Klarifikasi

1200 Kata
Bram menatap Ara yang masih menggenggam tangannya. Jantungnya berdetak lebih cepat. Semua mata tertujuh padanya. Kolom komentar terus bergerak cepat, menunggu jawaban. : ASTAGA! BRAM, JAWAB CEPET! : WOI, KAMI BUTUH KEPERJELASAN! : FIX! KALAU DIA JAWAB 'IYA', INI RESMI! Bram menarik napas dalam-dalam. Lalu, dengan suara tenang, ia menjawab... "Iya." Suasana langsung meledak. Para host tertawa kecil, bertepuk tangan. Kolom komentar benar-benar pecah. WOLI BRAM NGGAK RAGU!!! INI BUKAN GIMMICK, GUYS! ARA & BRAM FIX PASANGAN PALING VIRALI Ara tersenyum puas, lalu menatap kamera dengan ekspresi penuh kemenangan. Host mengangguk senang. "Oke! Ini jawaban yang kita tunggu-tunggu!" Bram mengusap tengkuknya, masih sedikit gugup Namun, melihat Ara begitu percaya diri, ia pun mulai lebih santai. Host melanjutkan, "Jadi, kapan kalian mulai dekat?" Ara tertawa kecil. "Hmm... kayaknya sejak dia masuk ke kos." Bram mengangguk. "Ya, awalnya aku cuma anak baru di kosan. Tapi lama-lama..." Ara menyandarkan kepalanya ke bahu Bram, membuat kolom komentar kembali meledak. : WOI WOI WOI! SEMAKIN PANAS NIH! : DUH, MAU JADI BRAM! :ARA KAYAKNYA BENERAN JATUH CINTA! Bram tertawa kecil, lalu menggeleng. Ia tidak pernah menyangka kehidupannya akan berubah seperti ini. Dulu, ia adalah pemuda desa yang tidak dipedulikan. Sekarang, dalam hitungan hari, ia menjadi bagian dari dunia yang sama sekali baru. Dan kini, ia bukan hanya Bram yang diremehkan.... Ia adalah Bram, pasangan dari Ara, salah satu streamer paling viral di dunia maya. Live podcast terus berlangsung, dan sesuatu yang luar biasa terjadi. Salah satu kru di belakang kamera terlihat memberi isyarat kepada host. Host yang duduk di depan mengangkat alis, lalu melihat layar monitor. Matanya melebar. "WOAH! Tunggu sebentar... Aku baru aja dapet info dari tim kita." Bram dan Ara menoleh, penasaran. Host tertawa kecil, lalu menatap kamera. "Guys, kita baru aja mencapai... lebih dari 1 JUTA VIEWS!" Bram langsung membeku. Ara terkejut sesaat, tapi kemudian tersenyum lebar, matanya berbinar penuh antusias. Sementara itu, kolom komentar meledak lebih dahsyat dari sebelumnya. : GILAAAA 1 JUTA VIEWERS?! : BRAM & ARA BUKAN SELEB LAGI, INI SUDAH VIRAL INTERNASIONAL! : LIVE PODCAST PALING GILA SEPANJANG SEJARAH! GUE IKUT SENENG, SERIUS! INI MOMEN SEJARAH! Host lainnya terkekeh dan bertepuk tangan. "Oke, aku nggak nyangka ini bakal sebesar ini! Kalian berdua benar-benar fenomenal!" Bram masih mencoba memproses semuanya. 1 juta views? Dalam waktu kurang dari satu jarn? Ini bukan hanya viral... ini adalah ledakan besar di dunia maya! Ara menatap Bram dan menggenggam tangannya lebih erat. "Aku udah bilang, kita bukan orang biasa lagi sekarang," bisiknya dengan senyum penuh kemenangan. Bram menelan ludah. Ia menyadari sesuatu. Hidupnya benar-benar berubah. la bukan lagi pemuda desa yang diremehkan. Ia adalah bagian dari fenomena yang disaksikan lebih dari satu juta orang secara langsung. Di desa tempat asal Bram, Siang itu, sekelompok anak muda sedang nongkrong di sebuah warung kopi sederhana di pinggir jalan. Mereka adalah teman-teman sekolah Bram dulu, orang-orang yang dulu sering meremehkannya. Doni, salah satu dari mereka, sedang bersantai sambil bermain ponsel. "Eh, trending nomor satu nih di YouTube," gumamnya santai. "Podcast terkenal... Siapa bintang tamunya ya?" Beberapa temannya yang lam menoleh penasaran. Namun, begitu Dont mengklik video itu, suasana langeng benbah. Di layar ponsel terlihat wajah Bram Bram, orang yang dulu mereka remehkan. Bram, yang dulu sering mereka jauha. Kini, dia duduk di acara podcast terkenal, bersama Ara, seorang streamer populer Mereka semua langsung terdiam. Tidak ada yang berbicara. Tatapan mereka beralih dari layar ponsel, saling pandang satu sama lain Rico, yang dulu paling sering menertawakan Bram, mengerutkan kening Aku nggak salah lihat, kan? Itu Bram?" Anton, yang duduk di sebelahnya, bersandar ke meja sambil menatap layar dengan mata membulat Seriusan, ini beneran dia?" Doni menelan ludah, lalu mengencangkan volume lebih besar. Suara host podcast terdengar jelas. "Bram, kamu sekarang dikenal banyak orang. Dulu hidupmu biasa saja, tapi sekarang kamu viral di dunia maya. Gimana rasanya?" Di layar, Bram tersenyum santai. "Jujur, aku nggak pernah nyangka bakal sampai di titik ini. Tapi aku selalu percaya kalau setiap orang punya jalan suksesnya masing-masing." Para mantan teman sekolahnya langsung terdiam lebih lama. Mereka teringat bagaimana dulu mereka sering meremehkan Bram. Menganggapnya tidak akan pernah sukses. Menganggapnya hanya akan menjadi anak desa biasa tanpa masa depan. Tapi kini? Orang yang mereka hina telah melampaui mereka semua. Rico tertawa kecil, tapi terdengar canggung. "Gila... Jadi ini Bram sekarang?" Anton mengangguk pelan, masih merasa sedikit malu dengan dirinya sendiri. "Iya... dan sekarang dia udah jauh lebih sukses dari kita semua." Doni menaruh ponselnya di atas meja, menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan ekspresi penuh penyesalan. "Dulu kita terlalu cepat menilai dia." Tidak ada yang menjawab. Mereka semua tahu... mereka telah salah. Siang itu, yang seharusnya menjadi waktu santai di warung kopi, kini berubah menjadi waktu yang penuh dengan rasa malu dan penyesalan. Sementara itu, di layar ponsel Doni yang masih menyala, jumlah penonton live podcast terus bertambah. Bram tidak lagi menjadi orang yang bisa diremehkan. la telah membuktikan bahwa dirinya lebih dari sekadar pemuda desa biasa. Di sudut lain desa, Ratmini duduk di teras rumahnya, menatap layar ponsel dengan mata melebar. Tangannya sedikit gemetar, dadanya terasa sesak. Di layar, wajah Bram terpampang jelas di podcast yang kini viral di seluruh negeri. Bram, yang dulu ia hina. Bram, yang dulu ia tolak mentah-mentah dengan kata-kata yang kejam. "Kamu tuh nggak punya masa depan, Bram." "Kamu bukan tipeku. Mana ada cewek yang mau sama cowok kayak kamu?" "Mending aku pacaran sama orang yang jelas kerjanya!" Kata-kata yang pernah ia ucapkan kini terngiang di kepalanya seperti mimpi buruk. Dan sekarang? Bram duduk di sebuah studio podcast terkenal, menggenggam tangan seorang wanita cantik, Ara, seorang streamer yang dikenal luas. Ratmini menggigit bibirnya. "Bangsat... aku dulu bodoh banget!" gumamnya, frustrasi. Di layar, Bram terlihat begitu percaya diri, begitu berbeda dari pria yang dulu ia hina. Kolom komentar di podcast pun terus membanjiri layar dengan pujian untuk Bram dan Ara. : GILA, BRAM BENER-BENER BERUNTUNG DAPET ARA! : COWOK KAMPUNG SEKARANG JADI IDOLA, WOI! : MANTAN YANG NOLAK DIA PASTI NYESEL SEKARANG! Ratmini meremas ponselnya dengan geram. Komentar terakhir menusuknya seperti pisau. Ya, dia memang menyesal! Dulu, ia merasa Bram tidak layak untuknya. Dulu, ia ingin bersama pria yang lebih "berkelas" di desa. Tapi sekarang? Bram sudah melampaui siapa pun yang ada di desa ini. Dan Ratmini sadar.... Kesempatan itu sudah hilang. Sementara Bram terus bersinar di dunia maya, ia hanya bisa duduk di sini. Menyesali keputusan bodohnya di masa lalu. Ratmini menggenggam ponselnya erat. Rasa kesal dan penyesalan membanjiri pikirannya. Namun, di balik itu semua, sesuatu yang lain mulai muncul dalam hatinya. Keinginan. Keinginan untuk mendapatkan Bram kembali. Bagaimanapun caranya. Matanya berkilat penuh perhitungan. Bram sekarang bukan lagi pemuda desa yang bisa diremehkan. la sudah viral, terkenal, bahkan mungkin kaya. Dan untuk seorang Ratmini yang berjiwa materialis, ini adalah kesempatan yang tidak boleh disia-siakan. "Aku nggak bisa tinggal diam," gumamnya pelan. "Aku harus bisa mendapatkan dia kembali. Bagaimanapun caranya." Ia menatap layar ponselnya lagi, memperhatikan wajah Bram yang kini semakin bersinar di dunia maya. Ara, gadis cantik yang duduk di samping Bram, membuat Ratmini semakin kesal. "Perempuan itu harus disingkirkan." "Bram seharusnya bersamaku." Ratmini mulai menyusun rencana dalam pikirannya. Apapun yang terjadi, ia tidak akan membiarkan kesempatan ini pergi begitu saja, la harus kembali ke dalam hidup Bram. Dan jika perlu... ia akan melakukan apa saja untuk mewujudkannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN