Basah

1316 Kata
Mereka duduk berdampingan di bangku taman, menikmati suasana malam yang tenang, meskipun langit di atas mereka tertutup awan mendung. Udara mulai terasa lebih lembap, pertanda hujan mungkin akan turun kapan saja. Sesekali, kilat menyambar di kejauhan, menyinari langit yang gelap dengan cahaya putih terang. Bram dan Ara sama-sama terdiam, menikmati suasana tanpa perlu berkata-kata. Suara guntur bergemuruh beberapa detik setelah kilat menyambar, membuat suasana semakin dramatis. Ara mengusap lengannya pelan. "Kayaknya hujan bakal turun sebentar lagi." Bram mengangguk, lalu menatap Ara yang masih menggenggam bunga kecil yang tadi ia berikan. "Kita pulang sekarang, atau masih mau di sini sebentar?" Ara menoleh ke arahnya dan tersenyum. "Sebentar lagi aja. Momen kayak gini langka, loh." Bram tertawa kecil. "Maksudmu, menikmati malam di bawah langit mendung sambil nunggu hujan?" Ara mengangguk. "Iya. Soalnya meskipun nggak ada bintang, aku tetap suka suasananya. Rasanya kayak... kita ada di dunia kita sendiri." Bram menatapnya dalam-dalam, lalu tersenyum. "Iya, aku juga ngerasa gitu." Mereka kembali terdiam, menikmati hembusan angin yang semakin dingin. Kilat kembali menyambar, kali ini lebih dekat, diikuti suara guntur yang lebih keras. Ara menggenggam lengan Bram. "Duh, aku suka suasana kayak gini, tapi kalau guntur makin gede, aku agak serem juga." Bram tertawa kecil. "Kalau hujan turun, kita langsung lari ke parkiran aja, ya." Ara mengangguk. "Tapi kalau hujan deras banget gimana?" Bram menatap sekeliling. "Ya... kita cari tempat berteduh dulu. Atau kita nikmati aja kehujanan berdua?" Ara terkekeh. "Ih, romantis sih, tapi besok bisa sakit." Bram tersenyum. "Ya udah, kita lihat aja nanti gimana." Malam itu, mereka menikmati momen kecil yang mungkin bagi orang lain biasa saja, tapi bagi mereka, setiap detiknya terasa istimewa. Dan mungkin... momen ini akan menjadi salah satu kenangan terbaik yang mereka miliki. Angin mulai berhembus lebih dingin, membawa aroma tanah yang khas, pertanda hujan akan segera turun. Bram dan Ara masih duduk di bangku taman, menikmati suasana tanpa tergesa-gesa. Dan kemudian, tetesan air mulai turun dari langit. Gerimis pertama membasahi dedaunan, menciptakan suara lembut yang menenangkan. Ara menengadahkan tangannya, merasakan butiran air yang semakin rapat. "Gerimis...." bisiknya pelan, senyum kecil terukir di wajahnya. Bram ikut merasakan tetesan yang jatuh di wajahnya. "Kayaknya kita harus siap-siap lari ke parkiran." Ara menatapnya, tapi tidak langsung bergerak. "Tunggu sebentar," katanya. "Aku masih mau menikmati ini dulu." Bram tersenyum, tidak keberatan. Mereka tetap duduk di sana, membiarkan gerimis turun perlahan, membasahi kulit mereka dengan lembut. Kilat kembali menyambar di kejauhan, diikuti suara guntur yang menggema beberapa detik setelahnya. Ara menatap langit yang kelabu, lalu menoleh ke Bram. "Lucu ya, kita sekarang di sini, Padahal dulu, aku nggak pernah kebayang bisa ada di momen kayak gini sama kamu." Bram tertawa kecil. "Iya, aku juga. Rasanya semua ini terjadi begitu cepat." Ara tersenyum lembut. "Tapi aku nggak nyesel." Bram menatapnya, lalu tanpa berkata-kata, ia meraih tangan Ara dan menggenggamnya erat. "Aku juga." Gerimis mulai berubah menjadi hujan rintik yang lebih deras. Ara tertawa kecil. "Ha ha ha... Oke, sekarang kita harus lari!" Bram tertawa, lalu keduanya berdiri dan berlari menuju parkiran. Di bawah rintik hujan yang semakin deras, mereka menikmati setiap detiknya, momen kecil yang akan selalu mereka kenang. Bram dan Ara berlari menuju parkiran, mencoba menghindari hujan yang mulai turun semakin deras. Namun, begitu mereka sampai di dekat motor, hujan tiba-tiba mengguyur dengan sangat deras, tanpa ampun. Mereka berhenti, terengah-engah, dan melihat ke langit yang kini benar-benar mencurahkan air tanpa henti. "Ya ampun, langsung deras begini!" seru Ara sambil mengusap wajahnya yang sudah basah kuyup. Bram tertawa kecil, menggeleng pasrah. "Udah terlanjur, nggak ada gunanya lari lagi." Mereka saling menatap. Hujan deras membuat pakaian mereka basah total, air mengalir di wajah dan rambut mereka. Namun, anehnya, Ara tidak terlihat kesal. Sebaliknya, ia justru tersenyum. Perlahan, ia melingkarkan kedua tangannya di belakang leher Bram, menariknya lebih dekat. Bram terkejut sesaat, tapi tidak menolak. Hujan terus mengguyur mereka tanpa henti, menciptakan suara yang mengiringi momen ini. Mata mereka saling bertemu, dalam diam, tanpa perlu kata-kata. Dan tanpa ragu, bibir mereka bertemu dalam ciuman yang lembut dan penuh