“Sayang, bagaimana novel ke 4 mu sudah terbitkan?” tanya Alli
Nona mengangguk “Sudah, aku seneng banget kerja sama sama paman kamu. Dia itu gesit banget nanggapi naskah-naskah baru” ujarnya
“Baguslah, aku denger juga kata paman kalau novel-novel karya kamu itu meroket penjualannya. Hebat kamu sayang” tambah Alli menatapi kekasihnya bangga
“Kamu juga hebat” senyumnya
Waktu cepat berlalu nampaknya mereka sudah sampai di bandara. Alli dan Nona segera mencari Juna, nampaknya Juna sedang duduk di bangku sana sendirian bersama 2 koper besar yang berada di sampingnya.
“Bang” sahut Nona melambai, Juna pun tersenyum menatapi mereka berdua.
Alli nampak menunduk raut wajah cerianya perlahan hilang setelah ia turun dari dalam mobil. “Cepat sekali” lirih Alli nampaknya tak terdengar oleh mereka berdua
“Sebentar lagi kita terbang nih” ujar Juna melirik jam tangannya
Alli mengangguk-angguk “Bang jagain Nona ya” sahut Alli dengan tatapan yang tak tahu kemana arahnya
“Siap Li”
“Kamu gak usah takut sayang oke” ujar Nona yang kini memberi semangat
Alli menatapi Juna “Kemarin ada anak Indo seSMA sama Nona, dia jauh-jauh ke London buat cari masalah sama Alli. Alli takut aja dia deketin Nona lagi”
“Hah? Anak Indo?” sahut Juna nampak kaget
“Iya bang”
“Aku akan jaga diri baik-baik ko” tambah Nona dengan senyuman
Alli pun tersenyum lalu memeluk sang kekasih begitu eratnya “Jaga diri ya, makan yang banyak, tidur yang nyenyak juga nanti” bisik Alli
“Ah anjir jadi nyamuk lagi nih” gumam Juna dalam hati
Nona tersenyum “Alli juga ya jaga diri, jangan terlalu kecapean, jangan lupa makan sama istirahat yang cukup”
Alli mengangguk lalu melepaskan pelukannya “Ayo Nona” ujar Juna menatapi Nona
Juna menepuk-nepuk bahu Alli “Semoga karirmu semakin sukses bro” tambahnya pada Alli dengan senyuman
Juna pun berjalan menjauh darinya begitu pun dengan Nona yang mengikuti langkahnya sambil masih menatapi Alli dengan senyumannya. Alli masih terpaku disana dengan senyuman yang masih tertuju pada Nona yang kini mulai menghilang dari hadapannya.
Alli membawa masker yang ia simpan di saku celananya, lalu mengenakannya. “Kehidupan keras aku datang” ujarnya seraya pergi menuju mobilnya yang berada disana cukup jauh
Nino masih duduk disana, bedanya sekarang ia di kelilingi oleh banyak orang darpada sebelumnya. “Cari data wanita yang berusia sekitar 45tahunan, ia dulu pernah menerima saham dari bokap gua” ujarnya dengan raut wajah yang masih datar
“Bagaimana caranya bos?” ujar salah satu diantara mereka, mereka adalah anak-anak geng Nino yang sudah lama sejak smp sudah mengikuti Nino hingga saat ini.
“Jeri, lu bisa kan retas akun? Cari riwayat saham dan temukan data diri wanita itu di dalamnya. Saham yang dikirim sekitar 17 tahun yang lalu” tegasnya
Yang bernama Jeri itu mengangguk-angguk paham “Butuh waktu sekitar 1 bulan untuk meretas bos”
“Gua akan tunggu hasilnya, nanti setelah lu bisa tahu data dirinya. Kita party dan gua akan beliin apa yang kalian mau” jelasnya sambil mengenakan jaket
“Oke bos” semangat Jeri
Nino mulai berjalan hendak keluar dari ruangan itu “Memangnya wanita itu siapa bos? Dan kenapa kejadiannya terjadi saat bos masih kecil?”
“Jangan terlalu ingin tahu tentang kehidupan orang, lakukan saja” tambahnya lagi
Nino pun hendak melangkahkan kakinya lagi untuk pergi, namun sebelum itu ia membawa amplop berisi uang di dalamnya. “Itu uang dari gua bulan ini, perbaiki geng dan jangan sampai ada yang meremehkan Nino’s seperti waktu itu, jika ada penghambat lagi sikat habis”
*****
Setelah berjam-jam cukup melelahkan, Nona dan Juna akhirnya sampai di Indonesia. “Hah kini ku hirup lagi udara Jakarta” gerutu Nona
Juna berjalan di sampingnya, nampaknya ia sangat sibuk mengotak-atik ponselnya sejak tadi. “Bang lagi ngapain sih?”
“Kepo”
“Wah, lagi chatan sama gebetan kayaknya yee” goda Nona
Mereka di jemput oleh sopir pribadi keluarganya, hingga mereka pun menuju rumah.
*****
Pagi cerah berikutnya Nona bangun cukup pagi, karena ibunya yang sudah membangunkan sejak pukul 04.30 Nona bergegas ke bawah dengan seragam yang rapi, lalu siap-siap untuk sarapan.
“Nona datang” serunya melihat mereka semua yang sudah memenuhi ruang makan
Ayah, ibu dan kakaknya. “Semangat banget Nona hari ini” ujar sang ayah yang memakai kemeja putih disertai dasi hitam rapi.
“Hehe”
“Beda lah pah kalau udah ketemu doi mah” sahut Juna
Nona mendengus sebal padanya “Oh iya, gimana keadaan Alli? Papah masih aja belum ada kesempatan buat ketemu sama dia” tambah ayahnya lagi
“Alli baik kop ah, Cuma Nona aja selalu khawatir sama dia kerjanya bener-bener ekstra”
“Aduh kamu bilangin dong sama dia jangan terlalu kecapean Nona” ujar ibunya menatapi Nona seraya memberikan beberapa lembar roti di piringnya
“Nona sudah bilangin ko mah”
Ayah Nona nampak mengingat sesuatu “Bukannya kemarin kalian bilang Alli ada konser di London”
Mereka berdua sontak mengangguk bersamaan “Gimana konsernya papah penasaran, apalagi nih yah papah suka banget music rock”
“Wah pah, gila banget pokonya konser Alli kemaren sumpah meledak” seru Juna
“Aduh papah lain kali harus nonton dong ya” sahutnya dengan senyuman
Ibu Nona menyenggol bahu suaminya “Apaan sih papah umur udah tua aja masih mental rocker” ujarnya sontak membuat mereka tertawa renyah
Nona diantarkan oleh sopir pribadinya ke sekolah, berbeda dengan Juna dan ayahnya yang berangkat membawa mobil masing-masing. Itu karena kakaknya yang duduk dibangku kuliah.
“Makasih ya pak” sahutnya
“Non nanti saya jemput lagi?” tanya sopir
Nona nampak berfikir “Iya pak, kayaknya nanti abang gak akan bisa jemput”
“Oke siap Non”
Nona pun keluar dari dalam mobil, ia sangat terkejut ketika melihat hal ini. Di depan gerbang terlihat Nino yang berdiri menatapi dirinya dengan senyuman yang merekah, di belakangnya cukup jauh sekitaran kursi duduk depan taman terlihat Dava yang juga menatapi dirinya. Padahal ini sangat-sangat pagi, bisa dikatakan hanya mereka yang baru datang ke sekolah.
Nona melangkahkan kakinya berusaha untuk bersikap sebiasanya. Ia berjalan fokus ke depan, melewati Nino dengan dinginnya. Namun, saat itu juga Nino melangkahkan kaki dan menghalangi jalannya.
“Ada yang bisa saya bantu?” jelas Nona
Nino tersenyum “Lo sangat manis”
“Permisi” ujar Nona berusaha menjauh
Tetapi Nino lagi-lagi menghalangi jalannya “Ada apa?” tanya Nona mulai geram
“Gue Nino, kenalin” sahutnya dengan senyuman
Nona menunduk “Saya sudah tahu, tolong jangan ganggu saya” lirihnya