Alli dan Nona dipersiapkan untuk masuk ke dalam kapsul berdua, sebenarnya satu kapsul bisa menampung hingga 25 orang tapi kan mereka hanya berdua.
Kapsul itu mulai naik perlahan, raut wajah Nona seketika berubah ia nampak takut. Alli yang berdiri di sampingnya merangkulnya perlahan. “Kamu jangan takut, lepaskan semuanya dan coba nikmati pemandangannya” ujar Alli
Nona mulai mendengarkan apa yang Alli suruh “Benar, ini tidak begitu buruk ini luar biasa” teriak Nona
Alli pun tersenyum ia masih merangkul sang kekasih, Nona menatapi Alli bibirnya mendekati telinga Alli “Terima kasih telah membawaku kesini” bisiknya
Alli tersenyum ia mengeratkan rangkulannya pada sang kekasih. Nona menyender di tubuh Alli rasanya nyaman sekali melihat pemandangan dari atas sini. Nona menikmati pemandangan dengan sangat rinci “Bukankah itu tempat kita tadi?”
Alli tidak mendengar perkataannya ia memandangi sang kekasih dengan dalamnya “Iya itu tempat kita tadi berangkat bukan?” ujar Nona lagi yang masih belum membuyarkan lamunan Alli
Nona meliriknya sebentar, ia mendengus sebal “Kebiasaan deh setiap aku ngomong kamu gak dengerin. Pastinya aja kamu lagi natap aku kayak gitu” sebalnya
“Alli?” teriak Nona pada Alli yang masih saja terpaku menatapi dirinya
Alli nampak terkejut “Eh apa sayang?”
“Tau ah”
“Hehe mana tempatnya? Aku gak liat ko”
“Itu tuh Li” ujar Nona sambil menunjukannya dengan jari tangannya
Alli menyipitkan matanya “Ah benar itu, kenapa kamu mudah sekali menemukannya?”
“Karena mataku sehat, lihat nih bening banget kan. Makanya kamu harus banyak makan wortel” ujar dia sambil membulatkan matanya
Alli tersenyum “Wih iya nih bening banget beb, Alli sampai silau” ujarnya
“Tau ah, pokonya kamu harus banyak makan sayuran ya? Jangan makan pitzaa sama burger mulu apalagi makanan pedas” gerutunya
“Iya bawel”
Nona kembali menyender di tubuh sang kekasih “Dari sini kamu mau kemana?” tanya Alli nampak seperti bisikan
“Aku mau cari souvenir yang banyak hehe, buat oleh-oleh Sasa, Friska dan temen kelasku” jawabnya
“Si Sasa udah gede kali ya? Friska juga?” tanya Alli
Nona membuang nafasnya berat “Ya gede lah yang, kan Sasa seumuran sama aku kalau Friska beda setahun”
“Oh iya aku lupa hehe”
Sasa dan Friska yang merupakan saudara Nona memang pernah bertemu dengan Alli sekali saat Alli berada di rumah Nona waktu itu.
Di belahan dunia sana Nino yang baru sampai di Indonesia ia hendak pulang menuju rumahnya ia mengendarai motor sport kesukaanya, setelah pesuruhnya mengantarkannya ke bandara.
Tak butuh waktu lama, Nino akhirnya sampai di rumah megah. Gerbang utama terbuka oleh kedua penjaga disana, rumahnya yang serba putih itu nampak berdiri tegak seperti istana. Ia tersenyum, rasanya ia telah pergi cukup jauh kemarin. Ia membayangkan saat dulu waktu TK ia ikut tour bersama ayah ibunya saat sampai di rumah kakek dan neneknya menyambut mereka bertiga. “Hah bukan kah itu kenangan yang pilu” ujarnya seraya tersenyum
Nino memarkirkan motornya di garasi, ia segera menyimpan helmnya. Berjalan menuju rumah megahnya itu dengan senyuman yang melebar. Ia membuka pintu rumah utama dengan senyuman lebar dan tangan yang direntangkan keduanya.
“Aku pulang” teriaknya
Namun nampaknya rumah megahnya itu sepi, seketika senyumannya itu hilang dan nampak pun senyuman yang menyungging. Dia fikir sebuah keajaiban akan menimpanya saat ini, keajaiban dimana kakek-neneknya masih ada dan menyambutnya bersama kedua orang tuanya.
“Hah sudahlah, aku kembali ke rumah raksasa yang di penuhi duri dan nanah huhh hina anjir” teriaknya frustrasi
Ia berjalan menuju ke atas sana cukup cepat sambil membuka jaket yang di pakainya lalu menaruhnya di bahunya, hendak memasuki kamarnya di lantai teratas. Ia sudah sampai di lantai atas, namun suara itu mengganggunya lagi. Langkahnya seketika terhenti disana ia menunduk dengan senyuman menyungging itu tampil lagi di wajah lelahnya.
“Bukankah saham itu milikku? Kenapa kau belum mengurusi surat-suratnya?” teriak mamah Nino
“Agh sudah ku katakana semuanya masih dalam proses”
“Selalu itu yang kau bilang dari dulu, jangan bilang kau sudah memberikan saham itu pada wanita lain? Seperti dulu? Hah katakan”
“Sudahlah aku muak dengan pembicaraan itu, kau selalu saja tak mengerti”
Saat itupun Nino membalikan badannya dan berlari secepatnya menuruni anak tangga, ayah Nino yang membuka pintu sepintas melihat anaknya. “Nino, kau mau kemana?’ teriak sang ayah
Nino sudah jauh darinya sehingga entah ia mendengarkannya atau tidak “Anak kurang ajar, benar-benar tidak berguna” tambahnya lagi
Nino kembali mengendarai motornya ia tak tahu akan kemana, tapi setidaknya setelah ia pergi ia akan mendapat ketenangan.
Sementara itu, di rumah megah sana. Pero nampak melamun diantara suara-suara ramai mengitarinya. “Agh kenapa Nona lama sekali ijinnya. Sebenarnya dia kemana sih?” lririhnya
Sesuatu menggoyahkan tubuhnya membuat lamunannya buyar “Abang kenapa ngelamun sih, noh elo kalah bang haha” teriak si adik laki-laki yang baru saja menduduki kelas 2 smp
“Anjir gue kalah sama anak kelas 2 smp, jago banget lu Hary”
Anak itu tersenyum bangga “Yaiyalah Harry dilawan”
“Ah abang mau makan dulu, laper nih perut si tampan. Kamu mau makan sekarang?” gerutunya seraya pergi
“Caelah abang, masih tampanan gue. Masih kenyang nih perut dedek tamvann” desisnya
Sebelum menuju dapur nampaknya Pero memeriksa sesuatu, ia berjalan menuju lantai atas. Ia membuka kamar seseorang. “Bintang, udah beres belum makannya? Ayo berhenti dulu, kita makan bareng” ajaknya dengan lemah lembut
Bintang adalah adik terakhir Pero yang duduk di kelas 6 sd saat ini. Gadis imut itu tersenyum “Udah bang aku laper nih, masakin ya” ujarnya tersenyum
“Siap ibu Negara” semangat Pero
Saat menuruni anak tangga bersama adik terkecilnya Pero mendengar kerusuhan di bawah sana. “Bang, mamah papah kece dah pulang nih. Wah mereka bawa oleh-oleh gue habisin ah” teriaknya
Pero menatapi adiknya, ia langsung berjongkok dan menyuruh adiknya menaiki punggungnya.”Ayo kita serang si rakus itu aghhh” teriak Pero semangat
“Aghhh” teriak Bintang yang berada di punggungnya
Mamah dan papah Pero nampaknya memang baru sampai. Mereka terlihat lelah tapi sudah diinterogasi langsung oleh Harry. Mereka nampak menyender di kursi.
“Wah asik makan enak nih” teriak Pero
“De de turun de bagian kita diambil semua sama si jelek Harry”
Bintang pun turun perlahan “Wah kurang ajar lu, mau gue bogem?”
“Halah bocah bau kencur kayak lu bisa apa?” jawab Pero
“Agh punya anak kagak ada yang waras ya di rumah ini, perasaan tiap hari itu berisik mulu kek di kebon binatang” teriak ibunya