Bussiness Trip Planning

1012 Kata
Mediasi tim inti berjalan dengan sangat baik, yang kini membuat Luna langsung membuat timnya sendiri untuk merencanakan perjalanan bisnis ke Indonesia. Mulai dari akomodasi, sampai perjanjuan kerja sama. Ia mengurus semuanya, karena Trevor diminta Randi untuk mengerjakan perjanjian khusus terhadap Hardinata Fashion and Makeup Corporation. Perusahaan dari Rudi, ayah kandung Becca. Sekaligus, perusahaan inilah ujung tombak dari semua perencanaan serta eksekusi yang akan dilakukan oleh Luna, "Miss Luna, saya dapat message dari Miss Becca. Dia menanyakan agenda apa yang akan dikerjakan oleh Randi untuk satu minggu kedepan." Jelas Steff, staf tim manajemen, yang digandeng oleh Luna menjadi tim inti dirinya. Luna langsung menegaskan pada Steff agar membalas pesan Becca terlebih dulu, dengan informasi yang bisa ia minta dari Trevor. Karena semenjak kepergian Becca ke Jakarta, semua tugas Becca dilimpahkan pada Luna bersama Trevor. Dan Becca hanya menangani agenda perihal pertemuan virtual dengan beberapa pemimpin perusahaan di anak cabang, dan para owner Restoran yang berada di naungan Rfood Corporation. Sehingga itu semua membuat konsentrasi Luna terpecah belah, karena dirinya diharuskan multifungsional, padahal divisinya yang sebenarnya ialah HRD, atau personalia. "AARRGGGGHHH" Luna mengerang, hingga semua orang di ruangan menoleh padanya, "Ada apa, Miss?" Namun, pertanyaan itu diacuhkan olehnya. Karena ia sudah berjalan keluar ruangan dengan kegusaran, serta cibiran terhias sepanjang jalan. BRGGGK' "Kau kenapa si? Tidak bisakah menunggu untuk melakukan hal bersifat individual? Come on, Trevv." Pekik Luna, dengan suara meninggi dan tangan yang bergerak kesana-kemari, seolah memprotes pada Trevor, yang sedang terkejut di posisinya. Entah apa yang membuatnya begitu, apakah suara dari pintu yang dibanting oleh Luna tadi, ataukah suara tinggi Luna yang baru ia ketahui. Tidak mau berlama-lama terkejut, Trevor menghampiri Luna yang masih dengan raut wajah marah. "Maaf, tapi aku hanya tidak mau kau melupakan makan siangmu, Lun..." Kata Trevor, dengan membelai pipi Luna. Perlahan amarah Luna menurun sedikit demi sedikit, akibat perlakuan dari Trevor, hingga membuatnya bisa duduk bersantai seperti ini. "Akutuh cape, Trev. Aku menyesal, tapi semua itu terlambat kan, ya?" Ucap Luna, dengan kepala yang ia sandarkan pada Trevor. Mengadu keluh kesah, beban, hingga umpatan yang tertuju jelas untuk Randi, orang yang membuat dirinya dan Trevor tidak mempunya waktu lebih untuk bertemu di luar. Maklum saja, namanya juga pasangan kekasih yang baru menjajaki dunia indah yang sering disebut "Cinta" Hingga mereka terbuai akan kesibukkan masing-masing, dan sedikit menaikkan ego untuk melupakan sejenak dunia kerja. Akan tetapi, mereka berdua sangat mengetahui jika semua itu tidak bisa dilakukan, karena baik Luna dan Trevor, adalah seorang pekerja profesional yang sangat menggenggam janji demi mencapai tujuan dari projek yang sedang dijalankan. "Nanti kita liburan ya...." Trevor tersenyum pada Luna. "Kemana, Trevv? "Ke Indonesia, kan sekalian kerja...." Trevor langsung terbahak-bahak, seolah sangat puas karema berhasil mengecoh Luna, dengan ajakan liburan. Yang padahal, Luna sendiripun sudah tahu jika mereka akan pergi ke Indonesia. "Sudahlah, Trevv. Emang kamu gak jelas." Kikih Luna, seraya bangkit dari posisinya. "Mau kemana?" Taham Trevor. "Mau ngerencanain liburan nih, biar perfect." Balasan itu membuat Trevor kembali terbahak, seraya melambai dan memberi semangat pada sang kekasih