Dari bandara, Nick tidak langsung pulang ke apartemennya. Malam itu ia memilih bertemu dengan Ivan, kakak iparnya, di sebuah kafe yang hangat dan cozy. Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul dua puluh satu lewat lima belas menit. Begitu melangkah masuk, tatapannya langsung menangkap sosok Ivan yang sudah duduk di sudut ruangan, melambaikan tangan dengan senyum tipis. “Sudah lama nunggu?” tanya Nick sambil menarik kursi dan duduk di hadapan Ivan Tak lama, pelayan datang. Nick memesan segelas Americano, lalu kembali fokus pada Ivan setelah pelayan itu berlalu. Ivan melirik arlojinya sekilas. “Belum juga,” jawabnya santai. Namun matanya kemudian jatuh pada lengan Nick yang terbalut perban. “Kamu kecelakaan?” tanyanya, nada suaranya berubah serius. Nick menggeleng pelan, lalu mula

