Bram masih berdiri di depan pintu kamarnya, mencerna ucapan Ara. Ia belum terbiasa dengan perhatian sebesar ini.
"Serius ada yang nyari aku?" tanyanya lagi, memastikan.
Ara mengangguk santai. "Iya, mereka kayaknya anak-anak yang suka nonton live streaming. Mereka penasaran sama kamu,"
Bram menghela napas, lalu tertawa kecil. "Aku nggak nyangka bakal sampai segitunya."
Ara menatapnya dengan senyum penuh arti. "Kamu harus siap-siap, Bram. Hidup kamu nggak bakal sama lagi."
Bram hanya tersenyum kecil. "Mungkin aku masih harus belajar buat terbiasa dengan ini."
Ara tertawa kecil, lalu menepuk bahu Bram sebelum berbalik menuju kamarnya. "Santai aja. Aku bakal bantu kamu."
Bram menatap punggung Ara yang perlahan menghilang di balik pintu kamarnya.
Ia tidak tahu apa yang dimaksud Ara dengan "bantuan".
Namun satu hal yang jelas, hidupnya kini sudah memasuki babak baru.
Malamnya, Bram berbaring di kasurnya, menatap langit-langit kamar.
Hari ini terasa panjang.
Dari pembicaraan di angkringan, orang-orang yang mulai mengenalnya, hingga Ara yang berkata bahwa hidupnya akan berubah.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari Ara.
[Masih bangun?]
Bram mengetik balasan.
[Iya, kenapa?]
Beberapa detik kemudian, pesan lain masuk.
[Besok malam, kita live lagi. Kali ini, aku mau bikin sesuatu yang lebih besar.]
Bram mengernyit.
[Maksudnya gimana?]
Ara tidak langsung membalas. Namun, setelah beberapa saat, sebuah pesan masuk yang membuat Bram terdiam.
[Percaya aja sama aku. Kamu nggak akan nyesel.]
Bram menatap layar ponselnya.
Live yang lebih besar? Apa yang Ara rencanakan?
Namun, di balik rasa penasarannya, ada sesuatu dalam dirinya yang mulai berubah.
Dulu, ia adalah pemuda desa yang dihindari.
Namun di kota ini?
la mulai dikenal, dan kini semakin terlibat dalam dunia yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Bram menutup matanya dan tersenyum kecil.
Besok malam, sesuatu akan terjadi.
Dan ia siap menghadapinya. Bram mulai menghitung hari. Besok adalah malam Minggu.
Dan ia tahu, malam Minggu adalah puncaknya penonton live streaming.
Semua orang akan online.
Mereka akan mencari hiburan, mencari sesuatu yang menarik untuk ditonton.
Dan sekarang, Bram adalah bagian dari itu.
Ia mengernyitkan dahi, merasakan sedikit tekanan.
"Besok malam pasti bakal ramai..." gumamnya pelan.
Live pertama bersama Ara sudah cukup membuatnya dikenali oleh beberapa orang.
Tapi besok malam? Jika Ara benar-benar ingin membuat sesuatu yang lebih besar, maka ia harus siap.
Bram menarik napas dalam-dalam.
Di desa, tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa ia akan berada di situasi seperti ini.
Namun di kota?
Semuanya bisa terjadi.
Ia menghela napas, lalu bangkit dari kasur, membuka ponselnya, dan mulai membaca beberapa informasi tentang cara menghadapi live streaming dengan banyak penonton.
Ia tidak mau terlihat kaku lagi seperti sebelumnya.
Jika besok adalah malam besar, maka ia akan bersiap.
Dan apapun yang terjadi, ia tidak akan mundur.
Hari berikutnya...
Bram baru saja pulang kerja. Tubuhnya sedikit lelah, tapi pikirannya sudah terfokus pada satu hal, malam ini ia akan kembali live streaming bersama Ara.
Seharian ini, ia sudah mencoba menyiapkan mentalnya. Ia tidak mau terlihat terlalu kaku lagi seperti sebelumnya.
Malam Minggu.
Ia tahu malam ini penontonnya akan jauh lebih banyak.
Bram membuka pintu kamarnya, meletakkan tasnya di meja, lalu duduk di tepi kasur sambil menghela napas panjang.
"Aku harus siap," gumamnya dalam hati.
Setelah mandi dan mengenakan kaus bersih, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan dari Ara.
[Udah siap?]
[Baru aja selesai mandi. Ini harus gimana?]
Tidak butuh waktu lama, balasan Ara langsung masuk.
[Ke kamarku sekarang. Aku bakal kasih tahu rencana malam ini.]
Bram menatap layar ponselnya beberapa detik, lalu menghela napas panjang.
Apa yang Ara rencanakan kali ini?
Tanpa berpikir lama, Bram berdiri, merapikan sedikit pakaiannya, lalu melangkah keluar dari kamarnya.
Lorong kos sedikit sepi, hanya beberapa penghuni yang duduk santai di teras.
Begitu sampai di depan kamar Ara, Bram mengetuk pintu.
Tidak butuh waktu lama, pintu terbuka.
Ara berdiri di sana, mengenakan kaus crop top putih dan celana pendek santai.
Tatapannya penuh percaya diri.
"Masuk," katanya santai.
Bram melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya.
Di dalam kamar, seperti sebelumnya, peralatan live streaming Ara sudah siap. Ring light menyala lembut, latar belakang dihiasi lampu LED biru keunguan.
Ara menatapnya dengan senyum penuh arti.
"Malam ini bakal lebih gila dari sebelumnya, Bram," katanya.
Bram menelan ludah.
"Gila gimana?"
Ara tertawa kecil, lalu duduk di kursinya, menatapnya dengan mata yang penuh keyakinan.
"Kamu bakal tahu sebentar lagi."
Bram merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Malam ini, sesuatu akan terjadi.
Dan kini, ia sudah berada di dalamnya.
Tepat pukul 10 malam, Ara memulai live. streaming.
Bram duduk di sampingnya, masih berusaha menenangkan pikirannya. Ini adalah malam yang besar, malam di mana lebih banyak orang akan menonton.
Sementara itu, Ara tampak tenang. Ia sudah sangat terbiasa dengan dunia ini, tahu bagaimana memainkan suasana.
Ponsel yang terpasang di tripod sudah menyala, kamera merekam wajah Ara yang langsung tersenyum penuh percaya diri.
[LIVE STARTED]
Dalam hitungan detik, komentar mulai berdatangan.
: WOOY ARA LIVE LAGI!
: MALAM MINGGU KITA TERSELAMATKAN!
EH, ITU BRAM LAGI?!
:AAAAA BRAM BALIK LAGI! FIX, PASANGAN BARU NIH!
Bram menelan ludah.
la sudah memperkirakan ini, tapi tetap saja, tekanan ini nyata.
Ara tertawa kecil, melihat antusiasme yang begitu besar.
"Halo semua! Malam Minggu, kita live lagi seperti janji aku kemarin," katanya ceria, lalu menoleh ke Bram. "Dan pastinya, kita kedatangan tamu spesial lagi. Kenalin dong, Bram."
Bram terdiam sejenak, lalu akhirnya tersenyum dan melambai ke kamera.
"Hai... balik lagi," ucapnya, mencoba santai.
Kolom komentar langsung membludak.
ASTAGA DIA LEBIH SAΝΤΑΙ SEKARANG!
: BRAM UDAH MULAI TERBIASA NIH!
: GIMANA NIH? SEMAKIN DEKET KAN?
Ara tertawa dan menyenggol bahu Bram.
"Kamu udah mulai terbiasa ya? Gak secanggung kemarin."
Bram tertawa kecil. "Ya... lumayan."
Ara mengangkat alis. "Oke, kalau gitu malam ini kita bakal kasih sesuatu yang lebih seru buat kalian!"
Komentar semakin ramai.
: ASTAGA! LEBIH SERU GIMANA?!
: JANGAN NGASIH HARAPAN PALSU, ARA!
: BRAM, SIAP-SIAP KENA JEBAKAN ARA LAGI!
Bram mengernyit.
"Sebentar, lebih seru gimana maksudnya?" tanyanya pelan ke Ara.
Ara menoleh padanya dengan senyum misterius.
Lalu, dengan santai, ia menyandarkan kepalanya ke bahu Bram.
"Malam ini kita bakal lebih dekat."
Bram langsung terdiam.
Dan kolom komentar langsung meledak.
: ASTAGAAA ARA BENERAN NGEROBAK MALAM INI!
: BRAM, KALO NGGAK GERAK, KAMI YANG GERAM!
: GUE GAK SIAP NIH! FIX MALAM INI PANAS!
Bram bisa merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia tidak tahu apa yang Ara rencanakan, tapi satu hal yang pasti, malam ini akan berbeda dari sebelumnya.