Secara Resmi

1110 Kata
Setiap konten yang mereka buat selalu trending. Setiap kali mereka live, ribuan bahkan jutaan orang menonton. Kini, mereka tidak hanya dikenal sebagai pasangan streamer, tetapi juga sebagai ikon baru di dunia digital. Bram menyadari betapa cepat hidupnya berubah. Dulu, ia adalah pemuda desa yang diremehkan. Sekarang, ia adalah bagian dari dunia yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dan yang lebih mengejutkan... ia mulai menikmati semuanya. Namun, di balik semua kesuksesan ini... seseorang sedang mengawasi mereka. Dan seseorang itu adalah Ratmini. Dengan rencana yang semakin matang di dalam kepalanya. Sore itu, Ara mengatakan kepada Bram kalau dirinya lapar. Bram pun langsung bersiap dengan tujuan warung nasgor sederhana di dekat kosan mereka. Meskipun sudah terkenal, mereka tetap memilih hidup sederhana di kosan Bu Rini. Mereka sadar bahwa popularitas bisa hilang kapan saja, dan uang pun mudah pergi. Karena itu, Bram mulai menyimpan uang dalam jumlah besar sebagai investasi. Entah itu reksa dana, obligasi, atau bentuk investasi lain, yang jelas ini adalah jaminan hari tua mereka. Ara menatap Bram dengan bangga, lalu memeluknya erat. "Untung ada kamu, Bram. Kita jadi bisa saving buat hari tua." Bram hanya tersenyum, membalas pelukan Ara. "Kita harus pintar kelola uang, Ra. Nggak selamanya dunia hiburan ini bisa kita pegang." Sore itu, mereka keluar dari kamar, dan para penghuni kos langsung menyapa dengan santai. Tidak ada jarak antara mereka, meskipun kini Bram dan Ara sudah di atas awan. "Mau ke mana nih, pasangan viral?" celetuk Bella sambil menyeruput kopinya. "Cari makan, sekalian bikin konten," jawab Ara santai. Bella tersenyum. "Jangan lupa, tetap inget kita kalau nanti makin kaya!" Bram tertawa kecil. "Kita nggak berubah, kok. Masih sama kayak dulu." Mereka lalu menaiki motor Aerox pink Ara dan melaju menuju warung nasi goreng langganan mereka, tempat yang sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka sejak awal tinggal di kos ini. Namun, kali ini mereka datang bukan hanya untuk makan. Mereka juga membuat konten. Mengenalkan makanan enak dengan harga terjangkau kepada followers mereka. Dengan kamera terpasang di tripod kecil, Ara mulai berbicara dengan antusias di depan kamera. "Halo guys! Kali ini kita bakal ngajak kalian ke salah satu tempat makan favorit kita!" Bram ikut menimpali. "Nasi goreng di sini murah, tapi rasanya nggak murahan. Kita udah makan di sini sejak dulu, jadi nggak ada alasan buat nggak nge-review!" Kolom komentar langsung membludak. : WAH, INI KONTEN BERFAEDAH! MAKANAN ENAK, HARGA TERJANGKAU! GILA, MESKIPUN SUDAH TERKENAL, MEREKA MASIH JAJAN DI WARUNG BIASA! RISPEK! : BRAM DAN ARA, COUPLE YANG NGGAK LUPA ASAL-USUL! Mereka berdua menikmati nasi goreng sambil terus merekam suasana. Sesekali, pemilik warung ikut tertawa melihat antusiasme mereka. Meskipun kini hidup mereka telah berubah, Bram dan Ara tetap menjadi diri mereka yang dulu. Dan itulah yang membuat mereka berbeda dari pasangan viral lainnya. Setelah menyelesaikan konten di warung nasi goreng, Bram dan Ara masih duduk santai di bangku kayu panjang, menikmati suasana sore yang mulai beranjak malam. Kamera masih menyala, merekam momen sederhana mereka. Ara menatap piring kosong di depannya, lalu tersenyum puas. "Gila, ini tetep juara sih. Udah tiga bulan nggak kesini, tetep aja nggak ada yang bisa ngalahin nasi goreng ini." Bram mengangguk setuju, menyesap teh hangatnya. "Mungkin karena ini punya kenangan buat kita. Tempat ini udah jadi bagian dari perjalanan kita." Ara menatapnya sebentar, lalu tertawa kecil. "Iya juga sih. Dulu kita makan di sini pas masih ngirit, sekarang meskipun punya duit, tetep aja ke sini." Kolom komentar yang masih berjalan di layar ponsel mereka terus memuji sikap mereka yang tetap sederhana. : ASLI, KALIAN BERDUA NGGAK LUPA ASAL-USUL. RESPEK! : UDAH TERKENAL, TAPI MASIH JAJAN DI TEMPAT SAMA! INI NIH INFLUENCER YANG BENAR! : JADI PENGEN COBA NASGORNYA, KASIH LOKASINYA DONG! Ara melirik ke arah Bram. "Eh, kita kasih tau nggak lokasi warungnya? Nanti malah penuh sama orang." Bram tertawa kecil. "Nggak apa-apa, sih. Lumayan, kita bantu usaha orang lain juga kan biar makin rame." Akhirnya, mereka mencantumkan alamat warung di kolom komentar, berharap bisa membantu usaha kecil ini mendapatkan pelanggan lebih banyak. Setelah selesai, mereka menyudahi live streaming. Ara menutup ponselnya dan menatap Bram dengan ekspresi puas. "Seru, ya?" katanya sambil menyandarkan tubuhnya ke bahu Bram. Bram tersenyum kecil. "Iya. Kadang aku mikir, apa kita bakal bisa kayak gini terus?" Ara menghela napas panjang. "Kita nggak tahu, Bram. Tapi yang pasti, aku bersyukur punya kamu di sisiku." Bram menoleh, menatap Ara dengan lembut. "Aku juga." Beberapa orang yang ada di warung mulai memperhatikan mereka, mengenali wajah mereka yang kini sering muncul di dunia maya. Salah satu pelanggan memberanikan diri mendekat. "Mas Bram, Mbak Ara, boleh foto bareng?" Ara dan Bram saling pandang, lalu tersenyum. "Tentu, ayo!" Malam itu, mereka menghabiskan waktu berfoto bersama pelanggan warung, berbaur seperti biasa. Meskipun sudah terkenal, mereka tetap menjadi diri mereka sendiri. Setelah makan malam di warung nasi goreng, Bram dan Ara melanjutkan perjalanan menuju sebuah taman kota. Mereka memarkir motor di sudut taman, lalu berjalan perlahan menuju bangku kayu di bawah pohon besar. Langit malam terlihat mendung, tanpa bintang yang biasanya menghiasi cakrawala. Udara cukup sejuk, membuat suasana terasa lebih tenang. Mereka duduk berdampingan, menikmati keheningan malam, Sesekali, suara kendaraan terdengar dari kejauhan, tetapi suasana di taman tetap damai. Bram menatap langit gelap, lalu menghela napas panjang. "Ara, aku mau tanya sesuatu." Ara menoleh, matanya berbinar dalam redupnya cahaya taman. "Apa?" Bram mengusap tengkuknya, sedikit ragu. "Sebenarnya... sejak kapan kita benar-benar resmi pacaran?" Ara mengernyit, lalu tertawa kecil. "Kenapa tiba-tiba nanya gitu?" Bram menggeleng. "Aku cuma kepikiran. Kita selama ini nge-live bareng, bikin konten, terus orang-orang menganggap kita sepasang kekasih. Aku pun merasa kita memang seperti pasangan sungguhan." Ara menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis. "Jujur aja, secara resmi... kita belum pacaran, Bram." Bram terdiam sejenak. Ia menoleh ke kiri dan kanan, lalu melihat sebatang bunga kecil tumbuh di sisi bangku. Tanpa berpikir panjang, ia memetik bunga itu dan berlutut di hadapan Ara. Ara terkejut. "Bram...?" Bram tersenyum, menatapnya dengan tatapan penuh kesungguhan. "Ara, aku tahu kita sudah terlalu dekat untuk sekadar teman, dan aku juga tahu apa jawaban kamu setelah ini. Tapi, aku ingin ini lebih dari sekadar anggapan orang. Jadi, aku mau tanya secara resmi...." Bram menyodorkan bunga itu ke tangan Ara. "Maukah kamu jadi pacarku?" Ara terdiam sesaat, lalu menatap Bram dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. Setelah beberapa detik, senyum lebar terukir di wajahnya. Ia mengambil bunga dari tangan Bram, lalu menggenggamnya erat. "Iya, aku mau, Bram." Bram tersenyum lega, lalu bangkit dan kembali duduk di sampingnya. Ara menyandarkan kepalanya di bahu Bram, masih menggenggam bunga kecil itu. "Kamu beneran romantis juga, ya," bisiknya pelan. Bram tertawa kecil. "Aku cuma ingin ini lebih dari sekadar konten. Aku ingin kamu tahu, aku serius." Malam itu, meskipun langit tak berbintang, bagi mereka berdua, semuanya terasa begitu indah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN