Nona menatap kearah sana “Oh iya, ya sudah aku duluan ya Ero. Makasih banyak, jangan lupa obati luka mu” ujarnya dengan senyuman lalu berjalan kearah mobil yang berhenti itu, Pero hanya tersenyum.
Pero berjalan ke parkiran “Jadi pacarnya Alli” desisnya
Nona membaringkan tubuhnya di sofa ruang keluarga yang ada di rumahnya, waktu menunjukkan pukul 20.15 ruang keluarga yang sangat nyaman dengan dekorasi super mewah dan familiable bersampingan dengan taman rumah yang hijau dan penuh Bunga dihalangi oleh sebagian besar kaca.
Nona menyalakan televisinya, namun dirinya sibuk membaca buku-buku pelajaran seraya berbaring.
Tak lama seseorang datang mendekatinya, ia mengambil remote tv lalu menekan tombol off, hal itu sontak membuat Nona menghentikan aktifitasnya. “Eh abang, aku lagi lihat acara tv nya”
“Kan kamu lagi belajar Nona, fokus aja belajar”
Nona mengerucutkan bibirnya, ia bangun dan mengambil paksa remote. “Abang, Nona belajar itu sambil nonton tv kalau Nona belajar aja nanti boring”
“Agh anak ini memang aneh” pasrah Juna mengembalikkan remote tvnya
“Wle” Nona menjulurkan lidahnya kesal
Kringg.. Kringg..
Ponsel Nona berdering nyaring “Tuh kayaknya si bebep nelepon” ujar Juna
Nona mengambil ponsel yang disimpan di meja “Ah dasar jones iri aja”
“Hallo Li?”
“Hallo, lagi apa beb?” sahutnya
Juna menatapinya bodoh “Bebep nih bebep” godanya
“Abang berisik deh” Nona membawa bukunya dan masih menelpon lalu pergi ke kamarnya
Juna menatapinya kesal “Caelah yang bilang mau belajar
Nona menutup pintu kamarnya, ia duduk di sofa yang langsung menghadap ke taman dan menunjukan langit malam yang indah. “Aku habis belajar nih”
“Baru sehari aja aku udah pengen ketemu lagi beb”
Nona tersenyum “Aku juga”
“Gimana tadi di sekolah beb?” sahut Alli dari kejauhan sana
Pandangan Nona nampak buyar “Apa yang harus ku katakan?” gumamnya dalam hati
“Sayang” ujar Alli
Nona tersentak, bagaimana pun juga ia tidak bisa menutupi sesuatu dari Alli. “Tadi lelaki yang bernama Nino mendekatiku dan mengajakku untuk diantarkan pulang”
“Apa? Kurang ajar”
“Tapi aku nolak ko yang, aku bisa ngehindar dari dia”
“Kayaknya besok aku ke Indo deh” kesal Alli
Nona nampak terkejut “Jangan Li, aku bisa jaga diri ko. Untungnya juga tadi itu ada Pero temen sekelas ku dia bantuin aku tapi dia kena pukul tadi”
“Kurang ajar banget itu anak”
“Udah deh, besok kesana kalau bisa ya. Aku gak mau dia terus-terusan gangguin kamu”
Nona pun mengalah “Oke deh kalau kamu engga sibuk yang”
“Ya udah sekarang kamu tidur ya di sana ini udah malem, jadi istirahat oke?”
“Hmm aku masih kangen Li” ujar Nona dengan senyuman
Alli tersenyum “Dari jauh aja kamu lucu banget tahu gemesin, aku jadi pengen cubit pipi kamu”
“Hehe, terus hari ini kegiatan kamu gimana?”
Alli terdengar membuang nafasnya berat “Seperti biasa Alli kuliah selalu aja banyak yang ganggu, mereka terus aja ngikut-ngikut kadang berisik banget. Apalagi tadi kan waktunya Alli pulang, udah lagi pusing mereka ngikut-ngikut berisik sumpah nambah kepusingan, eh aku bilang gini Berisik, untuk hari ini tolong diam ya plis aku mengatakan itu sambil berjongkok di hadapan mereka”
Nona tertawa renyah “Aduh kamu ada-ada aja sumpah sih, ngakak” ujar Nona yang masih dengan suara tawanya
“Abisnya aku gereget yang”
“Iya aku paham hehe, tapi gak ada yang macam-macam kan sama kamu?” tanya Nona
“Gak ada lah yang, mereka normal-normal aja ko sebagai penggemar”
Nona membuang nafasnya “Ah syukurlah”
Pagi berikutnya Nona diantar oleh kakaknya ke sekolah, karena hari ini Juna tidak ada mata kuliah. Di samping itu juga Alli memintanya dengan sangat untuk mengawasi Nona sebelum kedatangannya.
“Nona, cowok yang di maksud Alli itu siapa sih?” sahut kakaknya
Nona melipatkan tangannya “Namanya Nino, dia dari kelas sebelah. Aku juga baru tahu dia sejak kemarin-kemarin, aneh juga sih dia tiba-tiba bilang suka” kesalnya menatapi jendela
“Nino? Sebentar, Nino alumni SMP Harapan?” ujarnya
Nona menggelengkan kepalanya “Gak tahu tuh, emang kenapa bang?”
“Engga sih, abang rasa sih begitu. Soalnya dulu Sasa kan pernah dipanggil BP dia nyuruh abang datang ke sekolah dan ternyata dia berkelahi omongan sama anak cowok yang namanya Nino” tambahnya
Nona menyandarkan kepalanya di kursi “Ah entahlah, Sasa itu bener-bener ya”
“Dia pemberontak yang berasal dari keluarga kita” ujar Juna tersenyum
Nona pun tersenyum “Iya sih katanya dia nanti malam juga mau main ke rumah sama Friska juga, mau minta oleh-oleh tuh anak”
“Abang udah bisa lihat pertumbuhan kamu, sementara dengan Sasa dia tak da perubahan sampai sekarang masih bocah” ujarnya diiringi gelak tawa diantara keduanya
Juna nampak berfikir “Tapi kalau Friska gimana ya? Abang udah lama gak ketemu dia, tapi abang rasa Sasa sama Friska sepaket. Tapi Sasa lebih barbar”
“Abang bener banget”
“Bukannya Friska se esema sama kamu?”
Nona mengangguk segera “Kami jarang bertemu karena jarak kelas cukup jauh, tapi sekali ketemunya itu anak suka minta dijajanin” ujarnya dengan tersenyum
“Ah ada-ada saja mereka”
Mereka sampai di gerbang, nampaknya kali ini tidak ada siapa-siapa di area sana. “Kayaknya aman deh, gak kayak kemarin” gerutu Nona
“Kemarin apaan emangnya?”
Nona melepas sabuknya “Nino kemarin berdiri di gerbang dan menghalangi jalan, tapi aku rasa sekarang baik-baik saja”
“Ya sudah abang anterin sampai kelas yuk” Juna pun melepas sabuknya
Nona nampak berpikir, namun nampkanya keputusan ini sangat baik untuknya “Oke baiklah”
Juna dan Nona memasuki sekolah, keadaan disana masih sangat hening. Tak ada gangguan dari manapun. Mereka akhirnya sampai di depan kelas, berbeda dengan hari kemarin, nampaknya kelas Nona sudah terbuka.
“Tumben udah ada orang” desis Nona memasuki kelas diikuti Juna
Seorang pria nampak duduk dibangku dengan kaki yang dibiarkan naik diatas meja, wajahnya tertutup oleh buku dan tangannya yang melipat di d**a.
“Siapa dia? Apa jangan-jangan Nino?” tegas kakak Nona menatapi pria itu tajam
Suara bising dari Juna membuat si pria terbangun “Ah siapa itu” gerutunya
Buku sejarah di wajahnya pun jatuh dan tangannya menggeliat, ia melihat ke sekeliling. “Nona?”
Dan melihat ke arah orang di sampingnya “Apa dia? Hmm a-ali?” gumamnya dalam hati
Juna nampak kesal “Apa dia Nino?” tegas Juna
“Oh ku kira benar dia Alli, tampan juga nih cowok” gumam Pero yang masih berargumen dalam pikirannya sambil menyipitkan mata
Nona memegangi bahu Juna “Ya ampun bang, dia Pero temen sekelasku. Ah syukurlah” lega Nona
“Oh teman sekelas? Dia gak ganggu kamu kan?” tanya Juna
Nona menggeleng dengan senyuman “Ya ampun bang engga ko, dia termasuk teman baik Nona di kelas ini”
“Abang? Teman? Ah menyakitkan” gumamnya lagi
“Oh syukurlah” lega Juna
Nona menatapi Pero heran, ia melambai-lambaikan tangannya di depan mata Pero yang nampak kosong. “Oy Ero, kamu kok diem tumben amat! Kamu udah bangun belom si?”
Pero tersentak “Eh gue bangun kok, hehe masih dalam dunia mimpi barusan” ujarnya dengan senyuman bodoh
“Bang kenalin dia Pero, Pero kenalin dia abang ku Juna”
Pero mengulurkan tangannya “Pero bang” ujarnya dengan senyuman
“Juna” jawab Juna nampak tegas
Setelah melepaskan salamannya Juna nampak menatapi Nona “Kalau gitu abang pulang ya, kamu harus bisa jaga diri. Kalau sampai si Nino itu gangguin kamu lagi, abang bisa-bisa gak dapet tiket konser Alli”
“Kurang ajar abang ish” gerutu Nona sebal, diiringi dengan senyuman Juna
“Hehe bercanda, kamu pokonya jaga diri baik-baik ya” ujarnya seraya memegangi bahu Nona
Nona mengangguk, sementara Pero nampak terheran-heran. “Alli? Tiket? Apa si Alli kerjanya di Dufan?” gumamnya lagi dalam hati