Wanita Kesayangan Reno

1209 Kata
Menginjak pedal gas dengan sedikit dalam agar segera sampai setelah ia mendapatkan lokasi di mana wanitanya berada. Tempat sepi yang memerlukan waktu cukup lama untuk sampai dari apartemennya yang berada di daerah Jakarta Timur. Reno memarkirkan mobilnya dengan segera begitu sampai di pintu gerbang salah satu pantai Jakarta. Berlari dengan cepat untuk mencari Mega yang saat ini berada di jembatan kayu. Reno mengatur napas dan memindai area sekitar ke kanan dan ke kiri. Mencari sosok wanita yang selama satu tahun terakhir menemani hari-harinya tanpa mau terikat komitmen. Mata Reno memicing saat melihat bayangan wanita yang tengah berdiri menghadap laut lepas. Menyilangkan kedua tangannya di bawah d**a dengan rambut yang terurai indah melawan angin. Reno yakin itu wanita yang dicarinya, Reno berjalan dengan santai menghampirinya. Melepas jaket dan memakaikan pada tubuh Mega yang hanya terbalut kemeja tipis, menyusupkan kedua tangannya pada perut rata Mega dengan sedikit erat. Perasaan yang tidak bisa dijelaskan begitu menyiksa dirinya. "Lagi ngapain, Sayang?" tanyanya setelah beberapa saat hanya menikmati keindahan alam dan keromantisan. "Nyari angin," jawab Mega asal. "Masuk angin yang ada. Pulang yuk," ajak Reno. "Sebentar lagi." Reno tidak lagi menjawab, ia tidak akan bertanya ada apa dengan wanita judes yang akan manja jika hanya bersama orang-orang yang disayanginya. Seperti saat ini anak Sultan yang selalu tangguh itu terlihat rapuh dengan mengunci mulutnya saat Reno dekap dengan erat. "Will u marry, Me?" Mencoba peruntungan Reno mengungkapkan keinginannya untuk menikahi Mega. Reno berharap semoga kali ini Mega mau menerimanya. Semoga pikiran Mega terbuka agar mereka tidak terus menerus melakukan dosa. "No!" Namun, kembali lagi harapan tinggallah harapan, karena pada kenyataannya Mega kembali menolaknya. Persepsi buruk tentang pernikahan tertanam dalam otaknya, bayangan kelam akan hancurnya sebuah hubungan yang direstui oleh Tuhan menjadi titik hilangnya kepercayaan akan sebuah pernikahan. "Why?" "I don't need to explain for a reason." "But i need you, Baby." Reno mendesah pelan saat Mega tidak lagi menjawab. Membiarkan keheningan menyapa mereka berdua dengan pandangan lurus ke depan. Reno hanya akan mengikuti keinginan Mega tanpa pernah membantah. Setelah hanya diam dengan posisi yang sama untuk beberapa saat, tanpa izin terlebih dahulu Reno mengangkat tubuh ideal Mega. Reno tidak mau gadis yang selama satu tahun menjadi kesayangannya itu sakit akibat angin malam. Mega hanya menggunakan kemeja berlengan panjang tipis untuk ukuran malam hari. Reno berjalan dengan tegap sambil menggendong Mega yang kini mengalungkan kedua tangannya pada leher Reno. Mereka sama-sama diam menikmati langkah yang membawa untuk pulang. Menyelami pikiran masing-masing tentang hati dan perasaan yang sesungguhnya. Betapa tersiksa nya menjadi Reno, disaat ia diminta untuk berhenti melakukan kesenangan dunia terhadap wanita, justru wanita yang memintanya tidak mau bertanggungjawab atas apa yang sudah ia mulai. "Mau makan dulu?" tanya Reno setelah mereka sama-sama di dalam mobil. "Makan yang pedes ya." "Udah malem, Neng. Masa mau makan pedes, ntarnya sakit perut." "Ya udah gak usah," balas Mega dengan ketus. "Ya udah oke mau makan apa?" "Seafood yang pedes." "Berangkat!" "Makasih, Abang." Mega bersorak senang, mencium pipi Reno sebagai tanda terima kasih atas keinginannya yang dituruti. Reno mencondongkan tubuhnya pada Mega, mengambil seat belt yang selalu dilupakan oleh wanita cantik bergelar Sultan itu. Mengecup sebentar bibir yang menjadi candu baginya, setelah itu barulah Reno menjalankan mobilnya menuju restoran yang menyediakan menu seafood pedas. Tiga puluh menit untuk sampai di restoran yang diinginkan oleh Mega. Mereka masuk dengan bergandengan tangan layaknya sepasang kekasih. Reno memilih ruangan VIP agar ia bebas mengekspresikan kasih sayangnya pada Mega. Walaupun berkelakuan sedikit kurang waras jika bersama orang-orang yang disayanginya, Reno tetap harus menjaga image cool nya jika di depan umum. Reno paling tidak menyukai jika ada pasangan yang berkasih mesra di depan umum dengan tidak tahu tempatnya, apalagi sampai berciuman. Salah satunya di tempat makan apalagi jika keadaan sedang ramai. Bukan iri ataupun bagaimana, hanya saja terlalu lebai dan menambah dosa orang lain karena pasti akan menjadi bahan perbincangan orang lain. Menurutnya jika di tempat umum berperilaku lah selayaknya manusia normal tanpa perlu menunjukkan kemesraan. Kasihan para jomblo yang harus melihat kemesraan seperti itu. Maka dari itu Reno selalu memilih ruangan VIP agar bebas berkasih mesra. "Modus mulu hidupnya," cibir Mega saat Reno menarik ke ruang VIP. "Biar bebas," balas Reno santai. Mega memesan semua menu yang menurutnya menarik. Mega selalu kalap saat melihat gambar-gambar makanan pada buku menu. Menunjuk asal gambar makanan yang menurutnya enak dengan cepat. Reno hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan wanitanya. Membiarkan Mega menuntaskan keinginannya untuk makan banyak, karena makanan merupakan salah satu obat untuk penghilang stres bagi Mega. Memiliki bentuk tubuh elastis membuat Mega tidak pernah takut badannya akan melebar. Sebanyak apapun makanan yang masuk ke dalam tubuhnya tidak akan merubah tubuh seksi dan ideal milik Mega. Entah ke mana larinya semua makanan yang sudah disantap habis olehnya. Salah satu anugerah Tuhan yang sangat diinginkan oleh para wanita. "Makannya pelan-pelan, Neng." Melihat Mega yang makan seperti orang kelaparan membuat Reno khawatir ia akan tersedak. Mega jenis perempuan yang tidak memikirkan omongan orang lain. Terlahir kaya sedari dalam kandungan membuatnya memiliki rasa percaya diri yang sangat bagus, juga ia akan tetap terlihat cantik dan elegan apapun yang ia lakukan. Bahkan untuk cara makannya yang seperti orang tidak makan tiga hari. "Ini Enak, Bang. Cobain deh." Mega mengangsurkan cumi dengan bumbu pedas melalui tangannya, meminta Reno untuk mencicipi salah satu seafood favoritnya. Reno membuka mulutnya, mengunyah sebentar dan coba menikmati makanan yang kata Mega enak. Wajahnya memerah karena rasa pedas yang dirasakan oleh lidahnya. Reno memang tidak bisa makan pedas, paling banyak tiga buah cabai untuk olahan masakan dalam makanan. "Pedes, Neng. Abang gak kuat." Reno berkali-kali menyedot coke float yang ada di hadapannya, juga lidahnya yang beberapa kali ia keluarkan dan tiup untuk menghilangkan rasa pedasnya. "Cemen ih," balas Mega santai dengan tetap menikmati makanan pedasnya. "Ini yakin abis?" "InsyaAllah." Kepiting, cumi, udang, kerang yang semuanya di masak menggunakan bumbu pedas, juga sup ikan salmon yang juga pedas dengan sepiring nasi adalah pesanan Mega. Sedangkan Reno sendiri hanya memesan sup ikan gurame kuah bening dengan cabe utuh sebanyak lima biji. Cabe yang akan ia pecahkan jika menginginkan sedikit rasa hangat dari sup yang ia pesan. *** Di restoran yang sama ruangan reguler, Risya melihat dengan jelas bagaimana dua pasangan dengan tingkat keserasian yang sangat tepat dari segala aspek memasuki ruangan VIP. Berjalan dengan mesra layaknya seorang Putri dan Pangeran yang mampu menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Reno dengan ketampanannya walaupun hanya memakai celana pendek selutut yang dipadukan dengan kaos lengan pendek, berdampingan dengan Mega yang juga memakai kemeja berbalut jaket dan celana jeans. Orang kaya itu bebas, tanpa malu dengan pakaian yang menurut orang sekitar tidak cocok untuk memasuki restoran mewah dengan ruangan VIP, tapi mereka tetap santai dan percaya diri dengan penampilannya itu. Risya menatap iri pada wanita yang digandeng dengan mesra oleh Reno. Perasaan yang tidak pernah berubah sedari dulu pada playboy cap karet itu membuat Risya menjadi ilfil, entah pada Reno atau justru pada dirinya sendiri yang tidak bisa menghilangkan perasaan menjijikan itu. Antara rasa suka dan rasa benci begitu bentrok dalam hati dan pikirannya. Hatinya masih sangat menyukai sosok tampan bergelar playboy itu. Namun, pikirannya begitu membenci dengan apa yang pernah Reno lakukan terhadapnya di masa lalu. Seandainya bisa, Risya ingin menghilangkan rasa suka itu pada Reno, dan memilih rasa benci saja, agar ia tidak harus berkaitan dengan manusia yang merasa sempurna itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN