NIH! ARA SEMANGAT BANGET!
Ara menatapnya dengan senyum jahil.
"Ayo, Bram. Jangan malu-malu," katanya dengan nada menggoda, mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat.
Bram menghela napas, mencoba menenangkan dirinya.
Lalu, dengan suara yang sedikit ragu, ia akhirnya berkata, "Sayang."
Kolom komentar langsung meledak.
: ASTAGAAA DIA NGOMONG!!
: FIX! INI BUKAN SEKEDAR KONTEN!
: ARA KESAMBIILLL!!
Ara tertawa kecil, tapi tidak berhenti di situ.
Sebelum Bram sempat berpikir lebih jauh, Ara tiba-tiba memeluknya erat.
Bram terkejut, tubuhnya menegang seketika.
Pelukan Ara begitu erat, hangat, dan terasa begitu nyata.
Di layar, komentar semakin deras.
: OKE INI GA BERCANDA LAGI!
: BRAM JADI MILIK ARA NIH?
: LIVE PALING BERKESAN MALAM INI
Namun, Ara belum selesai.
Setelah beberapa detik, ia melepaskan pelukannya dengan senyum penuh arti.
Lalu, dengan gerakan santai, ia mulai membuka jaket yang ia kenakan.
Bram hanya bisa menatap, tidak tahu harus berbuat apa.
Dan saat jaketnya terlepas, terlihat jelas bahwa Ara hanya mengenakan kaus tipis yang melekat sempurna di tubuhnya.
Kurva tubuhnya terlihat dengan jelas di bawah cahaya ring light, membuat kolom komentar kembali meledak.
: ASTAGA, ARA GAS POL!
: GUE PANAS NONTONNYA NIH!
: BRAM MASIH HIDUP GAK TUH??
Bram langsung merasa suhu ruangan naik.
Ara tertawa kecil melihat ekspresi wajahnya, lalu berkata dengan suara lembut,
"Bram, kamu siap buat tantangan terakhir?"
Bram menelan ludah lagi.
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya...
Tapi yang jelas, ini adalah pengalaman yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.