perasaan. Di bawah derasnya hujan, di tengah parkiran yang sepi, mereka larut dalam momen yang terasa begitu sempurna. Dingin air hujan tidak lagi terasa. Yang ada hanyalah kehangatan dari satu sama lain. Ciuman itu berlangsung lama, seolah hujan telah menciptakan dunia mereka sendiri. Bram menarik Ara lebih erat, sementara Ara semakin tenggelam dalam perasaan yang selama ini telah tumbuh begitu dalam. Saat akhirnya mereka melepaskan ciuman itu, Ara tertawa kecil, napasnya sedikit terengah. "Gila... ini kayak adegan di film." Bram tertawa, mengusap rambut basah Ara yang menempel di wajahnya. "Tapi ini nyata, Ara." Ara tersenyum, menatap Bram dengan tatapan yang penuh kasih. "Iya... dan aku nggak akan pernah lupa momen ini." Hujan masih deras, tapi mereka tidak peduli. Karena bagi mereka, ini adalah salah satu malam paling indah yang pernah mereka alami. Ara hendak berjalan menuju motornya, tapi langkahnya terhenti ketika Bram tiba-tiba menarik tangannya lagi. Ia menoleh, menatap Bram yang masih berdiri di bawah hujan, dengan air yang terus mengalir di wajahnya. Mata Bram penuh dengan sesuatu yang sulit dijelaskan, sesuatu yang lebih dari sekadar ketertarikan atau kebahagiaan. "Ara..." Bram berkata pelan, suaranya nyaris tenggelam dalam suara derasnya hujan. Ara mengangkat alis, menunggu kelanjutan kata-katanya. Bram menghela napas dalam-dalam, lalu menatapnya dengan penuh ketulusan. "Ini pertama kalinya aku merasa hidup." Ara terdiam. Kata-kata itu membuat hatinya bergetar. Bram, yang dulu diremehkan, ditinggalkan, bahkan dianggap tidak berharga di masa lalunya... kini berdiri di sini, bersamanya, di bawah hujan deras, merasakan sesuatu yang baru dalam hidupnya. Dan Ara bisa melihat betapa tulusnya perasaan itu. Tanpa memberi waktu bagi Ara untuk merespons, Bram menariknya lebih dekat, lebih erat... dan menciumnya lagi. Kali ini, lebih dalam. Lebih dari sekadar ciuman yang spontan... ini adalah ciuman penuh makna. Ara tidak menolak. Sebaliknya, ia membalasnya dengan penuh perasaan, seakan ingin mengatakan bahwa ia juga merasakan hal yang sama. Di bawah hujan yang semakin deras, mereka larut dalam momen yang begitu nyata. Tidak ada lagi kamera, tidak ada lagi penonton, tidak ada lagi dunia luar. Hanya mereka berdua. Hanya Bram dan Ara. Di bawah hujan, mereka akhirnya. menyadari... Bahwa perjalanan mereka bukan sekadar tentang konten atau ketenaran. Tapi ini adalah tentang mereka. Tentang dua orang yang saling menemukan. Dan tidak ingin melepaskan satu sama lain. Hujan masih mengguyur deras, membasahi tubuh mereka sepenuhnya, tetapi tidak ada yang berniat bergerak dari tempatnya. Ara masih berada dalam dekapan Bram, merasakan kehangatan di tengah dinginnya hujan. Bram mengusap wajah Ara yang basah, menggeser beberapa helai rambut yang menempel di pipinya. Mata mereka bertemu lagi, dan untuk pertama kalinya, tidak ada keraguan di antara mereka. "Kita pulang?" tanya Bram pelan, suaranya hampir tertelan oleh suara rintik hujan yang menghantam aspal. Ara tersenyum, lalu mengangguk. "Iya, sebelum kita sakit beneran." Bram tertawa kecil, lalu berjalan ke arah motor. Ara mengikuti, masih menggenggam tangannya erat, seakan tidak ingin melepaskannya. Mereka berdua menaiki motor, dan tanpa perlu berbicara lagi, Bram langsung menyalakan mesin dan melajukan Aerox pink itu ke arah kosan. Sepanjang perjalanan, hujan terus menemani mereka. Ara memeluk Bram dari belakang, menempelkan kepalanya ke punggung pria itu. la tersenyum kecil, membiarkan perasaannya mengalir. Bram kini adalah miliknya. Sesampainya di kosan, mereka langsung berlari menuju lorong, basah kuyup dari kepala hingga kaki. Beberapa penghuni kos yang masih terjaga menatap mereka dengan ekspresi terkejut sekaligus geli. "Ya ampun, kalian kehujanan banget!" Bella yang sedang duduk di depan kamarnya menatap mereka dengan tawa kecil. "Ngapain, sih? Romantis-romantisan di bawah hujan?" Ara terkekeh, menatap Bram dengan penuh arti. "Ya, kurang lebih begitu." Bram hanya tersenyum tanpa menjawab, langsung meraih kunci kamar dan membukanya. Sebelum masuk, Bella menambahkan, "Jangan lupa ganti baju sebelum masuk angin!" Mereka masuk ke dalam kamar, menutup pintu, dan keduanya langsung tertawa kecil. Ara menggulung rambutnya yang basah dan menghela napas panjang. "Gila, ini pertama kalinya aku kehujanan separah ini." Bram membuka lemari, mengeluarkan handuk, lalu menyerahkannya pada Ara. "Aku juga, tapi... ini nggak bakal aku lupain." Ara tersenyum lembut, lalu menerima handuk itu. "Aku juga, Bram."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN