Naiknya Status Sosial

1293 Kata
Bram hanya bisa diam, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ara semakin berani, semakin menekan batas. Di layar, kolom komentar terus bergerak cepat, penuh dengan antusiasme dari para penonton. : OKE FIX, INI LIVE TERBAIK ARA! : BRAM MASIH HIDUP KAN? ASTAGA! : PANAS NIH, SEMAKIN MENARIK! Ara tersenyum penuh arti, menatap Bram dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian, ia bersandar ke bahu Bram, membuat tubuh mereka semakin dekat. "Tantangan terakhir," katanya pelan, suaranya terdengar menggoda dan penuh keyakinan. Bram menelan ludah. "Tantangan apa?" tanyanya, meskipun dalam hatinya ia sudah bisa menebak bahwa ini akan menjadi semakin liar. Ara mendekatkan wajahnya ke kamera, menatap penonton sambil berkata, "Kalau kalian mau lihat tantangan terakhir, kasih gift dulu dong~" Kolom komentar langsung meledak. : ASTAGA ARA, KAMU JAHAT BANGET! WKWKWK : BRAM UDAH DIJADIIN PAJANGAN DI SINI : OKE, KASIH GIFT BIAR KITA LIHAT ARA GASPOL! Bram tidak tahu apakah ia harus tertawa atau semakin canggung. Ia sudah terjebak dalam permainan ini. Namun, sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, notifikasi gift mulai berdatangan. Super Gift dari [User01] Gift spesial dari [User02] Firestorm dari [User03] Ara tersenyum puas. "Wah, kalian semangat banget ya." Lalu, tanpa peringatan, Ara menoleh ke Bram dan berbisik, "Maaf ya, Bram. Tapi aku harus bikin live ini pecah." Dan kemudian, Ara menarik wajah Bram lebih dekat... Dan... [LIVE ENDED] Bram hanya bisa duduk diam. Ara tertawa kecil, menutup aplikasinya, lalu menatap Bram dengan ekspresi puas. "Gimana? Seru kan?" tanyanya santai. Bram masih sedikit bingung dengan apa yang baru saja terjadi. "Jadi... itu semua cuma permainan?" tanyanya akhirnya. Ara mengangkat alis, lalu tersenyum miring. "Menurutmu?" Bram terdiam. la tahu ada sesuatu di balik ini semua. Tapi apa itu hanya bagian dari show Ara? Atau ada sesuatu yang lebih dari sekadar live streaming? Yang jelas, malam ini Bram kembali mengalami sesuatu yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Dan ia tahu, hidupnya di kota ini tidak akan pernah sama lagi. Pagi harinya, Bram bangun dengan semangat yang berbeda. Biasanya, ia berangkat kerja dengan perasaan biasa saja, hanya ingin menyelesaikan tugasnya dan mendapatkan penghasilan. Namun, hari ini terasa berbeda. Setelah semalam live streaming bersama Ara, la merasa ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. la tidak hanya semakin dikenal di lingkungan kos, tapi juga di dunia digital, meski masih dalam lingkaran kecil para penonton live Ara Bram tersenyum kecil saat mengingat kejadian tadi malam. "Gimana? Seru kan?" Kata-kata Ara masih terngiang di kepalanya. la tidak tahu apakah itu semua hanya permainan belaka, atau ada sesuatu yang lebih dari itu Namun, yong jelas, ia menikmati setiap detiknya. Dengan semangat baru, Bram mengenakan kaus hitam polos, celana jeans, dan mengambil jaketnya sebelum berangkat kerja. Saat ia keluar dari kamar dan berjalan di lorong kos, beberapa penghuni kos yang masih bersantai di teras memperhatikannya. Ada yang tersenyum menggoda, ada yang berbisik-bisik sambil cekikikan. "Wih, seleb baru kita udah berangkat kerja nih," celetuk salah satu penghuni kos, seorang gadis berambut pendek yang sering terlihat sibuk dengan ponselnya. "Bram, kalau udah terkenal nanti jangan lupa sama kita ya!" tambah gadis lain sambil tertawa kecil. Bram hanya bisa tersenyum, sedikit canggung. Kemudian, di ujung lorong, Bella duduk di bangku kayu sambil menyesap kopinya. Ia menatap Bram dari atas ke bawah, lalu tersenyum miring. "Live streaming semalam seru, ya?" katanya, matanya penuh arti. Bram sedikit tersentak. "Kamu nonton?" Bella tertawa kecil. "Nggak perlu nonton. Lihat ekspresi Ara aja aku udah tahu kamu kena perangkapnya." Bram menghela napas, mencoba tetap santai. Namun sebelum ia melangkah pergi, Bella menambahkan sesuatu yang membuat langkahnya sedikit terhenti. "Bram, kamu sadar nggak sih? Semua cewek di sini mulai tertarik sama kamu." Bram menoleh, sedikit bingung. "Maksudnya?" Bella tersenyum lebih lebar. "Liat aja nanti." Bram tidak ingin terlalu memikirkan kata-kata Bella, tapi dalam hatinya, ia tahu bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi di sekitarnya. Ia menghela napas panjang, lalu melanjutkan langkahnya dengan semangat baru. Siang itu, setelah mengantarkan beberapa paket, Bram memilih untuk beristirahat di sebuah angkringan pinggir jalan. Ia duduk di bangku kayu panjang, memesan segelas es teh dan beberapa gorengan, mencoba menikmati waktu istirahatnya sebelum kembali bekerja. Namun, ketika ia baru saja mulai makan, telinganya menangkap percakapan di meja sebelah. "Eh, lo nonton live-nya Ara semalam nggak?" Bram langsung terdiam. "Nonton dong! Gila, rame banget! Gue nggak nyangka Ara bakal ngajak cowok di live-nyal" "Iya, kan?! Dan itu cowok siapa, sih? Baru pertama kali nongol, tapi langsung akrab banget sama Aral" Bram menelan ludah. la tidak perlu bertanya siapa yang mereka bicarakan. Mereka sedang membahas dirinya. Pria yang duduk di sebelahnya, mengenakan jaket ojek online, tertawa kecil sambil menyeruput kopinya. "Gue heran, biasanya Ara live sendiri atau sama cewek-cewek lain. Tapi semalam beda banget! Itu cowoknya keliatan agak kaku sih, tapi makin lama makin enjoy. Fix, itu bukan orang biasa." Bram mencoba tetap tenang, tetapi tangannya secara refleks meraih gelas es tehnya dan menyeruputnya cepat, berharap tidak ada yang menyadari kehadirannya. Namun, pembicaraan itu semakin intens. "Gue sih curiga, pasti cowok itu ada hubungan spesial sama Ara." "Ya kali, Ara nggak mungkin tiba-tiba ngajak cowok random buat live, kan?" "Nah, itu dia. Feeling gue, mereka udah deket dari lama, cuma baru di-publish ke publik." Bram langsung merasa tidak nyaman. la harus pergi sebelum mereka sadar bahwa 'cowok' yang sedang mereka bahas duduk di sebelah mereka. Dengan gerakan cepat, ia menghabiskan gorengannya, meneguk es tehnya, lalu segera merogoh dompet untuk membayar. Namun, tepat ketika ia hendak bangkit, salah satu dari mereka menoleh ke arahnya dan menyipitkan mata. "Eh, bentar... perasaan gue nggak enak. Lo kenal muka cowok semalam?" Bram langsung membeku. Pria di sebelahnya menoleh, menatap wajah Bram lebih teliti. "Anjir...." "LO YANG DI LIVE ARA SEMALAM, KAN?!" Bram langsung berdiri cepat. "Eh... Saya duluan, ya!" Tanpa menunggu respons lebih lanjut, Bram bergegas pergi dari angkringan, sebelum mereka sempat membanjirinya dengan pertanyaan. Dari belakang, ia masih bisa mendengar suara mereka tertawa. "Fix, itu dia! Gila, kita ketemu langsung!" "WOY, JAWAB DULU WOY!" Bram menghela napas panjang, berjalan lebih cepat menuju motornya. Ia tidak menyangka bahwa live semalam akan membawa dampak sebesar ini. Dan kini, ia mulai menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Bram berjalan cepat meninggalkan angkringan, merasakan tatapan pria-pria di sana yang masih menatapnya penuh rasa penasaran. la segera menyalakan motornya dan melaju menjauh sebelum semakin banyak pertanyaan yang harus ia jawab. Di tengah perjalanan kembali ke tempat kerja, Bram mencoba mencerna situasi ini. Ternyata, live streaming Ara semalam benar-benar berdampak besar. Bukan hanya di lingkungan kos, tetapi orang-orang di luar pun mulai mengenalnya. "Aku nggak nyangka bakal kayak gini," gumamnya pelan sambil menghela napas. Namun, di balik itu semua, la tidak bisa menahan senyum kecil. Hidupnya di kota semakin menarik, dan la mulai merasakan sesuatu yang berbeda dari kehidupannya yang dulu di desa. Sekarang, ia bukan lagi pemuda yang diremehkan. la mulai dikenal. Dan siapa tahu, ini baru permulaan dari sesuatu yang lebih besar. Setelah selesai bekerja sore itu, Bram kembali ke kos dengan perasaan yang masih bercampur antara kaget dan penasaran. Begitu masuk ke dalam lorong kos, suasana tampak lebih tenang. Namun, ketika ia hendak menuju kamarnya, sebuah suara menyapanya dari belakang. "Bram!" la menoleh dan melihat Ara berdiri di depan kamarnya, mengenakan celana pendek dan hoodie kebesaran, Bram sedikit terkejut. "Eh, Ara? Ada apa?" Ara menyilangkan tangan di dadanya, lalu berjalan mendekat. "Tadi ada yang nyari kamu di depan kos," katanya santai. Bram mengernyit. "Siapa?" Ara menyeringai. "Kayaknya penggemar kamu, deh." Bram langsung terdiam. "Mereka nanya soal live semalam. Katanya kamu makin terkenal sekarang." Bram menghela napas. "Serius?" Ara tertawa kecil, lalu menepuk pundaknya. "Santai aja. Nikmati aja momentumnya. Kamu udah mulai dikenal, Bram. Siapa tahu ini jalan baru buat kamu di kota ini." Bram tersenyum kecil, masih tidak percaya bahwa semua ini terjadi begitu cepat. Hanya dalam waktu singkat, hidupnya berubah drastis. Dan kini, ia semakin penasaran... apa yang akan terjadi selanjutnya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN