Lagi, lagi

1036 Kata
“Nona, kenapa Lo tidak melirik Gue? Gue lebih hebat daripada Alli pacar lo itu. Jujur aja setelah gue lihat lo, rasanya ada yang beda dalam diri lo Nona. Tolong, pertimbangkan ini. Gue akan selalu jagain lo, bahkan gue akan pertaruhkan nyawa dan segalanya buat lo jad-“ “Stop Nino, maaf dengan sangat” ujarnya perlahan Nino mengepalkan tangannya keras “Kenapa Nona? Gue akan buktiin kalau yang lebih layak dengan lo itu Cuma gue” “Aku heran kenapa kamu bisa blak-blakan bilang itu di depan orang yang baru kamu kenal, dan orang itu sudah memiliki kekasih” ujarnya sinis Nona mengerutkan keningnya “Gue gak tahu Nona” “Hentikan Nino!” teriak seseorang dari belakang sana Nino membalikkan badannya, Nona pun berjalan menjauhinya. “Apa loe ikut campur urusan gue?” teriaknya keras “Ini sekolahan Nino, jangan ngelakuin hal-hal yang diluar batas sebagai seorang siswa” tambah Dava Nona berjalan melewati Dava dengan dinginnya dan meninggalkan adu argumen dari keduanya “Kenapa? Lo ngerasa kedudukan lu tinggi karena lu ketua osis?” tambah Nino “Bukan gitu, kita di sekolah semuanya murid dan semua murid sama-sama harus menaati peraturan sekolah” jawabnya dengan tepat Nino mengacak-acak rambutnya “Peraturan macam apa yang dibuat bokap nyokap gue disini untuk semua murid heuh? Bahkan mereka berdua pun gak becus ngurusin gua anak satu-satunya di rumah s**l, bodoh semua orang yang terikat dengan peraturan” teriak Nino lantang selantang-lantangnya, hingga suaranya memantul dan terdengar hingga ke telinga Nona yang sudah cukup jauh dari mereka. Nona membalikkan badannya “Nino?” lirihnya nampak khawatir “Kamu masih beruntung memiliki mereka lengkap di rumah, aku hanya punya ibu” tambahnya dengan senyuman yang nampak terlihat sakit “Aku bahkan tidak tahu siapa ayahku” tambahnya Nino mengerutkan keningnya “Lo memiliki satu orang tua, yang sepenuhnya mencintai lo. Menurut gue lo yang lebih beruntung. Benarkan?” ujarnya seraya pergi keluar dari sekolah Dava menunduk “Manusia memiliki luka yang berbeda-beda, itu sebabnya sesama diantara kita harus saling bersyukur” tambah Dava yang membalikkan badan dan berjalan menuju kelas. “Jadi benar dia memiliki pacar?”                                                                       *****                                                                      Nona berjalan hendak menuju kelasnya, ia melihat seseorang diambang pintu kelas berdiri disana. “Pero?” sahutnya menatapi si pemilik nama yang kemudian tersenyum bodoh “Tumben kamu udah ada jam segini?” Pero tersenyum lucu “Hehe, iyalah semenjak lo gak ada kan gue jadi banyak belajar dari lo” “Syukurlah” tambah Nona dengan senyuman manisnya “Terus kenapa belum masuk?” tambahnya lagi Pero menggaruk kepalanya yang tidak gatal “Eh anu hehe, gue juga baru nyampe sebenernya” “Oh gitu” jawab Nona menatapi dia curiga “Dia menyembunyikan sesuatu” umpatnya dalam hati Pero membuka pintu kelas dan masuk ke dalamnya, Nona mengikutinya. “Ah rasanya sudah lama sekali aku pergi” ujarnya menghirup udara di kelas dalam-dalam “Seperti biasa aroma stella lemon yang memenuhi isi ruangan ini” ujarnya lagi seraya duduk di bangku yang sudah