Cinta yang Diperalat

1000 Kata

“Gagal?” Teo menatap bawahannya satu per satu, rahangnya mengeras. “Menghadapi satu orang saja nggak becus?” gumamnya dengan nada dingin. “Tuan, ternyata dia bisa bela diri. Setelah itu, keamanan bandara datang dan kami hampir tertangkap. Untung kami cepat kabur,” jelas salah seorang bawahannya. Teo mengangguk pelan. ‘Tenang… aku nggak boleh marah. Amarah bisa bikin semua rencana berantakan,’ batinnya. Beberapa menit kemudian, Ralin masuk dengan wajah lelah. Tatapannya langsung jatuh pada beberapa pria berpakaian hitam yang masih berdiri di ruangan. “Mereka siapa, Pa?” tanyanya sambil menunjuk ke arah orang-orang itu. Teo tidak langsung menjawab. Ia hanya mengibaskan tangan, memberi isyarat agar bawahannya segera pergi. Ralin mendengus kecil, lalu duduk di sofa. “Pa, mereka itu prema

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN