Ruang briefing Wing Airways pagi itu terasa berbeda. Bukan karena layout nya berubah, bukan juga karena layar digital di dinding menampilkan jadwal baru. Tapi karena atmosfernya ringan, hangat, dan penuh rasa lega yang tidak diucapkan. Nick melangkah masuk lebih dulu, seragam kaptennya kembali melekat rapi di tubuh. Badge emas di d**a kirinya berkilau, seolah menegaskan satu hal ‘ia kembali di tempat yang seharusnya’. Tania menyusul di sampingnya. Begitu kaki mereka menjejak lantai ruang briefing, suara tepuk tangan pecah tanpa aba-aba. Awalnya ragu, lalu semakin ramai. Beberapa FO berdiri dari kursi mereka, kru kabin tersenyum lebar, bahkan ada yang bersiul kecil sebelum menutup mulut, sadar ini masih area kerja. Tapi ekspresi mereka jujur. lega, bahagia, dan bangga. “Welcome back