yang harus menyelesaikan banyak kerjaan di depannya. ** Becca yang sedang menunggu depan laptop, untuk rapat virtual dengan beberapa sekretaris Randi, yang seharusnya dimulai pukul 3 sore. Namun dirinya sudah bersiap dari jam setengah 2, karena dirinya yang harus mencocoka dengan waktu Singapore, yang lebih cepat 1 jam dibanding Jakarta. Jadi mau tidak mau, Beccalah yang harus menyocokkan jadwal dengan semua permasalahan yang ada. Dan belum lagi, masalah utama yang harus diselesaikan lebih cepat, agar dirinya bisa kembali ke Singapore, lebih cepat juga. "Hallo, Miss Becca." "Miss Luna?" Becca kebingungan dengan wajah Luna, yanh ada di layar monitornya, bukan beberapa sekretaris yang biasa ia kenal. "You know, setelah kau ke Jakarta, aku yang jadi PA nya Randi, Becc." Tanpa sadar, dirinya menggunakan bahasa informal pada Becca, karena terbawa suasana lama di Singapore. "Eiii, menyusahkan sekali dia dan diriku ya, Lun. Maaf," Kikih Becca. "Lantas, divisi personalia gimana, Lun?" Luna langsung memgacungkan ibu jarinya, saat mendengat ucapan dari Becca, seolah memberi kode jika semuanya baik-baik saja, "Sudah, kau tidak usah memikirkan masalah di sini. Kau happy ajaa liburan di sana." Jelas Luna. Yang langsung dibalas oleh acungan ibu jari kembali oleh Becca, "Jadi, jadwalku bagaimana, Lun? Atau ada sesuatu yang diubah atau mungkin hal lain?" Tanya Becca. Membuat Luna langsung membuka mulut, serta menjelaskan semua rencana yang kemarin ia ketahui dari Randi, yang secara tidak langsung membutuhkan bantuan Becca, untuk melakukan pertemuan pendahuluan, sebelum kedatangan mereka ke Indonesia. "Serius? Omaygatt. Berarti, aku sama Randi selama 2 minggu gak akan LDR ya, Lun?" Becca malah salah fokus, membuat Luna menyeringgai. "Dasar buceeen." "Kaya kau tidak aja, Lun." Mereka saling berbalas godaan dengan sangat hangat, layaknya teman dekat yang sudah saling mengenal luar dalam. Meninggalkan Becca dan Luna yang sedang asik bercengkrama, padahal seharusmya bekerja. Kita beralih pada restoran tempat Riam bekerja, yang entah mengapa ia rasa tidak aman. Seolah ada mata yang selalu mengawasi gerak-geriknya, setelah ia mendapatkam kabar rekan di gedung imigrasi yang di rumahkan, akibat perlakuan tercelanya. Membuat Rian yang sudah 3 hari ketakutan, akan didatangi oleh polisi dan bernasip sama dengan orang itu. Dirinya tidak mau dipenjara, atau dirumahkan dari semua tempat kerjanya. Atau bahkan terdeportasi dari Singapore, yang berarti ia harus kembali ke Turkey. KRING' "Mr.Rian?" 'Shitt..' batinnya mengumpat, sebelum melihat orang yang memanggilnya. "Hey! Mr. Rian?!" Tegas orang tersebut yang semakin mendekati Rian, di meja kasir. Sesaat sebelum menoleh, ekor matanya mendapati jika ada wajah yang dikenali olehnya. "Omaygat, Mr. Hans. Apa kabar?...." Kata Rian, dengan perasaan sangat terkejut, sekaligus lega saat mendapati ternyata bukan polisi yang mendatangi dirinya. Mungkin ini hukuman bagi orang-orang seperti Rian, yang ketakutan akan balasan atas tindakan yang sudah ia perbuat sendiri. Membuat kehidupannya seolah tidak aman, karena rasa bersalah tersebut. Dan apalagi, dirinya masih belum berbicara apapun dengan Becca, atau mengakui kesalahannya apa. Yang mungkin saja, jika ia melakukan iti semua, bisa membuat hukuman yang akan ia terima sedikit ringan, karena Becca mengetahui kesalahannya dari mulut Rian sendiri, dan Becca juga bisa merasakan rasa bersalah dari Rian tersebut. Mungkin, dan ini semua hanyalah kemungkinan yang dibicarakan oleh Suzy semalam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN