“Cuma Bintang yang waras, abang-abangnya penyakitan semua” jelasnya mengejek kedua anak lelakinya itu
“Wah bang dia mulai berani sama kita! Serang!” teriak Harry memimpin kakaknya
Ibunya langsung menghalangi mereka berdua “Mamah potong uang jajan kalian 80 persen” ancamnya
Mereka berdua berhenti memohon ampun pada sang ibu “Ah posisiku sangat memalukan disini, lebih ditakuti si mamah daripada papah” lirihnya dengan wajah yang mengkhawatirkan
Di rumah yang cukup megah dengan nuansa putih dan hitam terlihat Dava yang sedang berada diruang belajar. Ditemani segelas s**u hangat dan sepiring penuh roti kering kesukaannya di sampingnya, s**u yang dibuatkan oleh sang ibu sebelum ia berangkat untuk meeting.
Dava nampak serius saat berhadapan dengan buku-bukunya, oh itu sangat terlihat keren. Setelah lama bergelut dengan kata dan teori, Dava pun menutup bukunya perlahan menandai halaman terakhir yang dibacanya. Dava menyimpan rapi buku itu di tempat semula, ia mengambil gelas yang berisi penuh s**u itu, ia mulai meleguknya dan menghabiskannya perlahan.
“Haaaah” leganya setelah s**u itu dihabiskan
“Ibu memang yang terbaik” tambahnya lagi menatapi gelas yang sudah kosong itu dengan senyuman di wajah tampannya
Tangannya mulai membawa satu potongan roti dan memasukannya ke dalam mulutnya, ia nampak santai dengan kenikmatan yang sederhana ini. Setelah menelan gigitan terakhir ia nampak berfikir.
“Sudah dua hari aku tidak melihat Nona di sekolah, kemana dia pergi ya? Aku mulai mengkhawatirkannya” ujarnya
Ia membawa ponsel yang diletakkan di dekat bukunya, membuka aplikasi i********: dan mencari-cari nama Nona. Ia menemukannya, namun.
Matanya melotot saat melihat postingan itu. “Simple with you?” desisnya tidak percaya
“Ah, apakah dia sudah mempunyai? Kekasih?” tambahnya lagi
Dia tersenyum dengan manisnya “Ah tidak mungkin” ia menutup ponselnya lagi
Nona dan Alli nampaknya menikmati wahana itu, hingga 30 menit benar-benar tidak terasa. Mereka keluar dari kapsul, sebenarnya menakutkan untuk Nona tetapi kesenangan lebih mendominannya.
“Setelah ini mau kemana?” tanya Alli menatapi Nona
Nona memikirkan sesuatu “Aku lapar, ayo kita cari restoran terdekat” sahutnya
“Baiklah”
Semua orang yang berada disana mulai menyadari keberadaan Alli, mereka menjerit-jerit saat tahu Alli ada disana dengan seorang wanita setelah menaiki kapsul London Eye. Alli yang mulai menyadari sejak awal, ia segera ancang-ancang mengajak Nona berlari menembus kerumunan itu.
“Alli”
“Oh kenapa dia bersama wanita?”
“Alli oh dia sangat tampan”
“Dia sangat tinggi”
“Alli bisakah berfoto bersamaku”
Begitulah sahutan orang-orang disana menggunakan bahasa Inggris yang fasih, Alli bersama Nona sudah berlari cukup jauh mereka dikejar-kejar fans Alli.
Keadaan langit disana yang mendung membuat Alli khawatir akan turun hujan, apalagi mereka yang masih dikejar-kejar, oh benar saja detik itupun hujan turun cukup derasnya menimpa tubuh Alli dan Nona. Saat itu pun Alli membuka kemejanya, sehingga menampilkan dirinya yang hanya memakai kaos. Alli melebarkan kemeja itu diatas kepala Nona, tapi hujan mulai reda.
Mereka terlihat basah meski hanya dibagian bahu, nampaknya kemeja Alli tidak cukup basah. Hujan yang berlangsung beberapa detik bisa menolong mereka dari kejaran fans. Mereka segera memasuki restoran di sekitar sana, sehingga mereka bisa bersembunyi tanpa diketahui mereka.
Mereka membuka pintu restoran dan masuk ke dalamnya.
Nona dan Alli mengatur nafasnya “Oh hah” gerutu Nona membuang nafasnya berat
“Mereka benar-benar cepat” tambahnya
“Iya benar” Alli menatapi Nona dengan tatapan lelahnya begitupun dengan Nona. Mereka tersenyum bersamaan saat merasa wajah mereka terlihat sangat lucu apalagi dengan air hujan yang sudah membasahi wajah mereka,
“Ah lihatlah wajahmu” ujar Nona seraya tersenyum menunjuk wajah Alli
“Kita menjadi sangat jelek bukan? Karena air hujan” tambah Alli membuat Nona tertawa
“Kau benar” ujar Nona ia mulai kedinginan
Mereka berdiri diambang pintu Alli menarik tangan Nona “Ayo ke toilet dulu”
“Mau ngapain?”
Alli memberikan kemeja yang tidak basah itu padanya setelah mereka sampai di depan toilet wanita. “Pakai ini, kamu kebasahan. Aku gamau kamu sakit”
“Tapi Li, kamu juga basah” gerutu Nona menatapi badannya
Alli menutupinya segera “Eh jangan tatapin badan aku seperti itu dong” ujarnya memelotot pada Nona diakhiri dengan senyuman
“Kurang ajar” kesal Nona memukul tangannya
“Hehe ya sudah cepat gih ganti pakai ini” ujarnya kembali
Nona pun mengangguk, membawa kemeja itu dan memasuki toilet. Setelah ia selesai berganti pakaian, Alli pun memegangi tangan Nona lalu mencarikan tempat duduk untuk mereka berdua.
Mereka akhirnya duduk di meja nomor 20, saling berhadapan. “Fotoin aku” ujar Nona memberikan ponselnya
Alli tersenyum “Agh dasar selebgram” umpatnya membuat Nona tersenyum
Saat itu pun Alli mengambil fotonya. Setelah beberapa kali hasil jepretan akhirnya Nona pun merasa puas, karena makanan yang sudah mereka pesan pun sudah datang. Nona melihat gambar dirinya sambil tersenyum-senyum.
“Hebat kamu, berpotensi jadi fotograper hehe” senyumnya menatapi Alli
Nona menekan tombol i********: dan memposting sesuatu disana “Beb, udah dong main hapenya” ujar Alli nampak kesal
Nona pun menutup ponselnya “Oke, udah ko”
Pandangannya terfokus pada langit-langit bangunan yang dipenuhi coretan, sudah 30 menit ia berbaring disana dengan lamunan seperti itu. Mereka yang berada di sekelilingnya sudah dari tadi khawatir menatapinya. Namun nampaknya mereka tak berani berbicara dengannya.
Setelah sekian lama melamun akhirnya mulutnya terbuka perlahan “Ada misi baru buat kalian” lirihnya dengan suara serak
Mereka semua saling beradu tatap satu sama lain setelah mendengar ucapan Nino “Maksudnya bos?” ujar salah satu diantara mereka
“Kumpulin semua anak-anak” perintahnya
Mereka semua mengangguk “Baik bos”
Sementara itu di ruang kelas sana tepatnya pak Gerian yang sedang mengajar, Pero yang sejak awal tidak pernah mendengarkan penjelasan dari guru killer itu. Ia nampak melamun menatapi bangku kosong itu, dengan penuh pertanyaan dalam dirinya.
London, Inggris.
Mereka sudah cukup kelelahan menghabiskan waktu berdua, waktu menunjukan pukul 16.00 sementara jadwal penerbangan pukul 17.00 mereka harus secepatnya menuju bandara. Mereka sedang menuju bandara “Gimana bang Juna?” tanya Alli
Nona yang sedang memegangi ponselnya melirik Alli “Dia balas, katanya dia udah disana”
Nona menutup ponselnya “Oh syukurlah” tambah Alli
“Cepat sekali ya” lirih Nona menunduk
Alli pun merasakan hal yang sama, namun bukan hal baik jika ia menunjukan kesedihannya juga. “Dua minggu lagi aku ke Jakarta yang” ujar Alli memegangi tangan Nona
“Kamu jangan sedih ya, tunggu aku” ujar Alli
Nona pun tersenyum dan menyenderkan kepalanya di bahu Alli yang sedang menyetir mobil sportnya. Ia sangat nyaman berada dekat dengan kekasihnya, meski kadang ia berfikir benarkah dirinya mendapatkan Alli si bintang rocker? Oh yang benar saja Nona bersamanya sebelum Alli mendapat julukan itu.