Bram masih berusaha tetap tenang, meskipun kepalanya penuh dengan pertanyaan tentang apa yang akan dilakukan Ara selanjutnya.
Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, sebuah komentar muncul di layar.
: WOI! INI BENERAN COWOK YANG KEMARIN GUA TEMUIN DI ANGKRINGAN!
ASTAGA! SERIUS?!
: KEMAREN DIA SEMPET KABUR, KAN?!
: JADI EMANG DIA! BRAΜ, ΚΕΝΑΡΑ GAK NGAKU WAKTU KITA TANYA?!
Bram langsung menegang.
Mereka masih ingat dirinya.
Ara tertawa kecil melihat komentar itu, lalu menoleh ke Bram dengan tatapan jahil.
"Jadi kamu udah mulai terkenal ya? Bahkan di angkringan pun kamu dikenali," katanya sambil menyenggol bahunya.
Bram tertawa kecil, tapi dalam hati ia merasa sedikit was-was.
"Aku nggak nyangka mereka masih inget."
Ara menggeleng dengan senyum menggoda.
"Ya udah. Kalau gitu, kita bikin semuanya lebih jelas."
Bram mengernyit. "Maksudnya?"
Dan sebelum ia sempat memproses semuanya, Ara tiba-tiba mendekatkan wajahnya.
Bram mendadak terdiam.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Kolom komentar langsung meledak.
: EH EH EH?! INI SERIUS?!
: WOI WOI WOI, KAMERA GUE BURAM!
: ARA, KAMU MAU NGAPAIN?!
Dan tanpa ragu, Ara mencium bibir Bram.
Lembut. Penuh perasaan.
Seolah ingin menunjukkan sesuatu kepada dunia.
Bahwa kini, Bram adalah miliknya.
Kolom komentar benar-benar pecah.
: GUE TERIAK DI KAMAR WOI!!!
FIX, MEREKA EMANG PUNYA HUBUNGAN!
GILA, ARA GAK MAIN-MAIN MALAM INI!
Bram tidak tahu harus berbuat apa.
Namun satu hal yang pasti, malam ini Ara telah mengklaimnya.
Dan kini, tidak ada jalan kembali.
Ketika Bram dan Ara masih menikmati ciuman mereka, suasana kamar seolah hanya milik mereka berdua.
Kolom komentar terus bergerak liar, seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi di depan mata mereka.
ASTAGA! ARA FIX PUNYA BRAM SEKARANG!
: GUE MERINDING LIHATNYA, INI SERIUS?!
: NO WAY! ARA SEJAMIN INI!?!
Namun, di tengah momen yang semakin intens, tiba-tiba...
Tok! Tok! Tok!
Pintu kamar Ara diketuk.
Bram dan Ara langsung tersentak, kedua mata mereka bertemu dalam kepanikan sejenak.
Komentar pun ikut menanggapi.
: EH, SIAPA ITU?!
: KETUKAN PINTU? SERIUS?!
:WOI, GAK BOLEH DIGANGGU NIHI
Bram langsung refleks mundur sedikit, sementara Ara masih berusaha mengatur napasnya
Mereka saling tatap penuh pertanyaan.
Siapa yang datang di saat seperti ini?!
Ara segera mendekat ke pintu, menempelkan telinganya.
Bram ikut waspada, bersiap jika itu adalah seseorang yang mengenali mereka.
Namun, setelah beberapa detik...
Sebuah suara terdengar dari balik pintu.
"Permisi, kak. Pesanan makanannya udah sampai."
Ara langsung membuang napas panjang dan menoleh ke Bram, lalu tertawa kecil.
"Astaga, aku lupa pesen makanan!" katanya sambil menutup wajahnya dengan tangan.
Bram ikut tertawa, merasa lega.
Dari sekian banyak kemungkinan, ternyata yang datang hanyalah driver ojol.
Kolom komentar pun ikut tertawa.
: ASTAGA! NGAPAIN BIKIN TEGAANGGG!
: KIRAIN SIAPA! TIBA-TIBA ADA DRAMA HOROR HAHAHA!
: PESEN MAΚΑΝΑΝ, ΤΑΡI DAPET TAMBAHAN MOMEN BERHARGA
Ara segera mengambil dompet dan membuka pintu.
Seorang driver ojol berdiri di depan pintu dengan kantong plastik berisi makanan.
"Makasih ya, Kak," ujar driver itu sambil menyerahkan pesanan.
Ara tersenyum, mengambil makanan dan menyerahkan uang tip kecil.
"Iya, makasih juga, Mas," jawab Ara dengan santai.
Setelah menutup pintu kembali, ia menoleh ke arah Bram dengan senyum penuh arti.
"Ya ampun, kita hampir aja panik nggak jelas," katanya sambil terkikik.
Bram hanya menggeleng, masih berusaha memahami situasi yang tadi terjadi.
Sementara itu, komentar di live masih terus berisik.
LANJUT ARA! TADI KEPOTONG WOI!
BENER-BENER MALAM YANG BERKESAN HAHAHA!
NEXT LEVEL NIH, ARA & BRAM!
Bram menatap Ara, yang kini duduk kembali di kursinya dengan ekspresi jahil.
Setelah kejadian yang sempat membuat mereka tegang, Ara menaruh kantong makanan di atas meja dan tertawa kecil.
"Oke, karena udah pesen makanan, kita sekalian aja bikin konten mukbang," katanya santai.
Bram menatapnya dengan alis terangkat. "Mukbang?"
Ara mengangguk. "Iya. Daripada live ini berhenti di tengah jalan, kita kasih sesuatu yang lebih santai buat penonton."
Bram tersenyum kecil, ini pertama kalinya ia ikut live mukbang, tapi setidaknya ini lebih mudah daripada momen sebelumnya.
Kolom komentar langsung meledak.
: WAH, KONSEP BERUBAH TIBA-TIBA!
: ARA FIX PANDAI NGENDALIIN MOMEN!
: DARI ROMANTIS KE MAKAN-MAKAN, KEREN SIH INI!
Ara mengambil ponselnya dan mengubah posisi kamera agar fokus ke meja.
"Oke, guys! Sekarang kita bakal mukbang sambil ngobrol. Kalian boleh tanya apa aja!" katanya sambil membuka bungkusan makanan.
Bram ikut membantu, membuka beberapa kotak nasi dan lauk yang dipesan.
Di meja, ada ayam geprek, nasi uduk, serta beberapa lauk tambahan seperti tahu dan tempe.
Kolom komentar kembali ramai.
ASTAGA! GUE IKUT LAPAR LIATNYA!
: BRAM MAKAN YANG BANYAK! BIAR KUAT HAHНАНА!
:ARA & BRAM, PASANGAN MUKBANG BARU NIH!
Bram tertawa kecil, lalu mengambil sendok.
"Baiklah, aku makan dulu," katanya santai.
Ara ikut menyuap nasi uduk dan ayam gepreknya. Begitu menggigit, ia langsung bereaksi.
"Astaga, ini pedes banget!" katanya sambil tertawa kecil.
Bram tertawa melihat ekspresi Ara yang langsung meniup-niup mulutnya. "Tadi kamu pesennya level berapa?"
Ara menggeleng. "Aku lupa bilang ke abang ojolnya, jadi mungkin dia kasih level paling pedas!"
Kolom komentar langsung terhibur dengan reaksi Ara.
: ARA KENA MUKBANG PEDAS! WKWK!
BRAM HARUS JADI PAHLAWAN, SUAPIN ARA AIR!
:ARA NGGAK KUAT, TAPI MAKSA LANJUT! HAHAHA!
Melihat Ara mulai kepedasan, Bram spontan mengambil segelas es teh dan menyodorkannya ke Ara.
"Minum dulu," katanya.
Ara tersenyum, lalu mengambil gelas itu dan meminumnya cepat.
"Aduh, untung ada kamu, Bram," katanya sambil menghela napas lega.
Kolom komentar langsung meledak lagi.
:WUIHHH! ROMANTIS DENGAN CARA YANG UNIK!
: MAU JADI BRAM AJA DEH, DAPET ARA GRATIS!
:BRAM EMANG THE REAL GENTLEMAN!
Bram tertawa kecil, mulai merasa lebih santai dengan live kali ini.
Sambil menikmati makanan, mereka terus membaca komentar dan menjawab pertanyaan dari penonton.
Live yang awalnya penuh kejutan kini berubah menjadi lebih menyenangkan.
Bram mulai terbiasa dengan sudut pandang ini sekarang.
Setelah makan, Ara menyandarkan tubuhnya ke kursi, menghela napas panjang.
"Aduh, panas banget," katanya sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah.
Bram mengusap mulutnya dengan tisu, masih menikmati sisa es tehnya.
"Ya, makanan tadi pedas banget. Kamu yang pesen, tapi kamu sendiri yang kena," katanya sambil tertawa kecil.
Ara menyeringai. "Ya siapa sangka, kan? Tapi sekarang aku gerah banget."
Bram tidak terlalu memikirkan perkataan Ara, sampai...
Ara mulai membuka jaketnya.
Bram langsung terdiam.
Di balik jaket itu, Ara hanya mengenakan tank top tipis yang hampir transparan.
Seluruh keindahan tubuhnya kini terlihat jelas di bawah cahaya ring light.
Bram menelan ludah kasar.
Seketika, suasana yang tadi terasa santai berubah menjadi sesuatu yang lebih... berbahaya.
Kolom komentar langsung meledak.
ASTAGA! ARA BENERAN GASPOL MALAM INI!
: BRAM, LO MASIH HIDUP?!
: FIX, INI BUKAN SEKEDAR LIVE BIASA!
Bram berusaha mengalihkan pandangannya, tetapi sulit.
Ara menyeka sedikit keringat di lehernya, lalu menatap Bram dengan ekspresi menggoda.
"Kamu kepanasan juga, Bram?" tanyanya pelan, suaranya terdengar sedikit manja.
Bram berusaha tetap tenang. "Eh... ya, sedikit sih."
Ara mendekat, tangannya bertumpu di meja, wajahnya sedikit condong ke arah Bram.
"Mungkin kamu butuh sesuatu buat mendinginkan suasana?" katanya dengan senyum jahil.
Kolom komentar semakin meledak.
AAAAA ARA, JANGAN GINI KE BRAM WOlll!
: BRAM, TAHAN IMANMU!
MALAM INI SEMAKIN PANAS!
Bram menelan ludah lagi.
la tahu Ara sedang bermain-main dengannya.
Tetapi, dengan pakaian yang dikenakannya sekarang, dengan wajah sedikit berkeringat setelah makanan pedas tadi, dengan tatapan menggoda yang ia berikan...
Ara benar-benar tahu cara memainkan suasana.