beberapa hari kosong Pero menatapinya dengan mengerutkan keningnya “Lo dari mana aja sih?” Nona mengecek isi tasnya “Ada deh” ia mengambil sesuatu dari dalam sana “Ini aku bawa souvenir buat kamu” Nona mengulurkan gantungan kunci berbentuk London eye padanya Pero menatapinya dengan senyuman lalu membawanya “Be-benarkah?” gugupnya “Iya, lihat nih kalau kamu tekan tombol ini dia akan nyala nahkan warnanya kuning” tambah Nona sambil menekan tombol gantungan kunci yang dipegang Pero Pero masih mematung menatapi Nona “Kenapa kamu gak suka?” tanya Nona polos “Eh eh bukan gitu, gue suka ko. Makasih ya” sahut Pero dengan senyuman yang benar-benar kaku Nona kembali mengecek isi tasnya “Syukur deh kalau kamu suka, aku masih ada banyak souvenir untuk dibagikan ke temen kelas ini kalau kamu suka mereka juga pasti” sahutnya masih sibuk mengobrak-abrik isi tas “Se ke-kelas? Aku fikir” lirihnya dengan tatapan tertuju pada Nona “Iya kan kamu juga termasuk murid di kelas ini, itu artinya kamu teman ku” Pero menunduk “Te-teman?” “Iyalah Ero” ujar Nona dengan senyuman lagi Rasanya d**a Pero sekarang nampak sesak, sungguh ia baru mengalami hal seperti ini di dunianya. Pero nampak menunduk, namun hal itu tidak disadari oleh Nona yang masih sibuk dengan souvenir yang akan dibagikan. Setelah cukup lama akhirnya sebagian dari murid-murid sana sudah memasuki kelas, Nona pun mulai membagikan satu persatu. Sementara orang yang berada di belakang bangkunya, sekarang ia mulai so sibuk mengoperasikan ponselnya. Pero membuka aplikasi i********: nya, tak sengaja postingan-postingan terbaru dari Nona saatnya berada di London baru ia lihat. “Oh, apakah dia? Tidak sendiri?” tanya Pero menatapi Nona yang sedang sibuk di sebelah sana Pero mengacak-acak rambutnya kesal “Agh s**l” “Nona makasih ya” sahut semuanya Indra membisikkan sesuatu pada Nona “Nona, pasti lo ke London bareng Alli kan? Lain kali mintain tanda tangannya dong buat gue” Nona tersenyum padanya “Dasar Indra oke deh, tour nanti kan di Jakarta” “Oke, gue niatnya mau nonton juga sih” senyumnya diraut wajah yang lumayan itu Nona nampaknya sudah selesai, ia pun kembali ke bangkunya dengan senyuman. Pero menatapinya dari belakang. “Apa Ero?” sahutnya Pero menggaruk kepalanya yang tidak gatal “Masih ada sisa gak? Gue mau kasih Harry sama Bintang” ujarnya dengan senyuman yang dibuatnya bodoh “Oh ini masih banyak ko” Nona pun membalikkan badannya dan memberikan beberapa untuk Pero Pero menolak semua itu “Gue ambil dua aja ko, buat adik-adik gue” “Oh oke, jadi kamu punya dua adik ya?” Pero mengangguk “Kayaknya kamu sayang banget ya sama mereka” tambah Nona tersenyum “Ya iyalah, sama Bintang sayang banget tapi kalau sama si rakus Harry gue setengah-setengah sayangnya. Tapi kalau gue bawain buat Bintang aja, dia pasti rebut makanya dia tetep gue kasih” sahut Pero dengan senyuman Nona ikut tersenyum “Oalah gitu, mereka pasti lucu” “Iya lah abangnya aja udah lucu kek gini” lagi-lagi senyuman bodoh itu ditampilkannya pada Nona, yang sebenarnya hatinya tidak cukup tersenyum hari ini. “Dasar Ero” celetus Nona yang lalu membalikkan badannya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN