Pandangan Pero pada Nona melemah ia nampak sedih “Nona, apa pun itu kebahagian lo, gue akan ikut bahagia. Gue akan selalu ada di belakang lo saat lo butuh dorongan, gue akan selalu ada di depan lo untuk melindungi lo. Tapi mungkin gue akan kesulitan jika berada di samping lo. Biarlah, gue seneng ko sudah bisa mengenal lo meski hanya posisi itu yang gue dapat” guraunya dalam hati
Waktu pelajaran sudah habis tanpa mereka sadari waktu cepatlah berlalu, Nona berjalan kearah gerbang diikuti dengan Pero.
Nona membalikkan badannya menatapi Pero “Ero bukannya kamu bawa motor ya?” ujarnya heran pada Pero yang masih berjalan menuju gerbang mengikutinya
“Eh hehe gue anterin lo sampe gerbang terus liatin lo pulang” ujarnya polos
Nona mengerutkan keningnya “Eh tumben”
“Hmm lo kan udah kasih souvenir buat gue juga buat adik-adik gue. Jadi” ujarnya tergantung
Nona tersenyum “Oke Ero”
Nona berdiri disana dan Pero masih di belakangnya, Nona tak menyuruh Pero pergi seperti apa yang dilakukannya pada Nino dan Dava karena hanya satu yang terlintas saat melihat Pero, ia merasa Pero adalah teman yang asyik dan ternyata baik.
“Ko pak sopir masih belum datang ya” gerutu Nona
“Iya nih, udah 20 menit kita nunggu disini” tambah Pero
Nona membalikkan badannya “Ero pulang aja”
“Engga ah gue khawatir sama lo” ujar Pero menatapinya sendu
Nona mengerutkan keningnya bingung “Hah?”
“Ya iyalah sebagai teman gue khawatir sama lo, apalagi lo cewek” sahutnya
Mereka masih menunggu kedatangan sopir disana “Ero kenapa di belakang?”
“Hehe mau aja sih”
Nampaknya seseorang datang kearah gerbang mendekati Nona dan Pero disana. Ia mengenakan motor sport merah, rambutnya yang berantakan dengan seragam yang dikeluarkan dan jaket yang dibiarkan berada di bahunya. Tapi tetap saja ia terlihat sangat-sangat tampan, membuat semua tatapan yang berada disana tertuju pada Nino.
Motor itu berhenti tepat di hadapan Nona, Nino turun dan mulai mendekati Nona ia berdiri di hadapannya. “Nona, pulang bareng Nino yuk” ajaknya dengan senyuman
“Apa pacar Nona si brutal ini?” gumam Pero dalam hati
Nona tidak menatapinya “Maaf, aku ada yang jemput” jawabnya lembut
Nino tersenyum sangat manis “Suara lo benar-benar manis, gue rasa dia masih belum datang. Jadi biar gue yang anter lo pulang”
Nona menggelengkan kepalanya “Maaf ya”
“Sebenarnya apa sih hubungan mereka? Gue jadi patung disini gila” gumam Pero dalam hati
Nino menatapi Nona mendekat, membuat Nona mundur perlahan sehingga sampai di dekapan Pero, ia sangat ketakutan. Pero memegangi kedua bahu Nona dan membiarkannya di belakang tubuhnya, Pero melindunginya dari Nino.
Hal itu membuat semua mata benar-benar terpusat disana sehingga orang-orang berkumpul.
“Seperti yang ku bilang posisi ku hanya untuk di depan dan di belakangmu” gumam Pero dalam hatinya menatapi Nona yang nampak ketakutan lalu kembali menatapi Nino kesal
“Kenapa lu ikut campur g****k! Ini urusan gue sama Nona” teriak Nino tepat di depan mukanya
Pero mengepalkan tangannya keras “Lo pikir apa? Heuh? Lo pikir lo siapa Nona sehingga dengan bodohnya lo deketin dia”
“Agh anjir sebelum lo ngomong itu ke gue, gue yang harusnya nanya itu sama lo bodoh” desis Nino dengan senyuman menyungging tanda meremehkan Pero
Pero mengambil nafasnya “Gue temen Nona dan Nona adalah teman terbaik buat gue” jawabnya dengan lirih, Nona yang berada di belakangnya tersenyum.
Nino tertawa kencang diantara semua murid yang berkumpul disana, mereka semua diam. “Lo pikir dengan ikatan bodoh itu, lo berhak lindungin dia?”
Pero tersenyum “Itu bukan ikatan bodoh, dan yang bodoh itu elo” tantangnya
“b*****t” umpat Nino dengan melayangkan pukulan keras tepat ke pipi Pero
Hal itu membuat semua yang berada disana merasa kaget, apalagi dengan Nona. Pasalnya Pero tidak pernah berkelahi, tapi dengan perlakuan Nino akankah Pero murka.
“Sekalipun lo temen baiknya Nona, atau sodaranya Nona bahkan jika gue bertemu si b******k Alli itu lagi gue gak akan nyerah buat dapetin hati Nona” tambahnya
Pero menunduk, ia nampak berpikir. “Alli?” gumamnya
Nona nampak sangat ketakutan disana, apa yang telah terjadi semuanya terjadi karena adanya dirinya. “Hentikan ku mohon, aku takut” lirih Nona
Pero menatapi Nona dengan luka di pipinya “Nona tenanglah, gue akan jagain lo dari si brutal ini”
“Banyak omong lo anjir” Nino melayangkan kakinya yang tepat mengenai perut Pero, Pero tersungkur jauh tepat di depan Nona.
Nona nampak marah ia menatapi Nino tajam, lalu berjalan mendekatinya perlahan. Nino tersenyum dengan indahnya, nampak tak bersalah sama sekali.
Pero menatapinya dengan khawatir “Nona jangan”
“Sekarang Nona mau kan pulang bareng gue” tanya nya polos
Nona mengerutkan keningnya “Sadar Nino! Meskipun aku benar-benar tidak mengenalmu tapi ku mohon sadarlah, apa yang kau lakukan salah. Selama ini kau mendekatiku itu salah sangat salah besar” teriak Nona kesal
Nino menunduk “Lalu apa yang akan gue lakukan? Perasaan ini… setelah melihat lo, ini sangat-sangat besar” lirihnya
Pero tak percaya “Dia benar-benar menyukai Nona?” pikirnya
“Aku mengerti tapi tolong sadarilah kenyataannya, ku mohon” bujuk Nona
Nino menatapi Nona dalam-dalam “Apa harus gue hapus perasaan ini dan membiarkan lo dengan si b******k itu? Haaah semuanya… gue takkan pernah bisa melakukan itu Nona, maaf. Gue bener-bener jatuh cinta sama lo”
“Aku mohon menjauhlah jika kedatanganmu untuk meminta perasaan yang spesial, itu tidak akan pernah bisa”
“Tapi Nona, gue akan tetep mencintai lo dan akan dapetin lo, ingat itu”
Nona tak mengerti apa yang terjadi dengan pria ini, Nona menyerah untuk berbicara dengannya. Ia kembali ke dekat Pero dan membantunya untuk berdiri.
“Ero maafin aku” lirihnya
Pero tersenyum “Tak apa, lo gak salah Nona”
“Suatu saat gue akan dapetin hati lo Nona dan lo pria bodoh yang berada di tanah sana gue tahu lo juga ada perasaan pada Nona bukan? Hah siapa pun bisa menebaknya, berbeda dengan lo gue akan mengejar Nona dan merebutnya dari dia” ujarnya dengan senyuman bangga
Nona menatapi Pero dengan mengerutkan keningnya “Lo salah, gue menganggap Nona teman gue dan perasaan ini pun untuk Nona hanya untuk pertemanan. Dan satu lagi gue peringatin sama lo, jika memang lo pengen dapetin Nona dengan kelakuan lo yang seperti itu gue rasa lo sia-sia saja. Nona perempuan baik dan tidak menyukai k*******n”
Nino nampak mematung disana, apa yang dikatakan pria itu memang benar. Nino membalikkan badannya lalu menaiki motornya lagi. Mengendarainya lalu pergi dengan kecepatan ekstra. Mereka semua yang berkumpul disana perlahan bubar meninggalkan Pero dan Nona.
“Nino memang mengerikan”
“Gue takut anjir sama dia”
“Tapi dia kece juga”
“Kasian pria tampan itu”
Begitulah ocehan-ocehan dari mereka seraya pergi.
Nona menatapi Pero khawatir “Ero, mending kita ke uks dulu yuk”
“Gak usah Nona. Gue gak papa”
“Beneran?”
Pero mengangguk-angguk “Lo jangan takut ya, gue akan jagain lo dari pria brutal itu” ujarnya dengan senyuman
“Gak usah Ero, lagian aku gak takut ko hehe”
Pero pun tersenyum “Syukurlah, eh itu mobil jemputan lo kayaknya”